Solok Selatan Destinasi Kayaking Kelas Dunia

Solok Selatan Destinasi Kayaking Kelas Dunia

Hiden Paradise for world class Kayaker

Hiden Paradise for world class Kayaker

Empat orang Kayaker Internasional yang tengah mengikuti kegiatan survei dan eksebisi kayak arus deras di Solok Selatan menyatakan, wilayah yang dikenal sebagai Negeri Seribu Rumah Gadang memiliki sungai-sungai dengan kualitas kelas dunia untuk menjadi destinasi wisata kayak arus deras (Whitewater Kayaking). Sehingga tak pelak sebutan buat Solok Selatan bertambah satu lagi menjadi Negeri Seribu Sungai.

Empat orang kayakers tersebut adalah Celliers Krueger, CEO Fluid Kayaks, produsen kayak nomor tiga terbesar di dunia. Direktur Gravity Adventure Andrew Kellet. Direktur Whitewater Training, Safety & Rescue Hugh du Preez. Fotografer dan Penulis portal berita kayak paling berpengaruh di dunia, sekaligus juga admin dari situs Playak.com, Adrian Tregoning. Keempatnya mengikuti kegiatan survey dan eksebisi yang terselenggara berkat kerja sama antara Dinas Kebudayaan Pariwisata Solok Selatan dan Komunitas Kayak Tirtaseta. Meskipun kegiatan survey belum berakhir dan baru berjalan dua pertiga dari yang dijadwalkan, para kayaker internasional sudah berani memastikan kelayakan dan kelas Solok Selatan sebagai destinasi wisata dunia.


Tidak meragukan lagi, Solok Selatan excellent sebagai destinasi whhitewater kayaking kelas dunia. Sungai-sungainya indah, menantang, view mempesona, hutannya masih lebat dan daya tarik budayanya luar biasa. Daya tarik dan keunikan Solok Selatan dapat menjadi nomor satu di dunia bila dikembangkan secara profesional,” kata Andrew Kellet, salah satu kayaker ekstrem terbaik asal Afrika Selatan yang biro perjalanannya Gravity Adventure menjual paket wisata kayak dan arung jeram ke pasar dunia.

Komentar senada juga dikemukakan oleh Direktur Whitewater Training Hugh du Preez. “Sungai-sungai di Solok Selatan memiliki gradien yang curam, pasokan air yang cukup karena didukung hutan lebat yang masih utuh. Praktis, kegiatan kayaking di wilayah ini memiliki efek mencandu,” kata Du Preez yang beberapa kali mengulang jalur penyusuran karena merasa sangat menikmati pengarungan di Solok Selatan. Hugh usul agar dibuatkan cerita singkat tentang Rumah Gadang, kenapa dan bagaimana, kenapa Raja di Solok Selatan ada empat sementara dimana-mana selalu hanya ada satu raja… Para eksekutif yang datang dengan biaya sendiri ini lebih suka memilih tinggal dan menginap dirumah penduduk. Dengan begitu membuat mereka lebih merasa dekat dengan budaya lokal untuk dipelajari. Apalagi Rumah Gadang ini sangat unik buat mereka. “Kalau kami tinggal di Hotel dan makannya dikasih Mac Donald, kami tidak perlu jauh-jauh datang ke Solok Selatan ini…”, tambah Hugh yang ternyata suka Goreng Balado Jengkol, Sate Padang dan Duren ini.
Hari ketujuh

Dari Solok Selatan, Ketua Komunitas Kayak Tirtaseta yang mengorganisasi kegiatan kayaking itu mengatakan, pada Senin (23/11,) Tim Tirtaseta bersama dengan tim kayaker internasional, telah memasuki hari ketujuh survey. “Hari ini kami bersama seluruh anggota tim akan mengarungi Sungai Batang Bangko. Ini kemungkinan akan menjadi trip terakhir sebelum acara photo sessions dilakukan pada 25 dan 26 November,” kata Toto.

Sebelumnya, Tim Tirtaseta bersama dengan empat kayaker internasional telah menyelesaikan

lima buah ‘first descent’ kayaking trip atau pengarungan sungai pertama kali dengan kayak ke beberapa jalur yang telah direncanakan, yakni Sungai Batang Liki bagian bawah (Lower Liki), Batang Liki Atas (Uper Liki), Sungai Empat Tangsi Atas (Uper Tangsi), Sungai Batang Sangir Atas (Uper Sangir), dan Sungai Batangsangir Bawah (Lower Sangir).

Pengarungan di Sungai Batang Bangko, menurut Toto, diperkirakan akan berlangsung satu hingga dua hari tergantung perkembangan di lapangan. Dalam pengarungan tersebut belum adapeta yang detail, mengingat survei tersebut merupakan program untuk mengeksplorasi dan merintis, serta mendata. “Jadi, ini murni kegiatan pionir. Kami dan para tamu internasional berterima kasih kepada Disbudparpora Solsel yang sudah menyiapkan sketsa awal yang sangat membantu di lapangan. Dengan peta awal tersebut semuanya menjadi lebih mudah untuk titik tolak,” kata Toto.
Terkait dengan kesan-kesan yang dialami selama trip, Toto mengatakan, “Semua kayaker internasional menyatakan kepuasan dan kekaguman mereka atas sungai-sungai di solok Selatan. Dan mereka tidak hanya menyatakan akan kembali ke Solok Selatan, tetapi memiliki rencana lebih besar untuk mengembangkan wilayah Negeri Seribu Rumah Gadang ini sebagai destinasi. Ini sungguh menggembirakan dan membangggakan,” kata Toto.
Tokoh pariwisata Sumbar kelahiran asli Solok Selatan, Nofrins Napilus mengatakan, pihaknya merasa bangga apa yang dirintisnya mulai memberikan gambaran cerah. Bermula dari memotret beberapa jeram, air terjun, dan sungai-sungai di Solok Selatan 5 tahun lalu bersama fotografer Guntur Primagotama, Nofrins kemudian memposting foto-foto hasil jepretannya itu pada situs fotografi pariwisata West-Sumatra.com yang ia miliki. Dari sanalah semuanya berawal. Tidak hanya itu, Nofrins yang punya latar belakang geologi ini dengan yakin sejak beberapa tahun lalu, sudah duluan mencantumkan simbol arung jeram di peta pariwisata Sumbar untuk titik di daerah Solok Selatan.
Beberapa tahun setelah itu, Ketua Komunitas Kayak Tirtaseta, Toto Triwindarto melihat foto-foto hasil jepretan Nofrins dan Guntur di West-Sumatra.com dan terjadilah komunikasi intensif. Nofrins lantas mengenalkan Toto Triwindarto kepada Kadisbudparpora Kab Solok Selatan, DR Yul Amri. “Kebetulan sekali, Pemda Sol-Sel katanya juga sudah ada niat untuk kesitu tapi belum menemukan partner yang cocok untuk pengembangannya. Kini, rencana sudah berkembang cukup jauh. Anggaran penunjang fasilitas olah raga ini sudah disetujui DPRD dan masuk ke Anggaran 2010,” kata Nofrins yang selama ini dikenal sebagai pionir dan figur yang tidak kenal lelah dalam mempromosikan pariwisata Sumbar, tidak hanya ke level nasional tetapi juga internasional. “Mungkin pertanyaan menarik untuk kita pertimbangkan, mengapa bule-bule dedengkot kayak dunia asal Afrika Selatan tersebut mau terbang jauh sampai ke pedalaman Solok Selatan..? Selama ini mereka belum pernah tertarik masuk ke Asia Tenggara. Padahal sudah banyak lokasi-lokasi di Indonesia yang sudah cukup dikenal untuk olah raga arus deras ini. Apakah dengan begitu mudahnya mereka lalu menyatakan bahwa sungai-sungai di Solok Selatan termasuk World Class Rivers for Kayaking..?”.
Sedangkan Kepala Disbudparpora, DR. Yul Amri menyatakan gembira melihat perkembangan terakhir yang dicapai oleh hasil survei tersebut. “Memang survei masih berjalan dan nanti hasil akhirnya akan dilaporkan secara resmi dan tertulis oleh tim survei, yakni Komunitas Kayak Tirtaseta. Tapi melihat komentar dari tamu kayaker internasional kami optimistis bahwa Solok Selatan ke depan akan menjadi destinasi wisata khusus kelas dunia,” kata Yul Amri.

Dan melihat perkembangan awal yang sangat menarik ini, Yul Amri atas nama Pemda Kabupaten Solok Selatan telah menyiapkan sebuah event internasional pada November 2010 nanti, yakni INTERNATIONAL KAYAKING FIESTA. “Event kayaking ini akan digabungkan dengan berbagai atraksi budaya lokal. Kami mengharapkan dukungan berbagai pihak demi terselenggaaranya kegiatan tersebut secara sukses. termasuk dukungan dari kawan-kawan media,” kata Yul Amri.

 

Sementara itu, Wakil Bupati Kabupaten Solok Selatan, Drs. Nurfirmansyah, Apt., MM., setelah mendengarkan laporan tim survey dan eksibisi, dalam jumpa kayakers yang berlangsung hangat dalam dwi-bahasa Jumat 20 Nov 2009 lalu, menyampaikan dukungan dan harapannya: “Semoga ke depan Solok Selatan masuk ke dalam peta wisata kayak dunia…”.

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

DR. Yul Amri : 0819 754 7720 – y_amri@yahoo.com

Toto Triwindarto : 0813 7449 2464 – tirtaseta@yahoo.com

Nofrins Napilus : 0811 91 8008 – info@west-sumatra.com

Darul Makmur: +6221 99979477 – darul.tda@gmail.com

Sepak Tekong

Lah sampai sagaek ko, Sabai Nan Aluih baduo jo adiaknyo nan banamo Mangkutak Alam tu tatap se suko main sipaktekong. Dulu, kutiko ketek-ketek, tekong nan barisi kareke tu, dicampak an jauah-jauah dek si Sabai. Samantaro Mangkutak maambiak tekong tu, Sabai pai manyuruak ka dalam samak. “Tando aniang tando alah!” sorak Mangkutak sambia mancari-cari di ma Sabai manyuruak.

 

Kini, panyakik main sipaktekoang bangkik puo baliak.. Sipaktekong gaya reformasi. Sabai Nan Aluih indak mancampak an tekong barisi kareke lai doh, tapi manyebar isyu. Buni tekong barisi kareke nan kareh tu, kini diganti dek Sabai jo isyu nan diserak an ka saluruah nagari. Kutiko Mangkutak lansia ka ilie ka mudiak mancek kabaranan isyu nan dipaserak-serak an tu, aniang-aniang Sabai pai bajalan-bajalan ka lua nagari.

 

Baitu pulo kutiko ado pakaro. Mangkutak dituntuik dan disidangkan di pengadilan. Kutiko hakim mamutuih an hukuman, Mangkutak mancari Sabai ka ilie ka mudiak. Mangkutak ruponyo indak namuah pulo pai mamanuhi panggilan pengadilan. Inyo ilang. Saroman dulu pulo, kutiko giliran Sabai mancari-cari Mangkutak di dalam samak, tanyato Mangkutak bakaruah di bawah kandang rumah gadang.

 

Kutiko Mangkutak disuruah pai ka lua nagari mancari urang nan namuah mampautangan pitih, ciluih Mangkutak kanampak an. Pitih nan diparaluan kutiko tu cuma limo juta tapi Mangkutak manyalang pitih urang limopuluah juta. Labiah pitih tu nyo bagi-bagian dek Mangkutak ka dunsanak-dunsanaknyo.

Sabai heboh dek karano banyak bana pitih nan nyo salang tapi nan dipaguan tu cuma saketek. Sabai samakin heboh, dek karano inyo indak mandapek apo-apo doh. Malapeh hao. Indak dapek pambagian sarimih juo dari Mangkutak.

 

“Mang. Bila awak ka baranti main sipaktekong saroman ko ha?” tanyo Sabai.

 

“Baranti? Maa bisa! Indak usye ye! Ondeh ciak oi. Kini lah sado urang main sipaktekong. Manga awak musti baranti?” umbuak Mangkutak.

 

“Banyak pulo urang nan main sipaktekong saroman awak yo? Sia sia tu urang nan main sipaktekong kini ko?” tanyo Sabai icak-icak urang handia.

 

“Persoalan kapeka. Persoaan bank senturi. Persoalan urang baradiak kakak Anggoro jo Anggodo. Cubo pikie dek aciak. Lai ka mungkin sagalo persoalan tu indak bisa disalaiana. Manuruik pepatah muyang awak, kalau persoalan kusuik diujuang, dicari baliak ka pangkanyo. Kan baitu ndak?” jawek Sabai.

 

“Agak hati den, persoalan ko sangajo dipagaang-gadang hanyo untuak mailak dari tangguang jawab kama painyo pitih nan dipakai salamo ko,” kato Mangkutak.

 

“Bisa jadi. Urang kini kan canggih. Cangok, gigiah!” solo Sabai.

 

“Iyo baitu. Kini ko kwitansi nan hanyo karateh salai tu, bisa pulo maubah angko-angko pitih bak kato hatinyo surang. Apo lai urang,” baleh Mangkutak.

 

“Antahlah diak oi. Indak tahu den lai apo nan musti kadipabuek. Sabab, antaro bana jo indak, untuang jo rugi, nan ka manangguangan kan rakyaik badarai roman kito ko juo,” kato Sabai.

 

“Nan main sipaktekong inyo, nan kanai bae dek tekong barisi kareke tu awak.”

 

 

“Tapi kini indak baitu urang main sipaktekang lai doh, Mang,” kato Sabai.

 

“Baa caronyo lai?” tanyo Mangkutak.

 

“Kini indak ciek tekoang dipakai untuak main sipak tekoang doh Mang. Banyak.

Ai baeoan tekoang nan partamo ka dalam samak. Waang pai mancari. Beko Ai baeon pulo tekoang nan kaduo. Waang pai pulo mancari. Sudah tu Ai baean pulo tekoang nan ka tigo. Waang binguang. Tantu timbua pikiran waang, nan ma nan sabana tekoang nan dipagunoan untuk main sipak tekoang tu?” kato Sabai.

 

“Iyo galie aciak mah. Kecek urang kini, memang pandai aciak mamalusuan persoalan. Nan ma persoalan sabananyo dan nan ma nan indak.

 

(Wisran Hadi)

http://padang-today.com/index.php?today=kakobeh&id=109

Kayaker Internasional Incar Solok Selatan
Sebagai Destinasi Wisata Petualangan

Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat mulai diincar oleh para aktivis Kayak Arus Deras atau Whitewater Kayaking sebagai tempat tujuan wisata petualangan. Karena, daerah ini memiliki sungai-sungai yang bervariasi dan berarus deras yang sangat ideal sebagai tempat petualangan kayak arus deras. Terutama jeram-jeram dan air terjun yang sangat menantang buat para penggemar kayak kelas berat.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Solok Selatan, DR. Yul Amri, mengungkapkan hal itu kepada pers di Padang Aro, Solok Selatan, kemarin.
Sungai-sungai di wilayah kami memiliki tingkat kecuraman ideal bagi kegiatan kayak dan arung jeram. Dari yang mudah, sedang, hingga yang ekstrem semua ada di Solok Selatan. Itu menarik aktivis kayak internasional untuk mengunjungi kabupaten kami“, kata beliau.
Potensi itu, kata DR. Yul Amri, tidak akan disia-siakan. Untuk itu, pihaknya telah merancang sebuah program untuk menjadikan Solok Selatan sebagai destinasi wisata kayak dan arung jeram. Keseriusan Pemda Kabupaten Solok Selatan terlihat dengan telah dimasukkannya anggaran untuk menunjang olah raga ini ke dalam APBD 2010.

 

Sebagai langkah awal, pihaknya telah melakukan survei potensi sungai beberapa waktu yang lalu. Survei itu akan dilanjutkan lagi dengan Survei dan Eksibisi Kayak.

 

Survei akan digelar mulai 18 – 24 November 2009. Survei itu akan dilakukan bekerja sama dengan Komunitas Kayak Tirtaseta, sebuah kelompok yang selama ini dikenal aktif menggeluti kegiatan kayak arus deras di tanah air.

 

Selanjutnya, pada 25 – 26 November 2009 akan dilaksanakan sebuah kegiatan Photo Sessions yang diperuntukkan bagi para fotografer. Dalam kegiatan photo sessions tesebut, para kayaker akan melakukan eksibisi dengan mengarungi sungai-sungai yang memiliki tantangan dan pemandangan menarik. Sedangkan para fotografer diberikan kesempatan untuk memotret aksi para kayaker di sungai-sungai terpilih yang telah disurvei pada 18-24 November. Acara photo sessions itu akan berlangsung atas kerja sama dengan situs fotografi pariwisata: www.West-Sumatra.com.

 

Sebuah foto yang baik dapat bercerita lebih kuat dari sejuta kata-kata. Melalui foto, para kayaker internasional akan mengenal daya tarik wisata kayak di Solok Selatan yang luar biasa menantang dan masih perawan alamnya. Kelak hasil jepretan para fotografer akan dimuat di West-Sumatra.com dan situs-situs dunia lainnya“, kata Nofrins Napilus, tokoh pariwisata Sumbar yang juga pemilik West-Sumatra.com dan Ketua Bidang Pariwisata DPP HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia).

Kayaker Internasional

Sementara itu, Ketua Komunitas Kayak Tirtaseta, Toto Triwindarto, mengatakan, atas mandat yang diberikan oleh Pemda Solok Selatan, pihaknya telah mengundang para kayaker internasional untuk datang ke Solok Selatan. “Sesunguhnya, setelah

mereka melihat foto-foto sungai-sungai di Solok Selatan melalui situs www.west-sumatra.com, mereka banyak sekali yang ingin berkunjung ke Solok Selatan. Tetapi, mengingat ini belum merupakan event resmi dan baru pada tahap survei, kami sementara ini masih melakukannya secara terbatas dulu“, kata kayaker yang memililiki pengalaman dan sertifikat kayak dan arung jeram dari Selandia Baru dan Kanada tersebut.

Menurut Toto, ada 4 (empat) orang kayaker luar negeri yang telah berkomitmen dan menyatakan konfirmasi menghadiri acara survei dan eksibisi yang telah dijadwalkan. Mereka akan mendarat di BIM (Bandara Internasional Minangkabau) pada hari Sabtu 14 November 2009 jam 20.40. Di BIM akan ada pengalungan bunga untuk tamu istimewa tersebut oleh Uda & Uni Solok Selatan sebagai bentuk ungkapan kehangatan sambutan di Ranah Minangkabau.

 

Mereka para kayaker yang memiliki reputasi di dunia kayak internasional. Mereka juga  entepreneur yang siap membantu mengembangkan wisata petualangan kayak di Solok Selatan“, kata Toto. Selain itu, 2 orang dalam rombongan itu juga terdapat fotografer dan penulis khusus wisata kayak arus deras yang akan memotret dan mempromosikan kegiatan kayak arus deras di Solok Selatan ini ke media-media di dunia internasional.
Toto berharap agar kegiatan survey dan eksibisi kayak di Solok Selatan berlangsung sukses dan memberikan kontribusi positif untuk mewujudkan visi Solok Selatan sebagai destinasi Wisata Kayak dan Arung Jeram di Indonesia. Sekaligus ikut mendukung Visit Indonesia Years di tahun-tahun mendatang. Terima kasih…

 

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

DR. Yul Amri : 0819 754 7720 – y_amri@yahoo.com

Toto Triwindarto : 0815 680 6771 – tirtaseta@yahoo.com (0813 7449 2464)

Nofrins Napilus : 0811 91 8008 – info@west-sumatra.com

 

Ini hanya contoh foto-foto olah raga Kayak di luar negeri, diambil dari Internet.

Wisata Solok Selatan

Solok Selatan Mamabangkik Pariwisata

Tuah Banagari

Darimano asa titiak palito

Dibaliak telong nan batali

Darimano asa nenek moyang kito

Dari puncang gunuang Marapi

 

Ka bukik samo mandaki

Ka lurah samo manurun

Barek samo dipikua

Ringan samo dijinjiang

Sahino samalu

 

Kaluak paku kacang balimbiang

Tampuruang lenggang lenggangkan

Dibaok nak urang ka Saruaso

Anak dipangku kamanakan dijinjiang

Urang kampuang dipatenggangkan

Jago nagari jan binaso

 

Mandapek samo balabo

Kahilangan samo marugi

Maukua samo panjang

Mambilai samo laweh

Baragiah samo banyak

Manimbang samo barek

 

Nan ado samo dimakan

Nan indak samo dicari

Hati gajah samo dilapah

Hati tungau samo dicacah

 

Parang suku samo dilipek

Parang samun samo dihadok-i

 

Tibo badunsanak, dunsanak dipatahankan

Tibo bakampaung, kampuang dipatahankan

Tibo banagari, nagari dipatahankan

Tibo babangso, bangso dipatahankan

 

Adat hiduik tolong manolong

Adat mati janguak manjanguak

Adat lai bari mambari

Adat indak baselang tenggang

 

Nan kuriak iolah kudi

Nan merah iolah sago

Nan baik iolah budi

Nan indah iolah bahaso

 

Kuek rumah dek basandi

Rusak sandi rumah binaso

Kuek bangso karano budi

Rusak budi bangso binaso

 

Koknyo kusuik-kusuik bulu ayam

jo paruah disalasaikan

biduak lalu kiambang batauik

Elok nagari dek Pangulu

Elok tapian dek nan mudo

 

Nan cadiak candokio

Nan arif bijaksano

Nan tau diduri nan kamancucuak

Nan tau dirantiang nan kamanyangkuik

Tau diangin nan basiru

Tau diombak nan badabua

Tau dikarang nan baungguak

Tau dipasang nan turun naiak

Tau jo ereng nan jo gendeng

Tau jo kieh ujuang kato sampai

Alun takilek alah takalam

Takilek ikan dalam aia

Lah jalen jantan batinonyo

Tau dicupak nan duo

Paham dilimbago nan sapuluah

Penanganan Dampak Gempa Sumbar terkait Bangunan Tahan Gempa

Tulisan ini adalah berupa kutipan dari  presentasi nan SANGAR yang disampaikan oleh Pak Teddy Boen di Dirjen Dikti pada tangal 12 Oktober 2009.  diharapkan kita dapat memfoloow up butir2 ini demi ranah kedepan.

berikut ini adalah hasil search di Mak Google, siapa betul Pak Teddy ini. Salah satu yg tertulis di situs WHO:

“Teddy Boen, a structural engineer from Indonesia, is a senior adviser for the World Seismic Safety Initiative and a former director of the International Association for Earthquake Engineering. He has worked as a consultant for The World Bank, the United Nations and NGOs involved in reconstructing Aceh and Java.”

Berikut ini kutipan yang diambil dari milis SMA 1 bukittinggi:
Malam ini di Kantor Dirjen Dikti, Depdiknas, Bpk TEDDY BOEN, ahli gempa pertama di Indonesia selama 40 thn lebih, umur sekarang 75 tahun, yg selalu hadir paling lambat hari ke-2 disetiap lokasi gempa, telah membukakan mata kita akan beberapa hal paling penting:

1. Kenapa Masyarakat setiap ada gempa harus takut dan lari keluar rumah? Karena bangunan Rumah dan kantor kita tidak pernah dibuat TAHAN GEMPA dan certified… ! Baik bangunan yang egineered maupun non-engineered.

2. Gempa yang kemaren sebetulnya bukan kelas yang besar. Buktinya furnitur2 tidak banyak bergeser dari tempatnya semula. Bangunan kita ambruk karena “penulangan” konstruksi bangunan yang SALAH…!

3. Kalau dalam gempa hanya merusak rumah rakyat, kita bisa tenang2 saja. Sekarang menghancurkan bangunan publik dan MEMBUNUH ratusan manusia. Sehingga Kontraktor, Pemberi IMB, dll. HARUS DIUSUT TUNTAS…! Mobil aja nabrak manusia dan mati, sopirnya harus masuk penjara. Kenapa hasil kerja kontraktor yang mengakibatkan terbunuhnya ratusan orang kok didiamkan saja…?

4. Gempa adalah Mbah nya KPK. Krn bangunan yg di KORUPSI pasti akan hancur oleh gempa. Jadi setiap peran yang berindikasi mengkropsi proses pembangunan ini sudah selayaknya dituntut.

5. Puluhan tahun Indonesia dilanda gempa, kenapa tingkat kehancuran bangunan dan korban masih tetap tinggi? Kenapa tidak ada sertifikasi bangunan Tahan Gempa? Di Jepang lebih ganas2 gempa yang dialami jika dibanding dengan di Indonesia, tapi disana sangat minim kerusakan yang terjadi dan begitu jugoa korban jiwa manusianya? Sudah sepantasnyalah kita bertanya dipertanyakan kenapa di Indonesia begini?

6. Yang paling konyol menurut Pak Teddy, karena isu Urban, setiap orang yang merasa sudah maju ekonominya dan merasa sudah modern malah membangun rumah batu/semen yg tidak punya daya lentur dan fleksibilitas. Apalagi dibuat tanpa konsultasi dengan ahli bangunan tahan gempa. Justru bangunan yang dirancang NENEK MOYANG kita, dari kayu, bambu, dll. itu yg lebih tahan gempa…! Apakah masyarakat kita belum sadar juga bahwa kita hidup di
daerah gempa…? Masih perlu pembuktian apa lagi…?

7. Yang lebih tidak masuk akal lagi, hampir semua Kepala Daerah yg kena bencana gempa, selalu BANGGA benar dalam mengumumkan jumlah korban dan jumlah kerugian yang menimpa daerahnya. Pada hal, jika semakin banyak jumlah korban dan semakin besar kerugian, artinya Kepala Daerah tsb TIDAK BEKERJA dengan BENAR dalam pemberian izin-izin bangunan di daerahnya… ! Mereka tidak boleh cuci tangan mestinya. Kini sudah selayaknya aturan dan pelaksanaan aturan tersebut dikaji ulang kalau perlu ditata ulang.

8. Ada pernyataan birokrat kita dimana 80% bangunan Perkantoran dan Rumah yang rusak saat ini  harus dihancurkan semua, lalu dibangun baru, itu PENDEKATAN YG SALAH…! Tidak semua harus seperti itu. Mesti dipelajari dan diteliti satu persatu terlebih dahulu baru diputuskan tindakan apa yang akan diambil.

9. Ada lagi pendapat yang sangat merendahkan kemapuan bangsa sendiri, seperti “Pembangunan kembali dan  pendampingan pembangunan harus memakai tenaga asing supaya lebih aman”, ini adalah salah. Mau dikemanakan kontraktor dan tenaga ahli kita. Tanpa pendekatan, pemahaman dan melibatkan budaya dan orang lokal yang tidak dipahami oleh orang asing, maka pembangunan tersebut tidak akan berhasil. Banyak bangunan di Aceh dan Yogya yang akhirnya tidak mau dipakai oleh masyarakat. Ratusan milyar uang terbuang percuma. Sehingga langkah2 yang over reaktif dan langsung mempercayai dan main teken dengan asing yang diambil oleh salah satu Kepala daerah,
itu bisa sangat merugikan nantinya…

10. Pendekatan harus TOP DOWN dalam pemahaman aspek Bangunan Tahan Gempa ini. Mulai dari Gubernur, Bupati, Wali Kota, DPRD, sampai masyarakat bawah, HARUS PAHAM tentang BANGUNAN TAHAN GEMPA. Masalah disain dan bentuk, bisa saja berbeda satu sama lain. Tapi HARUS TAHAN GEMPA. Rumah ramah gempa  sudah banyak proto tipenya dan sudah banyak bangunan lama yang terbukti tahan gempa. Jika dua model ini digabungkan dan didesign melibatkan masyarakat setempat, maka akan menghasilkan rumah ramah gempa yang sekali gus diterima oleh masyarakat setempat.

11. Di Indonesia saat ini, BENCANA ALAM = PEMBUNUHAN MASSAL. Alam tak bisa dilawan. Tapi RESIKOnya bisa DIKURANGI… ! Tinggal kita harus menyadari dan merencanakan tindakan sesuai dimana bumi dipijak disanalah langit dijunjung. Harus disadari dengan baiak bahwa kita hidup dan berkiprah dialam yang bagaimana dan selalu siap dan terlatih atas semua yang mungkin terjadi.

12. Salah satu program terdekat, Pak Teddy Boen akan kita tampilkan di beberapa TV untuk diskusi MENGEDUKASI Masyarakat.. .!

13. Bahwa kurikulum Teknik Sipil di UNAND sudah seharusnya dirubah konsepnya. Sudah kuno kata Pak Teddy. Dan Pak Rektor tidak menampik sama sekali. Supaya kearifan lokal dan keadaan lokal betul2 dimasukan didalamnya.

14. Pendekatan implementasi rumah rakyat yang dibangun di Aceh yg disponsori oleh Bakrie, juga “dikuliti” oleh Pak Teddy. Akhirnya Uda Irwan terpaksa “buka kartu” yang akhirnya bisa kita pahami walau amat disayangkan uang milyaran yang telah tertanam disitu.

15. Banyak juga yang tidak tahu bahwa Pak Teddy hari ke-2 pasca gempa, sudah masuk kedalam RS Djamil Padang dan menyarankan agar klinik dan perawatan dilakukan kembali didalam. Beliau yang menjamin bahwa ruangan2 yang direkomendasikan itu tidak akan runtuh walaupun ada gempa susulan.

16. Pak Teddy heran, laboratorium alam Gempa Bumi di Indonesia sangat luar biasa sekali untuk dipelajari. Simulasi mesin di labor Universitas belum tentu sanggup meniru. Kenapa Mahasiswa dan ahli-ahli di Indonesia tidak pernah belajar dari situ…? Beliau punya ribuan foto2 lengkap tentang dampak gempa terhadap bangunan di berbagai tempat di Indonesia ini, hingga ke pulau2 terpencil sekalipun. Saya sangat kagum sekali dengan umur beliau yang sudah 75 tahun, masih ligat juga untuk bisa sampai ke daerah bencana Tandikek. Kata beliau, kalau mau tahu dan ingin belajar tentang gempa, paling lambat hari ke-2 anda sudah harus berada di lokasi sebelum bangunan-banguan tersebu dirusak atau dibersihkan.

17. Sudah banyak sekali gedung-gedung yang terkena dampak gempa yg menurut orang awam harus dirubuhkan, tetapi menurut Pak Teddy masih ada yang bisa diperbaiki dan tetap kokoh terkena gempa berikutnya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah PRINSIP KONSTRUKSI TAHAN GEMPA nya itu yang perlu kita perhatikan. Beliau juga menyampaikan beberapa alternatif RUMAH TRANSISI dan RUMAH PERMANEN yang murah dan tahan gempa untuk rakyat.

18. Buya HMA juga memberikan masukkan bahwa masyarakat Sumbar sangat berbeda dengan masyarakat Aceh dan Jawa. Sehingga inisiatif2 yang akan dilakukan di Sumbar, mestinya akan sangat lebih mudah jika mereka dilibatkan secara bersama.

19. Mulai ada kekhawatiran bahwa pendekatan2 yang dilakukan terhada masyarakat untuk bantuan saat ini, sebaiknya mulai dikoordinir dengan lebih baik. Kalau tidak bakal banyak dampak negatifnya dalam jangka panjang. Dan ini sangat serius…!

20. Semoga kegagalan-kegagalan penanganan pasca gempa di Aceh dan di Jawa tidak terulang di Sumbar. Perlu dukungan berbagai pihak segera dalam hal ini.

21. Hampir semua yg hadir sepakat bahwa Pak Teddy, teamnya Ir. Sutami yang membangun Gedung MPR/DPR ini, harus presentasi secepatnya di depan Gubernur, Bupati, Wako, DPRD, dan semua pengambil keputusan di Sumbar. Para Wartawan pun juga harus diedukasi untuk itu. Krn banyak isu-isu yg disampaikan di Media2 TV dan Cetak salah kaprah
dan memperburuk situasi karena kurang paham tentang aspek gempa. Yunofrins Napilus berciloteh: saya yang lulusan Geologi dan merasa “sedikit” tahu gempa, udah langsung “keok” ketika melihat pemaparan gamblang Pak Teddy”. Setidaknya dari sisi aspek bangunan, masukan-masukan beliau ini SANGAT PENTING utk diperhatikan. Kalau
aspek lain, sandang, pangan, dll. mungkin banyak lagi ahli yang bisa bicara untuk itu. Masih banyak lagi aspek lain yang perlu disikusikan mestinya untuk penanganan pasca bencana ini. Tapi tema tadi malam baru fokus ke aspek konstruksi bangunan dan pilihan bangunan pasca gempa, baik untuk perkantoran dan rumah rakyat agar tidak salah memulainya. Masih banyak asesment dan pemetaan kasus yang harus segera dilakukan.

Terima kasih skl lagi buat rekan Firdaus HB atas inisiatif ini dan juga inisiatif agar Pak Teddy bisa tampil di berbagai TV nantinya agar masyarakat teredukasi dg lebih baik. Semoga bermanfaat buat kita semua. Semoga Sumbar akan lebih baik…

Ada sekitar 20 orang yang hadir, beberapa diantaranya: Dirjen Dikti Fasli Jalal, PresKom Bakrie Irwan Syarkawi, Rektor Unand Prof. Musliar Kasim, Ketua MUI Sumbar Buya HMA, Ketua MAPPAS DR. Saafroeddin Bahar, Ketua IASMA 1 Bukittinggi DR. Masfar Salim, Brigjen. Mazni Harun, Ardius, Febrin, Abd. Hakam, Zaidir, Rahmat Zuhri, Yulfahmi Muslim, Nova Ardinal, Anita Subchan, Linda, saya dan Firdaus HB sbg inisiator dan pengundang.. .

Dikutip dari milis SMA 1 Bukittinggi

Sejarah Minangkabau

Rentang panjang sejarah Minangkabau banyak yang hanya diketahui dari mulut ke mulut (kaba), karena budaya menulis belum termasyarakatkan dengan baik. Berikut adlah catatan yang dapat dikumpulkan oleh beberapa peneliti maupun catatan yang pernah ada. Naskah ini dikutip dari milis rantaunet.

1) 100 SM – 400 M, Periode kedatangan bangsa bangsa imigran utamanya dari Pesisir Persia Selatan (Gujarat), India Selatan (Langkapuri), India Barat Laut (Cambay-Malabar), Siam (Thailand) dan Champa (Kamboja). Hal ini dipicu dengan ditemukannya emas di Sumatera Tengah dan posisi strategis pantai barat Sumatera dalam Jalur Emas dan Jalur Sutera.

2) 400 M – 1000 M, Periode kejayaan kerajaan-kerajaan India Selatan yang memicu migrasi gelombang kedua. Imigran kali ini datang dari India Timur seperti Tamil dan sekitarnya. Pantai barat Sumatera dikuasai kerajaan-kerajaan besar yang berpusat di India Timur.

3) 1000 M – 1200 M, Periode Minangkabau Timur, konsensus dengan Kerajaan Melayu Tua Dharmasraya di hulu Batang Hari Jambi. Integrasi kebudayaan Melayu Jambi kedalam Minangkabau Kuno. Disini diprediksi sebagai awal dari Melayunisasi terhadap bahasa yang dipakai kaum Minangkabau awal yang sebenarnya adalah para imigran. Inilah cikal bakal Bahasa Minang klasik. Bahasa Melayu bangkit sebagai Lingua Franca perdagangan di Kepulauan Nusantara.

4) 1200 M – 1400 M, Periode Invasi Kebudayaan Jawa ditandai dengan Ekspedisi Pamalayu oleh Kerajaan Singasari. Serbuan-serbuan dilanjutkan oleh Majapahit kemudian. Sebagai akhir dari periode ini adalah berdirinya Kerajaan Pagaruyung dengan Adityawarman sebagai raja terbesar. Pada masa ini Kerajaan Pagaruyung Minangkabau menguasai Sumatera Tengah, Pantai Barat Sumatera Tengah dan Kawasan Hulu sungai-sungai besar yang mengalir ke Selat Malaka. Adityawarman berbapak bangsawan Singasari dan beribu bangsawan Dharmasraya. Periode Pagaruyung adalah periode multikulturalisme dengan 3 komponen utama yaitu Penduduk Minangkabau Awal (Imigran dari India Selatan, Persia, Siam dan Champa), Penduduk Dharmasraya dan Penguasa keturunan Jawa. Inilah cikal bakal masyarakat Minangkabau Modern. Pada masa ini Bahasa Minang masih belum resmi digunakan, terbukti dengan prasasti yang ditulis dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Sansekerta mewakili Dharmasraya dan Keturunan Jawa Singasari dan Bahasa India Selatan / Tamil mewakili bahasa yang digunakan para penduduk imigran.

5) 1400 M – 1600 M, Periode Kegelapan sejarah. Diawali dengan huru-hara antara pendukung Pemerintahan Nagari dan pihak Kerajaan Pagaruyung yang diakhiri dengan terbunuhnya sebagian besar pewaris Kerajaan Pagaruyung berdarah Jawa dalam pertempuran Saruaso. Periode ini juga merupakan awal dimulainya consensus finalisasi adat (undang-undang) Minangkabau dalam artian dianggap sudah sempurna dan tidak boleh diubah lagi. Periode ini juga diyakini sebagai awal mula konsensus penggunaan bahasa lisan dengan pelarangan pemakaian tulisan dan penghancuran prasasti-prasasti dan dokumen-dokumen lainnya. Tidak diketahui alasan dari konsensus ini.

6) 1600 M – 1800 M, Pantai Barat Minangkabau dianeksasi oleh Kerajaan Aceh Darussalam. Berkembang pengajaran Syiah secara meluas. Pada periode ini berkembang Bandar Pariaman sebagai kota pelabuhan pengekspor emas dari pedalaman Minangkabau. Seorang petualang Portugis dari Malaka juga sempat memasuki pedalaman Minangkabau dan menceritakan betapa kayanya penduduk pedalaman yang hidup bergelimang emas. Laporan ini juga mengabarkan bahwa teknik pertanian di pedalaman Minangkabau sudah sangat maju untuk ukuran zaman itu. Ini adalah satu-satunya laporan dari pedalaman Minangkabau untuk periode ini. Total dalam periode 1400 M – 1800 M, pedalaman Minangkabau berada dalam kegelapan sejarah.

7) 1800 M – 1900 M, Periode Revolusi Agama dan awal persentuhan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan kepulangan 3 orang haji dari Tanah Hejaz yang sedang bergolak menentang pemerintahan Turki Usmani. Salah seorang dari ketiga haji ini yang sempat belajar militer karena menjadi anggota Kavaleri Jatnisar Turki ini membawa pulang faham Wahabbi ke Minangkabau dengan tujuan melakukan pembersihan terhadap ajaran Syiah yang saat itu menjadi agama mayoritas penduduk. Revolusi berdarah ini berujung dengan ikut campurnya Belanda dalam Perang Paderi yang berakhir tahun 1825. Kaum Adat yang berpusat di Batipuh dan Tanah Datar terpaksa melibatkan Belanda karena 2 dari 3 wilayah inti Minangkabau yaitu Luhak Agam dan Luhak Limapuluh telah jatuh kedalam pemerintahan Kerajaan Islam Minangkabau yang berpusat di Bonjol. Huru-hara pasca Perang Paderi ini berakhir sekitar tahun 1900 ditandai dengan Perang Kamang atau Pemberontakan Belasting.

8 ) 1900 M – 1950 M, Periode Reformasi Agama ditandai dengan kembalinya Haji Rasul murid Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi dari Mekkah. Berkembangnya mazhab Syafii di Minangkabau dan munculnya kaum intelektual didikan Belanda. Seterusnya terbentuknya organisasi-organisasi pergerakan berbasis agama seperti Muhammadiyah dan partai-partai politik. Periode ini adalah periode yang sangat dinamis diantaranya diwarnai oleh peristiwa-peristiwa seputar revolusi dan perang kemerdekaan, termasuk didalamnya Agresi Militer Belanda dan periode PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia)

9) 1950 M – 1966 M, Periode Kekacauan Politik, diawali dengan ketegangan pusat dan daerah yang berpusat di Sumatera Tengah. Mencapai puncaknya pada peristiwa perang saudara PRRI yang meluluhlantakkan Ranah Minang secara fisik dan penduduknya secara mental. Antiklimaks periode ini adalah peristiwa G30S/PKI.

10) 1966 M – 1998 M, Orde Baru. Periode ini diingat sebagai periode pemaksaan kehendak penguasa terutama tentang penyeragaman sistem pemerintahan terendah di Indonesia dengan menerapkan sistem pemerintahan desa. Pada periode inilah Nagari sebagai sendi terpenting kebudayaan Minangkabau dihancurkan dan dikonversi menjadi kotak-kotak administrasi tanpa arti.

11) 1998 M – Sekarang, Reformasi. Revitalisasi dan Reinterpretasi kebudayaan menjadi topik yang hangat dibicarakan. Nagari kembali dihidupkan namun kali ini dengan Trias Politica sebagai nyawanya. Keterwakilan Anak Nagari dalam Parlemen Nagari merupakan eksperimen baru yang sedang diujicobakan. Diluar itu gerakan pemuda dan kaum intelektual kampus yang membawa paham Ikhwanul Muslimin lewat PKS mulai memberi warna baru dalam masyarakat yang secara tradisional adalah warga Muhammadiyah. Penerapan perda-perda syariat dijadikan aksi massal sebagai penterjemahan reformasi ala Minangkabau. Sementara itu pemuda-pemudanya semakin lupa dan asing dengan akar sejarahnya.

~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~

KA Wisata: Padangpanjang – Sawahlunto

Padangpanjang, Padek–Meski baru jalan sekali sepekan, tapi penumpang kareta api wisata (KAW) Padangpanjang-Sawahlunto meningkat cukup tajam. Sayangnya, rute Minggu pagi dari Sawahlunto ke Padangpanjang belum terwujud. Ini disebabkan keterbatasan armada. Kepala Stasiun KA Padangpanjang,

Kaswar kepada Padang Ekspres, Kamis (28/5) menyebutkan, sejak beroperasi Februari 2009 lalu, rute perjalanan KAW Padangpanjang-Sawahlunto baru terwujud berangkat Minggu pagi dari Padangpanjang ke Sawahlunto, sorenya balik lagi ke Padangpanjang. Sementara rute berangkat pagi dari Sawahlunto ke Padangpanjang belum terujud. Ada beberapa faktor belum terujudnya keinginan tersebut. Pertama armada terbatas. Seperti lokonya hanya ada satu unit. Artinya, untuk merealisir giliran, praktis satu loko yang balik dari Sawahlunto ke Padangpanjang Minggu sore itulah yang mesti balik lagi ke Sawahlunto sebelum Minggu pagi depannya.

Kedua, jika KAW yang balik dari Sawahlunto ke Padangpanjang Minggu sore itu balik lagi ke Sawahlunto sebelum MInggu pagi depannya, besar kemungkinan KA itu berangkat sangat sepi penumpang. ”Makanya, untuk merealisir giliran keberangkatan KA Minggu pagi dari Sawahlunto ke Padangpanjang perlu dibicarakan lebih lanjut,” ungkap Kaswar.

Sample ImageWalau demikian, perkembangan KA ke jalur tersebut cukup menggembirakan. Terlebih sejak Mei ini. Seperti dua Minggu terakhir, jumlah penumpang dari Padangpanjang 200-an orang. Jumlah itu bertambah lagi di jalan seperti dari Solok.

Kereta api wisata (KAW) Padangpanjang-Sawahlunto ketika melintasi Danau Singkarak. Ke depan, PT KAI diharapan lebih mengoptimal rute Sawahlunto-Padangpanjang Minggu pagi.

Soal belum terealisirnya jadwal keberangkatan rute Minggu pagi dari Sawahlunto ke Padangpanjang, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Porbudpar) Kota Padangpanjang, Zulkarnain Haroen, mengaku belum bisa banyak komentar. Sebab, ketika ditanyakannya ke pihak terkait di tingkat Sumbar, jawaban diperoleh juga senada dengan Kepala Stasiun KA Padangpanjang.

Padahal, Pemko Padangpanjang sudah menyiapkan agenda penyambutan pengunjung. Penumpang KAW itu juga akan disambut dengan bus, dibawa ke Diniyah Puteri di Pasausang, masjid tua Asazi di Sigando, menyaksikan pertunjukan kesenian tradisi oleh Sanggar Agung di Gantiang, terakhir ke Mifan, sebelum balik lagi ke stasiun KA di Pasausang.(jen)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/37070/1/

Merapi Singgalang nan Tanang

LEMERSING YANG INDAH
By : Jepe

LEMERSING, begitu singkatan yang diberikan oleh Ibu Iffah tentang kampung halamannya di Sungai Tanang yang berada di lembah Merapi Singgalang, daerah ini terletak di hamparan tanah vulkanik yang kaya mineral yang berada disepanjang lereng dan lembah gunung Merapi dan Singgalang. Bagi saya LEMERSING ini selain menyuguhkan pemandangan yang indah dengan bentangan alamnya, jika dilihat dari ketinggian, seperti sebuah mozaik atau kepingan puzzle yang menyambung satu sama lainnya dengan memberikan sentuhan, rona dan citra warna yang sangat luar biasa indahnya .

Sawah yang berkontur mulai dari lereng kedua gunung tersebut sampai kelembah yang mengalir sungai berbatuan dengan air yang jernih dan disekat pematang sawah yang hijau ditumbuhi rumput-rumpu gajah buat makanan ternak atau tanaman-tanaman keras lainnya sebut saja pinang yang berderet (pinang baririk) dan kulit manis. Setiap petak sawahpun memberikan gradasi warna yang berbeda mulai dari warna coklat tua ketika sawah mulai di bajak (diolah), lalu dipojok sawah tersebut yang dipagari jaring nilon (sarlon net) terhampar benih padi seperti karpet dengan warna hijau yang lembut.

Dihamparan sawah yang lain tumbuh subur padi dengan warna hijau terang, ketika padi mulai menguning siap panen sayup-sayup rebah ditiup angin dengan warna kuning kecoklatan, setelah panen petak sawah tersebut berubah menjadi warna coklat terang dari rumpun-rumpun padi yang telah siap di tuai atau disabit.. Bulir-bulir padi yang bernas dikumpulkan baik secara manual yaitu menginjak dengan kaki (Minang :mairik) maupun dengan semi mekanis dengan alat perontok padi maka hamparan petak sawah tersebut diatar tikar pandan atau tenda biru terkumpul gabah-gabah segar berwarna coklat muda.

Jerami kering yang telah dipisahkan bulir padinya sebelum digiling di heler (Rice Milling) menjadi beras tertumpuk secara mengelompok di petak sawah yang nantinya dibakar setelah dicampur dengan bahan organik lainnya menjadi kompos sebagai pupuk alami untuk masa tanam selanjutnya. Jerami yang bertumpuk ini memberikan warna coklat pupus dan saat dibakar asapnya membumbung kelangit dengan aroma yang khas. Setelah terbakar habis ketika masih menyisakan bara kecil dengan kepulan asap tipis akan berwarna hitam pekat. Begitulah rona-rona warna yang ditampilkan pada hamparan sawah yang terletak di Lemersing.

Lalu perladangan tak kalah indah hamparannya dengan aneka tanaman pangan semusim seperti palawija dan sayur-sayuran yang berwarna warni sebut saja terung ungu, cabe keriting, wortel,tomat, kol, ubi rambat, daun bawang, kembang kol yang merekah putih dibalik kelopak daun yang berwarna hijau tua dan tentunya tidak lupa sayur yang terkenal dari Lemersing ini yang dikenal dengan nama lobak Singgalang. Tak kala indahnya juga jika kita melihat dari ketinggian dengan pandangan yang luas serta bebas sejauh mata memandang (Helicopter View) ladang-ladang dengan tanaman keras seperti rumpun bambu, pinang, kelapa, kulit manis dengan pucuk daunya berwarna merah muda lembut, pohon kelapa, cengkeh dan coklat.

Sungai-sungai, anak sungai, parit , tali air dan pincuran dilereng-lereng perbukitan mengalir air yang jernih dan bening mulai dari ketinggian lereng-lereng kaki bukit Gunung Merapi dan Singgalang sampai kelembah yang paling rendah tidak terputus sambung menyambung berkilau ketika diterpa sinar matahari yang terik di siang hari, aliran air ini membatasi hamparan sawah dan ladang diseputar Lemersing, sungguh sebuah pemandangan alam yang indah tidak terperikan.

Apa-apa yang ada dilangit dan dibumi ini adalah ciptaanNya yang Agung , Allah Swt yang tak pernah kekurangan sesuatupun memberikan ciptaanNya pada manusia walaupun manusia itu sabagian ikut melestarikannya dan sebagian lagi merusaknya. Renungkanlah dan pikirkanlah mengenai hakikat diri kita diciptakan dan renungilah sebuah keindahan alam yang diberikannya di ranah minang tercinta salah satunya Lemersing, belum lagi “Lemersing-Lemersing” yang indah lainnya di ranah minang. . Akhir dari perenungan ini kita akan merasa betapa kecilnya kita dihadapNya yang menciptakan alam semesta ini, kita tidak akan terlihat walau setitik debupun jika bandingkan maha luasnya alam semesta ini, seperti hikmah yang diberikan iman Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin “Siapa yang dapat mengenal dirinya niscaya dia mampu mengenal Tuhannya”

Setelah kita mengenal Rabbnya dengan segala ciptaan alam semesta yang indah tentunya kita akan bisa berkata pada diri kita “ Ah selama ini saya terkadang suka sombong, ternyata ada yang lebih dan berhak lagi sombong dari diri saya yaitu Allah Swt dan saya sadar ketika Lemersing yang terhampar di hadapan saya menyadarkan diri saya, hati saya agar jauh (berusaha menjauhi) dari sifat sombong.

“Sombong adalah pakaian-Ku (Allah Swt) siapa yang sombong berarti telah merebutnya dari Ku” begitu yang disampaikan oleh sebuah hadis Qudsi”

Semoga bencana Galodo yang terjadi di ranah minang baru-baru ini menjadi pelajaran dan kita bisa mengambil hikmah dibalik bencana dan musibah yang terjadi, kita harus lebih arif lagi dalam mengelola alam dengan segala keindahannya yang telah memberikan kehidupan kita. Keindahan dan kehidupan itu adalah Lemersing dan juga “Lemersing-Lemersing” lainnya di ranah minang tercinta dengan bentangan alamnya mulai dari pantai sampai gunung dengan sungai-sungai,sawah lading, kolam, rawa-rawa dan danau-danaunya yang indah

Pekanbaru, 11 April 2008

Catatan : Saya dan Pak Emi mengelilingi Lemersing ini pada tanggal 21 dan 22 Maret 2008 perjalanan di mulai dari Sulit Air kampong Da Rainal, Ombilin Singkarak, Padang Panjang, Padang Luar, Matur, Maninjau, Batang Antokan, Lubuk Basung, Sitanang, Sitalang, Batu Kambing, Palembayan, Simpang Petai dan daerah-daerah pinggiran Kota Bukit Tinggi sepanjang Lemersing.
canduang-tampak-dari-kaki-snggalangSungai Tanang, Kampounag IffahKutunggui Sungai Tanang sumur hidupkuMerapi Singgalang Sabar Menanti

Prof H ZAENAL ABI DIN AHMAD

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Abang Ismet, izinkanlah saya untuk menyampaikan sedikit yang saya ketahui tentang ayahanda Profesor K.H. Zaenal Abidin Ahmad. Saya sebagai urang sumadonya sangat respect dan tidak sedikit bekal nasihat yang saya dapat dari beliau.

Biografi tentang almarhum Mamanda Prof H ZAENAL ABI DIN AHMAD, sudah ada bukunya yang berjudul: RIWAYAT HIDUP dan PERJUANGAN H. ZAINAL ABIDIN AHMAD yang ditulis oleh SOEBAGJO LN dan diterbitkan oleh Pustaka Antara tahun 1985, 2 tahun setelah beliau wafat pada hari Selasa 26 April 1983 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Mungkin ada baiknya, bila ada niatan untuk mencetak ulang, bisa berhubungan dengan penerbitnya PUSTAKA ANTARA yang dimiliki oleh keluarga Almarhum Bapak H.M. Yoesoef Ahmad.

Sebagai informasi tambahan, ada baiknya saya sampaikan juga secara singkat riwayat hidup beliau.

Beliau lahir di Sulitair tgl 11 April 1911, Anak tertua dari ayah bernama Datuk Ahmad dan ibunda Sa’diah suku Piliang Tabuah nan Gadang. Beliau memiliki 4 saudara seibu yakni: Kasim Ahmad Sutan Karoni (alm); Azis Ahmad Datuk Pamuncak (alm), Agus Salim Ahmad (alm) dan Almarhumah Halimah Ahmad (ibu mertua ambo). Saat melahirkan, ibundanya wafat. Kemudian Datuk Ahmad menikah lagi dengan ibunda (?)dari suku Limo Singkek Sogo dan dikarunia seorang putri: Hj. Erma Ahmad, dan ibundanya meninggal lagi, kemudian menikah lagi dengan ibundaRamalah (Mala) dari suku Limau Panjang, dan dikaruniai 4 orang anak yakni: Arifin Ahmad (alm), Djamaludin Ahmad (alm), Wirdati Ahmad dan Syariwil Ahmad (alm).

KH Zaenal Abidin Ahmad menikah dengan Ibu Rohana Djamil pada bulan January 1931 (2 Ramadhan 1350H) dan=2 0dikaruniai 4 orang anak yakni Kakanda Nizam Zaenal, Kakanda Ismet Zaenal, Kakanda Almarhumah Ratna Zaenal dan adinda Syah Djohan Zaenal.

Selama masa hidupnya beliau isi dengan berbagai kegiatan antara lain:

1. Sebagai GURU, mengajar di THAWALIB Padang Panjang dan Normal School Padang Panjang.
2. Sebagai PENGARANG telah lebih dari 40 buku yang ditulisnya dan menulis artikel /makalah di harian/majalah dalam dan luar negeri.
3. Sebagai WARTAWAN telah mendirikan PANDJI ISLAM di Medan, Ketua Persatuan Wartawan Muslimin (WARMUSI), Pemred ALMANAR Medan, Pemimpin Umum FADJAR ASIA Singapore, P.U. BERITA MELAYU Singapore, PU INDONESIA RAYA DJOGJAKARTA, Direksi Harian PEMANDANGAN Djakarta, PU HARIAN ABADI, Djakarta. Sampai ahir hayatnya beliau aktif mengisi BULETIN DAKWAH dari Dewan Dakwah Islam.
4. Di PARLEMEN, sebagai ANGGOTA: KNIP, KONSTITUANTE, Parlemen R.I.S, Parlemen Indonesia, dan WAKIL KETUA PARLEMEN 1956 – 1960.
5. Di panggung POLITIK, sebagai Anggota PERMI Padang Panjang, Ketua Organisasi PARTAI ISLAM INDONESIA wilayah Sumatra, Ketua MASYUMI wilayah Sumatra, Ketua Panitia Pembentukan Undang-undang dari Fraksi Masyumi, Wakil Ketua utusan MASYUMI dalam Konstituante Bandung.
6. Di PERGURUAN TINGGI, sbg. Anggota dewan kurator UI, Ketua Tertinggi Universitas Ibnu Khaldun Jakarta, Anggota UNESCO di Jakarta, Dosen Ilmu Politik dan Sejarah pada Universitas Al Hilal, Jakarta, Wakil Dekan fakultas Ushuludin Univ. Prof Dr. Mustopo dan terahir sebagai REKTOR Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, Jakarta. (Pidato pengukuhannya sebagai guru besar PTIQ pada tanggal 8 Mei 1982 berjudul “Panji Da’wah Islamiyah dan Ilmu-ilmu Al-Qur’an berkibar terus di tangan Indonesia”)
7. Di YAYASAN, sampai ahir hayatnya beliau sebagai Ketua Umum Yayasan Islam THAWALIB dan pendiri YAYASAN ZAMRODJ, sebuah singkatan dari Zaenal Abidin AhMad ROhana DJamil. Yayasan ZAMRODJ saat itu sedang membangun Masjid dan Pesantren diatas tanah seluas 5000 meter persegi yang terletak di Desa SERUA, Kecamatan CIPUTAT – Tangerang, sebagai wakaf dari kedua beliau. Dalam perkembangannya saat ini nama ZAMRODJ telah berubah menjadi ZAMRUD dan memiliki ratusan murid dari tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Usaha mulia tersebut diteruskan oleh keluarga almarhumah Hj. DAHNIAR ZEIN, adik dari Ibu Rohana Djamil.

Dari keseluruhan hidup beliau yang telah disumbangkan buat negeri tercinta ini, masih ada PR yang menurut beliau harus di selesaikan yaitu pemikiran bahwa kehidupan tidaklah abadi. Beliau bersama beberapa tokoh SULITAIR menyadari bahwa HARTA dan KEKAYAAN tidak banyak yang dapat ditinggalkan kepada GENERASI MUDA berikutnya, kecuali hanya GAGASAN serta CITA-CITA yang luhur untuk pembangunan bangsa dan Negara, khususnya untuk KAMPUANG HALAMAN TERCINTA SULITAIR. Untuk itu beliau bersam a SAHABAT beliau sejak kecil JOESOEF AHMAD dibantu oleh rekan beliau H. Sy.Z. DT. TANARO, Adik beliau A.A. DT. PAMUNCAK, Adik Ipar beliau SABARUDDIN RASJAD DT. SAMARAJO dan rekan/sahabat beliau H.I.A.L DT NAN SATI telah membentuk sebuah PANITIA untuk menyusun RIWAYAT HIDUP para TOKOH SULITAIR dan juga Perjuangan Rakyat setempat agar apa yang mereka lakukan tidak tenggelam dimakan jaman, ditelan sejarah dan dilupakan tanpa bekas. Tetapi, untuk kesekian kalinya terbukti bahwa manusia hanya bisa merencanakan sesuatu, tetapi ahirnya Tuhan jugalah yang menentukan lain. Beliau telah dipanggil keharibaanNYA pada tanggal 26 April 1983 atau 13 Rajab 1403H sekitar pukul 16:00 setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Islam Jakarta, 7 bulan setelah ditinggal isterinya tercinta Ibu ROHANA DJAMIL yang meninggal pada tanggal 28 September 1982 di kota suci MEKAH dengan hanya membawa amal perbuatannya selama masih hidup. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga Allah swt membalas seluruh amalannya, keluarga dan keturunannya dijauhkan dari segala malapetaka, dan diberi rahmatNya serta diridloiNya segala perbuatan mereka. Amien.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Esumarna

Tour de Singkarak dan Kejujuran Kita

Tour de Singkarak
dan Kejujuran Kita

Oleh Syafruddin AL

Bila tidak ada aral melintang, mulai 29 April hingga 4 Mei 2009 mendatang akan digelar helat akbar balap sepeda internasional bertajuk “Tour de Singkarak” dengan empat etape sejauh 459 Km, mulai dari Kota Padang, Bukittinggi, Batusangkar, Sawahlunto, Solok, Singkarak, Danau Kembar (Alahanpanjang) dan kembali ke Singkarak.

Kata Dirjen Pemasaran, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, DR Sapta Nirwandar, Tour de Singkarak adalah event yang memadukan kegiatan olahraga balap sepeda dengan wisata (sport tourism). Melalui balap sepeda, kita ingin ‘menjual’ Singkarak ke dunia luar yang sekaligus akan membawa Kota Padang, Lembah Anai, Sate Mak Syukur (sebagai salah satu wisata kuliner), Kota Wisata Bukittinggi, Kota Budaya Batusangkar, Kota Arang Sawahlunto, Kota Solok, keindangan Danau Diateh dan Danau Dibawah, serta keindahan Danau Singkarak itu sendiri.

Dari Balik Singkarak

Sebagai penggagas, Pak Sapta yang terinspirasi dari kegiatan Festival Singkarak-Danau Kembar tahun lalu itu, sangat antusias dan bangga sekali dengan Tour de Singkarak tersebut. Di samping mengundang sejumlah BUMN, BUMD, swasta nasional dan local untuk turut berpartisipasi, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sendiri menggelontorkan dana yang cukup besar untuk kegiatan yang memperebutkan hadiah totoal sebesar 60 ribu dollar AS tersebut.

Tidak kurang 15 Tim balap sepeda dari mancanegara dan 10 tim dari dalam negeri akan ikut bertarung di Tour de Singkarak. Satu tim rata-rata dengan 10 anggota (6 pembalap dan 4 official). Dengan begitu, akan ada 240 orang (dikurang 1 tim dari Sumbar) yang akan hadir di Ranah Minang sejak 27 April hingga 6 Mei mendatang. Belum termasuk panitia pusat dan rombongan musisi pimpinan Dwiki Darmawan.

Peserta, panitia dan musisi itu memang akan menjadi tamu khusus dengan pelayanan yang khusus pula selama berada di Sumatra Barat. Tetapi, tentu tak sedikit pula jumlah tamu yang datang sebagai penonton dan wisatawan yang dating menyaksikan event pertama yang akan diharapkan nantinya dapat bersaing dengan Tour de Langkawi ini. Mereka bisa saja datang dari Riau, Sumatra Utara, Jambi, Sumsel, Jawa, Singapura, Malaysia, Thailand dan lain sebagainya.

Yang perlu kita pertanyakan, apakah rakyat kita di Sumatra Barat sudah bisa menjadi penerima tamu yang baik? Menjadi bagian dari masyarakat yang sadar wisata? Karena tujuan balap sepeda Tour de Singkarak adalah untuk memperkenalkan Ranah Minang ke dunia internasional, tentu pandangan pertama dan kesan awal itu haruslah menggoda kalau memang daerah kini ingin menjadi destinasi wisata indternasional masa depan.

Sekedar intermezzo saja, beberapa waktu lalu sejumlah orang Minang di rantau ribu di mailinglist (internet) gara-gara rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kanai pangua di sebuah rumah makan di daerah ini. Menurut cerita yang berkembang di internet tersebut, biaya makan 20-an anggota rombongan, bernilai jutaan rupiah, jauh di atas kewajaran. Meski ada yang memberi komentar bahwa si pemilik warung ini mungkin merasa bahwa uang yang akan mereka (rombongan Presiden) bayarkan berasal dari uang rakyat juga, tindakan seperti itu jelas tidak terpuji. Dunia pariwisata penuh dengan standar-standar yang terukur dan teruji.

Hari-hari terakhir, suasanya Bandara Internasional Minangkabau (BIM) juga belum banyak berubah. Gerombolan orang yang menanti tamu yang dating untuk menawarkan jasa angkutan juga masih masih tetap dalam suasana hingar bingar bak di Pasar Raya. Tak ada suasana Ranah Minang dengan alunan musik talempong yang indah. Begitu juga di hotel-hotel, kita juga tak pernah mendengar musik tradisional.

Tarif hotel di Sumatra Barat, menurut banyak orang, juga berada di atas rata-rata hotel sekelas di tempat lain. Penginapan kelas melati pun juga ikut-ikutan menaikkan harga. Bayangkan, beda tarif hotel kelas bintang 4 dengan sebuah wisma kelas melati hanya 90-an ribu rupiah. Di hotel bintang empat kita mendapat sarapan pagi sepuasnya dengan sejumlah menu khas internasional dan tradisional, di hotel melati hanya disuguhi secangkir kopi atau teh manis dan roti panggang saja.

Mengintip Singkarak

Hal ironi lainnya, ketika pekan lalu saya ke Padang menumpang sebuah Taxi dari Jl. Veteran 17 ke Kampus STSI Sospol Imam Bonjol di Jl. Koto Tinggi, sebelah Gubernuran dan kemudian terus ke Bumi Minang, kena cas Rp40.000. Saya tahu persis jarak dari saya mulai naik di Jl. Veteran ke Koto Tinggi dan terus ke Bumi Minang tak lebih dari 5 km. Di Jakarta, naik Taksi di Blok M sampai ke Istana Negara di Monas yang jaraknya lebih dari 8 km, tidak akan lebih dari Rp25.000.

Sebagai daerah yang terus ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai destination unggulan, pembenahan mentalitas masyarakat yang biasa main pangua, jelas merupakan kewajiban kita dan Pemda Sumatra Barat bersama pemerintah kota dan kabupatennya. Karena itu, di samping menggelorakan semangat bermain sepeda yang sedang dilakukan oleh para pejabat dengan memamerkan sepeda barunya, langkah untuk membenahi sisi pelayanan oleh masyarakat yang sering menganggap suatu pesta sebagai ajang mencari keuntungan, harus pula dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tour de Singkarang yang digagas pemerintah pusat untuk kepentingan kemajuan Sumatra Barat, jelas menunggu kejujuran Ranah Minang dalam segala hal. Termasuk membehani sisi pelayanan dan kebiasaan main pangua tadi. *