<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wisata Ranah Minangkabau</title>
	<atom:link href="http://thewestcoast.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thewestcoast.wordpress.com</link>
	<description>A motherland that you have to visin Once</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Nov 2011 22:51:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='thewestcoast.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Wisata Ranah Minangkabau</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://thewestcoast.wordpress.com/osd.xml" title="Wisata Ranah Minangkabau" />
	<atom:link rel='hub' href='http://thewestcoast.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>[R@ntau-Net] Sumatra Barat yang Cantik dan Eksotik&#8212;Jadi Turis di Kampung Sendiri (Oleh Darwin Bahar)</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/10/29/rntau-net-sumatra-barat-yang-cantik-dan-eksotik-jadi-turis-di-kampung-sendiri-oleh-darwin-bahar/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/10/29/rntau-net-sumatra-barat-yang-cantik-dan-eksotik-jadi-turis-di-kampung-sendiri-oleh-darwin-bahar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 14:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau nan Indah]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Baran nan Elok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Setiap saya berada di Bali saya ingat kampung halaman saya Sumatra Barat. Dan setiap saya berada di Sumatra Barat saya ingat Bali. Betapa tidak, baik Sumatra Barat dan Bali dianugerahi Allah SWT dua hal yang hampir sama: panorama alam yang mempesona, penduduk yang relatif homogen dengan adat dan seni budaya yang penuh eksotika. Namun selebihnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=203&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap saya berada di Bali saya ingat kampung halaman saya Sumatra Barat. Dan setiap saya berada di Sumatra Barat saya ingat Bali.<br />
Betapa tidak, baik Sumatra Barat dan Bali dianugerahi Allah SWT dua hal yang hampir sama: panorama alam yang mempesona, penduduk yang relatif homogen dengan adat dan seni budaya yang penuh eksotika. Namun selebihnya, seperti kita tahu, dari segi pengembangan pariwisata, Sumatra Barat masih tertinggal jauh dari Bali.<br />
<a href="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/gubalo-itiak.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-206" title="Gubalo itiak" src="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/gubalo-itiak.jpg?w=300&#038;h=213" alt="" width="300" height="213" /></a>Tetapi tertinggal atau bukan, Sumatra Barat tetap sebuah daerah tujuan wisata (DTW) yang lebih dari pantas untuk dikunjungi pada liburan akhir tahun ini, baik oleh para perantau Minang yang sudah lama tidak pulang kampuang, lebih-lebih jika Anda bukan orang Minang dan belum pernah ke Sumatra Barat sebelumnya. Saya saja yang orang Minang dan dalam tiga tahun terakhir ini sering ke Sumatra Barat tidak bosan-bosannya melihat keindahan alam Sumatra Barat.<br />
Dua pekan lalu selama empat hari dari Kamis 16/12 sampai Minggu 19/12 bersama isteri saya Kur dan dua anak gadis kami Meila (25 th) dan si bungsu Ira (23 th), saya mengambil cuti dan berkunjung ke Sumatra Barat. Sambil menyelam minum air, sambil mengunjungi beberapa keluarga dekat saya yang masih ada di Padangpanjang, sekitar 20 km di Selatan Bukittinggi, saya mengunjungi berapa tempat yang sangat menarik dan eksotik. Bagi Kur yang berasal dari Jawa Barat, ini adalah kunjungan yang kedua setelah kami menikah, yang pertama ketika kami baru punya anak dua dalam tahun 1973, dan bagi Meila dan Ira ini adalah kunjungan yang pertama dan sudah lama mereka rindukan.<br />
Mungkin karena kunjungan saya ke Sumatra Barat kali ini bukan dalam rangka tugas sehingga tidak ada pikiran yang membebani kepala dan bersama keluarga pula, perjalanan tersebut rasanya menyenangkan sekali. Sebenarnya empat hari kurang cukup, namun karena saya tidak bisa cuti lama-lama dan “gizi” kami terbatas, terpaksa dicukup-cukupkan, antara lain dengan menyusun jadwal perjalanan yang ketat, suatu hal yang sudah terbiasa saya lakukan jika melakukan kunjungan kerja ke daerah.<br />
Berikut ini beberapa catatan singkat saya.<br />
Kami menggunakan Garuda GA 160 yang berangkat jam 6.30 pagi dari Soekarno-Hatta dan tiba di Bandara Tabing jam 7.40. Awalnya saya hanya minta bantuan Kantor Regional kami di Padang untuk booking hotel di Bukittinggi dan Padang serta menjemput di Bandara Tabing dan mengantar ke Bukittinggi liwat Maninjau, karena saya khawatir saya tidak berhasil dapat mobil yang bagus atau harga yang sesuai kalau saya mencarinya di Bandara Tabing. Tetapi, Alhamdulillah, pucuk dicinta ulam tiba, saya diberitahu bahwa kalau saya menginginkan, saya dapat menggunakan mobil Kijang berikut Nofi, pengemudinya sampai Sabtu. Apalagi Nofi sudah sering mengantar saya bertugas di Sumatra Barat, dan sudah tahu tempat-tempat makan yang saya sukai.<br />
Bukittinggi dapat dicapai dari Padang melalui dua rute: rute Padang-Lubuk Alung-Pariaman-Lubukbasung-Maninjau: melewati kelok ampek puluh ampek dengan jarak ± 170 km, serta rute Padang-Lubuk Alung-Padangpanjang-Bukittinggi lewat Lembah Anai dengan jarak ± 90 km.<br />
Kondisi jalan di kedua rute tersebut, seperti halnya hampir semua jalan di Sumatra Barat cukup bagus dan terawat baik.<br />
Saya sempat menanyakan sewa taksi Bandara yang kondisinya umumnya sudah tidak prima itu ke Bukittinggi dari Tabing dan memperoleh harga Rp 135 rb lewat Padangpanjang dan Rp 185 rb kalau lewat Maninjau.<br />
Rute Padang-Bukittinggi lewat Maninjau berpisah dengan rute Padang-Bukittinggi di Lubuk Alung, berbelok ke kiri meliwati Kota Pariaman dan Lubukbasung, ibukota Kab Agam. Sampai di sini tidak ada pemandangan yang luar biasa kecuali alam yang relatif asri. Suasana yang agak berbeda terasa setelah mobil memasuki jalan yang menyusuri Danau Maninjau. Namun suasana dan panorama yang fantastik&#8212;yang bahkan tidak akan Anda temui di Bali sekalipun&#8212;ialah ketika mobil mulai memasuki kelok ampek puluh ampek&#8212;jalan menanjak dengan 44 tikungan sepanjang 7 km.<br />
Kur seperti terpekik ketika mobil meliwati kelok pertama dan kedua, tetapi kemudian terdiam dan terpana melihat hamparan Danau Maninjau di bawahnya. Di beberapa kelokan di atasnya beberapa kera hutan jinak bermain dengan anak-anaknya. Saya kemudian minta Nofi untuk mencari tempat berhenti untuk berfoto dengan latar belakang danau Maninjau. Sayang sekali di sana kera-kera jinak sudah tidak ada, sehingga keinginan Ira untuk berfoto dengan hewan-hewan lucu&#8212;dan tidak “jahil” seperti di Bedugul, Bali, tersebut tidak kesampaian.<br />
Setelah itu kami meneruskan perjalanan menanjak kelok demi kelok—setiap kelok diberi nomer yang jelas di jalan, masih dengan hamparan danau Maninjau di latar bawahnya sampai ke kelok terakhir di kawasan yang disebut Puncak Lawang. Puncak Lawang dalam beberapa tahun terakhir ini digunakan sebagai sebagai tempai kegiatan olahraga paralayang. Kalau Anda penggemar paralayang, Anda bisa membayangkan betapa fantastiknya melayang-layang dengan hamparan danau Maninjau di bawahnya. Di kawasan yang namanya Embun Pagi ada sebuah Resort berbintang tiga satu grup dengan Hotel Bumiminang Padang. Kami tidak berhenti di sana.<br />
<a href="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6777.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-207" title="100_6777" src="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6777.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Bukittinggi yang berjarak 25 km dari dari Puncak Lawang dapat ditempuh lewat Padangluar yang terletak di jalan raya antara Padangpanjang dan Bukittinggi, atau lewat dassr Ngarai Sianok. kami memilih yang terakhir<br />
Setibanya di Bukittinggi kami langsung chek-in di Hotel Novotel yang bersebelahan dengan Istana Bung Hatta dan hanya sekitar 200 meter dari Jam Gadang, landmark Kota Bukittinggi yang terkenal itu, satu dari dua hotel berbintang empat di Bukittinggi. Yang satu lagi Hotel Pusako yang terletak di pinggir jalan ke Payakumbuh. Kami mengambil satu kamar de luxe karena kamar superior sudah terisi semua untuk dua malam dengan tarif permalam Rp 500 rb ditambah Rp 175 rb untuk extra-bed termasuk breakfast. Inof menginap di hotel tempat dia biasa menginap kalau bertugas di Bukittinggi.<br />
(bersambung)</p>
<p>Kami mendapat kamar di lantai empat di mana ngarai Sianok yang sering juga disebut Grand Canyon of Indonesia itu dengan latar Gunung Merapi dan Gunung Singgalang di kiri kanan terlihat menghampar seperti sebuah lukisan panorama yang sangat indah. Bukittinggi yang dingin (900 m di atas permukaan laut) memang terlhat sangat cantik, bahkan dari jendela kamar Superior yang biasa saya gunakan. Kabut kadang-kadang terlihat menyaput pucuk-pucuk pohon. Sementara Ngarai Sianok di kejauhan dengan desir anak sungai yang mengalir di bawahnya seperti menyimpan misteri masa silam dengan bunyi genta pedati menyisir jalan di dasar ngarai menyisir malam. Novotel letaknya memang sangat strategis.<br />
Karena anak-anak, sudah mengeluh lapar, setelah menaruh koper-koper di kamar kami diantar Inof ke warung Nasi Kapau Uni Lis di Pasar Wisata, Pasar Atas dekat gerbang tangga yang menghubungkan Pasar Atas dengan kawasan Pasar Bawah yang lazim disebut sebagai jenjang empat puluh, sesuai dengan jumlah anak tangganya. Kenikmatan Nasi Kapau Uni Lis dan nasi kapau warung tenda lainnya di Bukittinggi cukup berbeda dengan masakan kapau di warung-tenda di Jalan Kramat Raya Jakarta. Selain kualitas bahan, yang lebih baik, masakan kapau di warung-warung tenda di Bukittinggi umumnya masih dimasak dengan kayu bakar. Saya makan dengan gulai tunjang dan gulai rebung, sedangkan Kur dengan dendeng belado. Anak-anak saya lihat makan dengan lahap sekali.<br />
Dari sana kami langsung ke Padangpanjang menemui beberapa keluarga dekat saya yang masih ada. Dan sebelum kembali ke Bukittinggi kami mampir ke SMS atawa Sate Mak Syukur di Padangpanjang yang tersohor itu. Bagi Anda yang punya bayi dan belum pernah mencicipi Sate Padang, mungkin “tidak tega” memakan sate daging sapi yang berkuah kuning setengah kental itu. Tetapi sekali mencoba pasti ingin mencoba lagi.<br />
Malamnya di Bukittinggi kami makan di restoran “Cubadak Gaya Baru” di Pasar Bawah. Berbeda dengan rumah-rumah makan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya yang di setiap piring disajiakan dua potong ikan, di restoran ini di setiap piring hanya disajikan satu potong. Beda lainnya, ada sejumlah masakan khas serta bumbunya rata-rata lebih terasa.<br />
Hawa dingin dan perasaan letih karena perjalan yang cukup panjang hari itu menyebabkan kami cepat tertidur. Walaupun tidak jauh dari Novotel ada 2 buah masjid besar, azan subuh hanya terdengar lamat-lamat saja, lebih pelan dari pada suara azan yang saya dengar di hotel tempat saya menginap di Sanur, Bali sepekan sebelumnya.<br />
Hari itu kami merencanakan akan ke Harau yang terletak di Kabupaten Limapuluh Kota sekitar 25 km sebelah timur Payakumbuh arah ke Pekanbaru, atau sekitar 50 km dari Bukittinggi, kemudian ke Pagarruyung di dekat Batusangkar, ibukota Kabupaten Tanahdatar lalu ke pinggir Danau Singkarak, dan dari sini kembali ke Bukittinggi lewat Padangpanjang dan akan start dari hotel jam 10 pagi.<br />
<a href="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6727.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-208" title="100_6727" src="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6727.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Karena hanya punya 3 kupon breakfast, dan kalau sarapan di hotel harus bayar Rp 45 rb, saya memilih sarapan di luar saja dan pergi ke sebuah “Bufet” di Pasar Wisata untuk makan Amping Dadih [1] dan minum teh telor khas Minang, habis hanya Rp 9 rb. Sehabis sarapan Kur dan anak-anak sempat berjalan-jalan ke Pasar Atas.<br />
Perjalanan ke Harau memamakan waktu kurang dari satu jam. Harau adalah adalah sebuah hutan lindung yang asri, berupa sebuah ngalau memanjang yang berpagar bukit yang curam berupa patahan dan ujung pada sebuah air terjun. Karena hari itu hari Jumat pengunjung tidak terlalu ramai. Sesudah berfoto-foto kami segera cabut, kembali ke arah semula dan setelah meliwati Payakumbuh, berbelok ke kiri, ke arah selatan menuju ke Batusangkar dan terus ke Istana Pagaruyung. Karena waktu salat Jumat sudah tiba, saya dan Nofi salat di sebuah masjid yang tidak jauh dari sana, sebuah Masjid berukuran sedang yang cukup bagus yang merupakan wakaf dari seorang dermawan bersebelahan dengan kantor Bupati Tanahdatar, salah satu dari 4 kabupaten/kota yang menurut evaluasi LIPI yang paling berhasil melaksanakan otonomi daerah di Indonesia. Kantor Bupati tersebut terlihat sangat sederhana.<br />
Seusai salat jumat, saya bergabung dengan Kur dan anak-anak yang sudah lebih dulu masuk kompleks Istana Pagaruruyung. Kami berfoto-foto berpakaian adat Minangkabau di dalam bangunan istana&#8212;tepatnya replica dari istana asli yang habis terbakar yang terletak tidak jauh dari sana. Kemudian kami makan siang di restoran “Ambun Pagi” yang terletak di arah jalan ke Sawahlunto. Kur saya lihat mendelik menyaksikan saya menyambar piring gulai gajeboh (daging yang sangat berlemak) yang dimasak asam padeh (tanpa santan) yang sangat jarang ditemukan di rumah-rumah makan Padang di luar Sumatra Barat (kecuali di Resto Simpang Raya Bogor). Kami kemudian juga mencicipi gulai jarieng (jengkol) yang agak berbeda dengan jengkol yang ada di jawa, lebih empuk, lebih legit dan tidak terlalu berbau.<br />
Selesai makan kami meneruskan perjalanan ke arah selatan ke Ombilin di pinggir Danau Singkarak, di mana kami bertemu dengan jalan raya yang menghubungkan Padangpanjang dengan Solok yang menyusur pinggir danau terbesar di Sumatra Barat dengan panjang 20 km dan sangat indah itu, lalu berbelok ke arah Solok dan berhenti di sebuah restoran dan tempat rekreasi, tempat saya dan rekan-rekan saya dari Kantor Regional beristirhat dan makan rujak kalau bertugas ke Solok. Puas beristirahat dan makan rujak sembari di belai angin danau, kami berbalik arah menuju Padangpanjang dan terus ke Bukittinggi. Kur berhenti di sebuah kios penjualan ikan di pinggir danau untuk membeli ikan bilis yang sangat disukai Kur untuk oleh-oleh dan untuk kami sendiri. Ikan bilis adalah sejenis ikan purba berukuran kecil khas Danau Singkarak yang populasinya semakin menyusut mengikuti menurunan permukakan air danau Singkarak, khususnya sejak PLTA yang menggunakan air Danau tersebut beroperasi.<br />
(bersambung)<br />
[1[] Amping terbuat dari beras ketan yang diolah dan ditumbuk sampai tipis dan kemudian dikeringkan, diguyur dengan air panas supaya lembek. lalu dtaburi kelapa parut, dadih (kepala susu kerbau yang dibekukan di dalam tabung bambu) dan kemudian diguyur dengan tengguli gula merah.</p>
<p>Kami tiba di Bukittinggi belum terlalu petang sehingga sempat mengunjungi toko sovenir di dekat Jam Gadang. Saya lebih banyak berada di luar saja karena sering kurang sabar melihat Kur yang sangat fasih berbahasa Minang itu—berkat pernah tinggal dengan mertuanya—yang kegigihannya dalam menawar lebih-lebih dari peperempuan Minang sendiri.<br />
<a href="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6332.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-209" title="100_6332" src="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6332.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Karena Kur dan anak-anak ingin ganti selera, malam itu kami makan martabak mesir di sebuah warung tenda. Sebenarnya saya ingin mengajak mereka makan Sate Mak Anjang khas Bukittinggi yang kuahnya bercampur dadih, yang saya ketahui berkat informasi dari Bung Heri Latief, penyair berdarah Minang yang bermukim di Negeri Belanda. Tetapi mengingat asupan kolesterol saya selama dua hari ini sudah melampaui batas, saya urungkan saja.<br />
Itu adalah malam terakhir kami di Bukittinggi. Besoknya kami akan ke Padang, dan setelah menginap semalam, keesokan siangnya kami akan kembali ke Jakarta.<br />
Keesokan harinya sehabis sarapan pagi, Kur dan anak-anak kembali ke Pasar atas untuk melengkapi oleh-oleh yang sudah dibeli sedangkan saya memilih beristirahat di kamar hotel saja. Kami berangkat ke Padang jam 11 siang, dengan mampir dulu ke Panorama di pinggir Ngarai Sianok, ke rumah kelahiran Proklamator dan Wapres Pertama RI Bung Hatta. Setelah itu singgah di gerai Kerupuk Sanjai Nita yang langsung dimasak di sana&#8212;usaha yang saya lihat berkembang dengan sangat pesat dalam dua tahun terakhir ini&#8212;untuk membeli kerupuk sanjai khas Bukittinggi dan beberapa jenis makanan kecil lainnya untuk oleh-oleh.<br />
Kemudian kami meneruskan perjalanan, berhenti di Restoran Pak Datuk di Padangpanjang yang setiap di sana saya biasanya “bingung” memilih ikan karena semuanya terlihat enak. Kembali saya melihat anak-anak makan dengan lahap. Selesai makan kami meneruskan perjalanan dan tidak lama kemudian kami memasuki, Lembah Anai cagar alam yang sangat asri dan terawat yang mungkin tidak ada duanya di Indonesia. Tadinya saya ingin berhenti di Air Mancur (air terjun) untuk berfoto, tetapi anak-anak yang saya lihat mulai mengantuk karena kekenyangan ogah turun. Akhirnya Air Mancur hanya kami liwati saja.<br />
Sebelum chek-in di Hotel Bumi Minang saya minta Inof untuk lewat jembatan Siti Nurbaya. Tetapi jalan ke sana ditutup karena hari itu bertepatan dengan pembukaan Pekan Kebudayaan Minangkabau yang lokasinya tidak jauh dari sana dan kemudian terlibat macet dan baru tiba di Hotel dan berpisah dengan Inof jam 5 petang.<br />
Saya kembali hanya mengambil satu kamar plus extra bed dengan tarif yang sedikit lebih rendah dari Novotel. Karena hotel penuh, saya tidak bisa memperoleh kamar favorit saya di lantai enam yang jendelanya besar dan menghadap ke laut, tetapi di lantai lima dengan jemdela kecil tetapi tetap menghadap ke laut. Hotel yang berarsitektur rumah bagonjong ini terletak di bagian kota lama dan di sekelilingnya terdapat beberapa Gereja yang sudah ada sejak zaman Belanda. Kalau tidak ada bangunan bergonjong lainnya di luar, kita rasanya tidak berada di ranah Minang yang masyarakatnya terkenal sangat Islamistis. Apalagi alih-alih suara azan yang terdengar jelas adalah suara dentangan loceng gereja. Ciri lain, kalau Anda menghubungi resepsionis atau unit pelayanan hotel lainnya, Anda akan disapa dengan Assalamualaikum, dan satu-satunya kitab suci yang ada di Hotel hanyalah Al Qur’an.<br />
Ketika membongkar koper dari mobil saya baru sadar bahwa koper kami sudah beranak pinak. Kur yang biasanya berfikir praktis, begitu sampai di kamar meminta bantuan pertugas hotel untuk mencari kardus untuk mengepak berbagai barang-barang bawaan.<br />
Malam itu saya mengajak Kur dan anak-anak untuk makan di Restoran Pagi-Sore yang terkenal itu yang berjarak sekitar 500 meter dari Hotel sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki, yang ketika itu kami lakukan dengan berpayung karena gerimis. Eh, rupanya sudah tutup, akhirnya saya ajak makan Soto (Padang) langganan saya di Pojok Karya yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari hotel.<br />
Malam itu saya menghubungi petugas Hotel minta hantaran mobil ke Bandara keesokan harinya.<br />
Esok paginya Kur minta saya sarapan di Hotel saja sekalipun harus bayar. Kami akan ke Bandara jam 11 jadi masih cukup waktu untuk melihat-lihat Kota Padang dengan taksi. Tetapi Kur dan anak-anak lebih memilih tinggal di kamar hotel saja, karena Padang, yang hampir tidak banyak berbeda dengan kota-kota provinsi lainnya di Indonesia memang terlihat tidak seramah Bukittinggi yang indah dan asri.<br />
Sekitar jam 2 siang pesawat Garuda GA 163 yang kami tumpangi dari Padang mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta, dan 3 jam kemudian, kami tiba dengan selamat tidak kurang suatu apa di rumah kami di Depok.<br />
Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena sudah dapat memenuhi hutang saya kepada anak-anak saya untuk membawa mereka mengunjungi kampung halaman papanya, dan mereka seperti halnya mama mereka, terlihat sangat menikmati perjalanan tersebut sekalipun singkat tetapi cukup padat.<br />
Selesai.<br />
Wassalam, Darwin<br />
Depok 24 Desember 2004</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=203&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/10/29/rntau-net-sumatra-barat-yang-cantik-dan-eksotik-jadi-turis-di-kampung-sendiri-oleh-darwin-bahar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/gubalo-itiak.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Gubalo itiak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6777.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">100_6777</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6727.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">100_6727</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thewestcoast.files.wordpress.com/2011/10/100_6332.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">100_6332</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>mengingat kembali sejarah rantaunet&#8230;</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/29/mengingat-kembali-sejarah-rantaunet/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/29/mengingat-kembali-sejarah-rantaunet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 12:40:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[milist urang awak tertua]]></category>
		<category><![CDATA[rantaunet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: MIKO AHMAD MIKARDO Bandaro Ateh Langik - Anggota RantauNet sejak Nopember 1994 - Administrator Dapua RantauNet Desember 1998 &#8211; sekarang Langkah Awal Diawali dengan kontak pribadi antara urang-urang awak mahasiswa dan permanent resident di Amerika Utara yang bertemu di cyber groups (mailing list) tentang Indonesia di awal tahun 1990-an seperti Islamic Network (IsNet), Janus, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=201&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: MIKO AHMAD MIKARDO Bandaro Ateh Langik<br />
- Anggota RantauNet sejak Nopember 1994<br />
- Administrator Dapua RantauNet Desember 1998 &#8211; sekarang</p>
<p>Langkah Awal</p>
<p>Diawali dengan kontak pribadi antara urang-urang awak mahasiswa dan permanent resident di Amerika Utara yang  bertemu di cyber groups (mailing list) tentang Indonesia di awal tahun 1990-an seperti Islamic Network (IsNet),  Janus, IDS dan lain-lain, akhirnya disepakati untuk mendirikan grup cyber urang awak. Di akhir tahun 1992 sudah  terjadi jalinan komunikasi dengan email jalur pribadi sebagai pendahuluan ide berdirinya RantauNet antara Bapak  Dr Arisman Adnan (ketika tugas belajar di Manhataan, Kansas-USA, kini dosen di Universitas Riau-Pekan<br />
Baru) serta  isteri beliau Dr Yenita Roza, Mamak Sjamsir Sjarief (kini di Santa Cruz, CA-USA), Dr Jazid Bindar (mahasiswa  Queens University-Canada, kini dosen Teknik Kimia ITB Bandung).</p>
<p>Pendistribusian email partama kali dalam suatu mailing list (group) sekitar Maret-April 1993 dilakukan melalui  alamat aris@ksuvm.ksu.edu kepunyaan Uda Dr Arisman Adnan dan berkat bantuan server Isnet, karena domain ini waktu  itu juga dipakai sebagai relayer IsNet untuk Wilayah Midwest, USA.</p>
<p>Ide nama RantauNet dan istilah Lapau adalah dari Mamak Sjamsir Sjarief, sedangkan istilah Palanta dari Uda Gindo  Arisman Adnan.</p>
<p>RantauNet Periode 1993-1995</p>
<p>Karena koneksi internet masih sangat jarang di Indonesia, anggota RantauNet hampir keseluruhan dari luar  Indonesia, para mahasiswa dan permanent resident di luar negeri seperti Ajo Dutamardin Umar (Virginia-USA),  Nurbaini McKosky (Knoxville, Tennesse-USA), Abrar Yusuf (Canberra, Australia), Ismal Sutankayo (Alberta-Canada)  dan banyak lagi para mahasiswa Minang di luar negeri antara lain: Dr RY Perry Burhan Imam Sati (USA, kini di ITS  Surabaya), Rusjdy S Arifin (USA, kini di Depdiknas Pusat).</p>
<p>Kehadiran Bundo Hayatun Nismah Rumzy dari PT Caltex, Rumbai-Riau (kini pensiunan di Jakarta) dan putera beliau M  Agita Datuak Sadeo (waktu belajar di USA, kini dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas-Padang), menjadikan  Palanta RantauNet menjadi menarik. Karena Bundo Nismah dengan senang hati rajin membuatkan abstraksi/ringkasan berita dari tanah air untuk pembaca di Lapau atau Palanta RantauNet, karena belum adanya website berita pada  waktu itu.</p>
<p>September 1993 setelah Uda Arisman Adnan lulus S2 di Manhataan, Kansas-USA, relayer dimaintain oleh Bapak Dr  Darusman Rusin (urang awak Padang Panjang kelahiran Aceh, sekarang di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala  Banda Aceh).</p>
<p>Karena tidak ada lagi pengelola ditempat lama, atas usaha Bundo Hayatun Nismah Rumzy dan Dr M Agita Datuak Sadeo,  akhirnya Mei 1994 RantauNet mendapat tumpangan di alamat rantaunet@rantau.stanford.edu dengan administrator Andy  Maas (maas@networking.stanford.edu), orang Pekanbaru yang menjadi Network Administrator di Stanford University, California-USA yang kebetulan dikenal oleh mereka. Sampai akhir tahun<br />
1995 RantauNet bertahan di server Stanford  University, California-USA ini.</p>
<p>RantauNet periode 1996-1997</p>
<p>Sekitar Februari tahun 1996 server kembali terpaksa pindah. Dan atas atas jasa baik Uda Agus Daniel yang menjadi  Network Administrator di Washington State University, mailing list RantauNet pindah tumpangan di alamat  rantaunet@virtual.ogrd.wsu.edu dengan bantuan penuh dari Bapak Syafedi Syafei dari Illinois Institute Technology  (Chicago-USA, kini di Jakarta).</p>
<p>Rantaunet Foundation (RF) dirintis semenjak meletusnya gunung Merapi di Jawa Tengah tahun 1996. Saat itu dimulai  mengumpulkan sumbangan untuk korban Merapi itu. Juli 1996, RF didirikan oleh beberapa anggota RantauNet, antara  lain oleh Bapak Jazid Bindar, Ibu Nurbaini McKosky, Uda Siegfried, Bapak Ismal Sutankayo (kini masih di  Alberta-Canada).<br />
RantauNet Foundation mempunyai Dana Abadi, kas yang pernah dipegang oleh Mamak Nadri Sa&#8217;aduddin  (Duri-Riau), Mak Sati Sjamsir Alam<br />
(Padang) serta Mamak Amzar Bandaro (Bogor).</p>
<p>Pada pertengahan Juli 1997 Bapak Dr Agus Daniel selesai kuliahnya di Washington State University dan Rantau-Net  harus mencari tumpangan ke server baru. Atas usaha Ari Noviandi (waktu itu mahasiswa ITB) pada awal Agustus 1997  didapatkan tumpangan di server isnet.itb.ac.id dari Bapak Dr Bakhtiar Muin (Urang Padang Panjang, salah seorang  pendiri<br />
Isnet) yang mempunyai sebuah server di Institut Teknologi Bandung (ITB), maka akhirnya RantauNet pindah  dengan address rantaunet@isnet.itb.ac.id. Tetapi nasib RantauNet disinipun hanya beberapa bulan saja dikarenakan  terputusnya link internet ITB ke Jepang.</p>
<p>Karena tidak ada yang bisa memberikan tumpangan server pada Oktober-Nopember 1997 mailing list RantauNet sempat  &#8216;dibajak&#8217; oleh tokoh kontroversial yang sangat terkenal dalam dunia mailing list Mamak Jusfiq Hadjar Sutan  Maradjolelo (Leiden, Belanda) dengan alamat rantaunet-d@antenna.nl.</p>
<p>Periode ini Palanta RantauNet masih diramaikan oleh mahasiswa-mahasiswa Minang di luar negeri yang disebutkan  diatas ditambah yang lainnya seperti: Dr Ir Irdamsyah Tan Gala (meninggal dunia 14 Nopember 2005) ketika itu dari  Texas-USA, Siegfried (Belfast-Irlandia, kini di PU Bandung), Masdar Tan Galamainda (sedang tugas belajar di  Missisippi-USA, kini dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu), Prof Dr Damsar Aziz (saat itu sekolah di Bielefeld-Jerman, kini guru besar FISIP Universitas Andalas), Desmawati Radjab (Tasmania-Australia, kini di UNP  Padang), Rita Desfitri sang Murai Kukuban (juga di Tasmania-Australia, kini di Universitas Bung Hatta, Padang)  dan yang menetap diluar negeri antara<br />
lain: Bapak Boes Roestam (Toronto, Canada).</p>
<p>RantauNet periode 1998-1999</p>
<p>Atas usaha Mak Ngah Sjamsir Sjarief sekitar Januari 1998 akhirnya RantauNet dapat di ambil kembali dengan  mendapatkan tumpangan di server airland.com milik adik-kakak Eddy Ernadi Budisantoso dan Sigit Budisukarta, orang  Jawa yang melalui masa sekolahnya di Padang dan Bukittinggi pada alamat rantau-net@airland.com. Administrator  pada waktu itu: Ari Noviandi dari ITB Bandung dibantu oleh Bapak Masdar Tan Galamainda (sedang tugas belajar di  Missisippi-USA, kini dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu) dan diteruskan oleh Daniel Yusuf mahasiswa ITB Bandung. Penanganan teknis server airland.com mendapat bantuan penuh dari Bapak Budi Rahardjo waktu itu dari University Manitoba, Canada dan berlanjut ketika beliau kembali ke ITB Bandung. Atas permintaan Bapak Eddy Ernadi  Budisantoso pemilik sever, ketika Bapak Masdar Tan Galamainda selesai kuliah dan pulang ke Universitas Bengkulu  akhir tahun 1998, Miko A Mikardo mulai membantu berjalannya Palanta RantauNet.</p>
<p>Beberapa nama yang ikut meramaikan Palanta RantauNet selain dari banyak nama mahasiswa diluar negeri yang  disebutkan diatas tercatat keikut sertaan pengelola website Harian Singgalang-Padang (Budi Putra, Eko Yanche  Edri, Maifil Eka Putra) dari Padang, Zahendri Rusli Chaniago (Jakarta), Syafrinal Syarien Mangkutak Raun Sabaliak (posting dari mana-mana) serta Bapak Dr HK Suhaemi di Padang dengan fasilitas RS Bunda yang sering digunakan  untuk kegiatan-kegiatan offline (sosial), Evi &#8216;Gamut&#8217; Indrawanto (Serpong, Tangerang), Khairi Yusuf Sutan Sinaro  (dari Toyohashi-Jepang, kini di FT Unand) dan Mak Sati Sjamsir Alam di Padang yang dulu sering dengan susah payah menyampaikan banyak penyaluran dana sosial RantauNet. Serta para dunsanak yang memakai domain @ptcpi.com  (sekarang @chevron.com) dari Caltex Pacific Indonesia-Riau yang sampai sekarang masih setia keberadaanya di  Palanta RantauNet, antara lain: Uda Elthaf, Madahar Batuduang Ameh, Uda Erizal Syamsir dan banyak lagi sanak dari  Riau ini.</p>
<p>Website Palanta RantauNet versi awal sudah mulai dibuat secara sederhana dari era Uda Agus Daniel di http://virtual.ogrd.wsu.edu/adaniel/minang, kemudian berpindah-pindah ke hosting gratis seperti GeoCities, Tripod  dan lainnya oleh Miko A Mikardo dan Maifil Eka Putra dan juga ikut dibantu oleh Uda Arisman Adnan (pendiri  RantauNet) yang kembali hadir karena menjadi mahasiswa<br />
S3 di University of Newcastle, UK. Sayang sekali website  tidak bertahan karena sulitna mengelola website ini.</p>
<p>Akhirnya atas sumbangan tenaga dan materi dari Bapak Eddy Ernadi Budisantoso pada tanggal 14 September 1999  dibelikan domain rantaunet.com dengan memakai server yang ada di rumah beliau di San Fransisco, USA dengan  mailing list Administrator mulai ditangani sepenuhnya oleh Miko A Mikardo dari Jakarta. Distribusi email Palanta RantauNet dilakukan melalui email rantau-net@rantaunet.com</p>
<p>RantauNet periode 2000-2003</p>
<p>Pada Oktober 2000 ketika bertemunya Bapak Eddy Ernadi Budisantoso dengan beberapa warga RantauNet di Jakarta,  antara lain: Amzar Bandaro, Arie Noviandi, Darul Makmur, Erwin Moechtar, Muhammad Dafiq Saib Lembang Alam, SM  Nuay, Muchti A Dani, Yofi Andri (alm), Maifil Eka Putra, Miko A Mikardo, disepakati untuk membuat usaha melalui website http://www.rantaunet.com untuk pembiayaan berjalannya server RantauNet. Dan pada 22 Juni 2001 berdirilah  PT Rantaunet Palanta Usaha (RPU). Sekarang badan usaha ini masih mati suri dalam misinya sebagai mesin uang  pembiayaan server RantauNet.</p>
<p>Nopember 2000 di mulai pembangunan website RantauNet versi kedua di htpp://www.rantaunet.com oleh almarhum Yofi  Andri Tanjung MKom, serta Miko A Mikardo sebagai webmaster sampai berpulangnya ke rahmatullah dunsanak kita ini  di Jakarta pada tanggal 9 Mei 2002.</p>
<p>Dana Abadi RantauNet Foundation mulai 8 Juni 2001 mulai dipegang oleh Mamak Amzar Bandaro (gantino@indo.net.id),  Bogor dan mulia berkembangkan dan menjadi lebih mempunyai arti ketika dikelola oleh beliau sampai berpulangnya  Mamak kita ini diawal Ramadhan 1429H tepatnya tanggal 4 September 2008. Banyak sekali jasa Mamak Amzar Bandaro  yang tidak bisa dihitung bagi Palanta RantauNet. Salah satunya mendistribusikan sumbangan rutin ke SMK Dhuafa  Padang atas nama RantauNet, yang Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang ini.<br />
Dana Abadi RantauNet setelah  berpulangnya Mamak Amzar Bandaro, sementara sekarang dipegang oleh Mamak Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam  (Bekasi).</p>
<p>September-Oktober 2002, terjadi intrik, fitnah dan pertengkaran yang tidak perlu terhadap berjalannya Palanta  RantauNet. Kejadian ini sempat menjadikan terbelah dan tarik menarik kepentingan yang cukup tajam diantara  pendiri, penggiat, anggota Palanta dan sukarelawan Urang Dapua Rantaunet dalam berjalannya Palanta ini.</p>
<p>Pada periode ini posting Palanta RantauNet diramaikan dengan kehadiran ustadzah Rahima Rahim yang sedang sekolah  di Universitas Al Azhar Kairo-Mesir, serta orang tua kita Mamak Sutan Zubir Amin (waktu itu Konsulat Jenderal Ri  di Marseille-Prancis, sekarang di Jakarta). Juga aktifitas off-line RantauNet yang sangat bergairah oleh rang  mudo (generasi muda) Palanta RantauNet diantaranya: Dewis Natra, Rafaini, Hendra Messa, Ronald Prima Putra,  Yuhendri, Nofendri T Lare Sutan Mudo, Yenharni Kampai, Ronal Chandra, Yulharmaen, Dr Rahyussalim, Yurnaldi  (udayoel) dengan kegiatan sosial-sosialnya serta meeting point setiap minggu pagi dilapangan tenis RUSPAU Halim  Perdanakusuma, Jakarta Timur.</p>
<p>Awal periode ini muncul juga banyak tokoh-tokoh &#8216;anonim antagonis&#8217;<br />
yang meramaikan diskusi Palanta RantauNet,  seperti: Urpas, Rarach, Esteranc Labiah, Panggugek, John Dachtar, Basri Hasan Sutan Bagindo Nagari (2 terakhir  nama asli) dengan segala pro-kontra atas kontroversial diskusi mereka.</p>
<p>Sekitar awal 2003 melalui komunikasi RantauNet diupayakan berdirinya Minang Incorporated, dengan aktifisnya Bapak  MC Baridjambek, Bapak Ridwan M Risan, Bapak Darul Makmur, Bapak Ismal Sutankayo (Alberta, Canada), Uda Ardi Usman  (California, USA), Ronal Chandra yang juga khirnya atidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.</p>
<p>RantauNet periode 2004 &#8211; 2005</p>
<p>Karena server semakin dimakan umur dan web buildernya meninggal dunia, website versi kedua di  http://www.rantaunet.com yang tanpa data back-up akhirnya pada Januari 2004 hilang bersama rusaknya server.<br />
Karena domain rantaunet.com adalah kepunyaan Pak Eddy Ernadi Budisantoso maka mulai tanggal 19 April 2004  diputuskan memakai hosting membayar setiap tahun kepada salah satu Web Hosting dengan biaya swadaya dari anggota  Palanta. Dimulailah pendistribusian email melalui palanta@minang.rantaunet.org.</p>
<p>Ephi Lintau (Yuhefizar) dari Universitas Andalas, Padang mulai pertengahan tahun 2005 membangun website versi  ketiga di http://www.rantaunet.org sekaligus menjadi web administrator&#8217;<br />
Berjalannya website harus diakui harus  memerlukan upaya besar dan konsistensi yang tinggi. Periode ini juga awal dan berkembangnya website Cimbuak  http://www.cimbuak.net oleh beberapa aktifis Palanta RantauNet, yang tadinya hanya sebagai website &#8216;Urang  Sungaipua&#8217;<br />
tetapi kemudian bergeser menjadi Portal Minangkabau serta http://www.west-sumatra.com juga menimbulkan pemikiran baru jika website Palanta RantauNet harus mencari suatu yang berbeda dari yang sudah ada.</p>
<p>Beberapa anggota yang mulai meramaikan Palanta RantauNet, seperti Mamak Mulyadi Datuak Marah Bangso (Palembang),  Mamak Zul Amri Piliang (Denpasar), Zulhendrif Bandaro Labiah, Tasril Moeis Tan Ameh (Jakarta), Uni Hanifah  Damanhuri (Bengkulu), M Syahreza dan bergabungnya banyak keturunan Minangkabau yang ada di negeri jiran Malaysia.</p>
<p>RantauNet Periode 2006 &#8211; sekarang</p>
<p>Dengan anggota-anggota dan penggiat-penggiat yang punya kegigihan yang luar biasa seperti Uda Yulnofrins Napilus  (Jakarta) dan orang tua kita Bapak Chaidir Nien Latief Datuak Bandaro (Bandung; meninggal dunia 25 Februari 2008,  pada usia 80 tahun), Bapak Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo (Jakarta; mantan Komisioner Hukum Adat, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) serta Ibu Nuraini B Prapdanu (Bekasi), Heri Tanjuang (Paris, France) dan beberapa  nama lain di Jakarta:<br />
Asfarinal Nanang (Jakarta), , Eka Tarwiyat Hadisaputra (Jakarta), Aslim Nurhasan, Herman  Jambak dan penggiat angkatan muda Palanta RantauNet, antara lain: Beni Innayatullah, Boby Lukman Piliang, Arief Budiman S Rangkayo Mulia, Yos Fitrayadi (Mantari Sutan) dan beberapa yang lainnya.</p>
<p>Palanta RantauNet semakin bermakna karena ikut sebagai tempat dilakukannya komunikasi awal ide-ide dan kerja  besar membangun<br />
Minangkabau:<br />
1. MPKAS (Masyarakat Pencinta Kereta Api Sumatera Barat), September<br />
2006 2. MAPPAS (Masyarakat Peduli Pariwisata Sumatera Barat) 3. Forum Saudagar Minang, Oktober 2007 4. Rencana Kompilasi Adat Basandi Syarak, Sayarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), 2007-2008 Karena serangan junk dan spam mail yang semakin menggila sehingga semakin sulit secara teknis mengurus mailing  list di server sendiri maka bulan Maret 2007, Palanta RantauNet memilih rantaunet@googlegroups.com sebagi  distribusi email.</p>
<p>Adinda Nofendri T Lare dari Banda Aceh mulai akhir 2006 juga mulai aktif penuh di Dapua RantauNet, selain  sanak-sank yang ikut mamantau di Dapua sejak lama, seperti: Zahendri Chaniago, Darul Makmur dan Bundo Hayatun  Nismah Rumzy.</p>
<p>Belakangan hadir juga kembali nama-nama lama yang mempunya kompetensi untuk bahasan tentang Minangkabau dan  masalah-masalah sosial umum yang berkaitan dengan Minangkabau, seperti: sanak Suryadi (peneliti dan filologis,  Universitas Leiden-Netherland), Buya H Mas&#8217;oed Abidin (Padang), Eka Aurihan Datuak Endang Pahlawan (Jakarta),  Azmi Abu Kasim Datuak Bagindo (Jakarta), Drg Abraham Ilyas (Palembang), Indra Jaya Piliang (Peneliti dan Calon  Legislatif 2009), Uda Andrinof Chaniago (peneliti UI Depok), Dr HK Suhaimi (Paang &amp; Pekanbaru), serta banyak  nama-nama yang sangat bersemangat menyampaikan tulisan serta berdiskusi tentang Minangkabau, antara lain: Jupardi  alias Andi Jepe (Pekanbaru), Dedy Yusmen (Jakarta), Evy Nizhamul (Serpong, Tangerang), Zulkarnaian Kahar  (sekarang di Houston, Texas-USA), Nofiardi (Pangkalan Kerinci-Riau), Syofiardi Bachyul (dari www.padangkini.com; Padang), Mairizal &#8216;Riri&#8217; Chaidir (Bekasi) dan banyak nama lagi yang tidak mungkin bisa disebutkan satu persatu.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Palanta RantauNet sudah eksis jauh sebelum mailing list sangat populer sebagai media komunikasi groups seperti  sekarang ini. Malah Palanta RantauNet sudah ada jauh sebelum adanya mailing list gratis, mulai dari OneList.com  kemudian merger dengan eGroups.com dan akhirnya dibeli Yahoo menjadi YahooGroups.com sebagai server mailing list terbesar saat ini dan kemudian belakangan Google yang juga menyediakan mailing list gratis GoogleGroups.com.  Palanta RantauNet awalnya berjalan secara berpindah-pindah mencari tumpangan pada server-server di Amerika  Serikat karena belum berkembangnya internet di tanah air saat itu dan pada akhirnya saat ini Palanta RantauNet  ikut memakai RantauNet@yahoogroups.com dan RantauNet@GoogleGroups.com</p>
<p>RantauNet tidak pernah menyatakan diri sebagai mailing list representatif dari Urang Rantau. Karena dengan  teknologi informasi sekarang dimana jarak dan waktu bukan menjadi masalah lagi, harusnya dikotomi antara Ranah  dan Rantau sudah tidak seharusnya lagi dipermasalahkan. Nama RantauNet dipilih awalnya hanya karena mailing list  ini berdiri di rantau Amerika Serikat.</p>
<p>Walaupun RantauNet mempunyai &#8220;Dana Abadi RantauNet Foundation&#8221;(!?), sayang sekali secara formal organisasinya  tidak pernah bisa terwujud.<br />
Sejak tahun 1999 beberapa kali dicoba membuat organisasi internal RantauNet  (non-profit), tetapi tidak pernah dapat berjalan bahkan selalu layu sebelum berkembang. Karena diskusi untuk  membentuk organisasi RantauNet selalu menjadi isu yang tidak menarik di Palanta PantauNet sendiri.</p>
<p>Tentu saja berjalannya Palanta RantauNet melibatkan sangat banyak nama-nama dalam perjalanannya, jadi masih  dibutuhkan cek and recek dan perubahan yang terus menerus untuk detail garis besar sejarah di atas. Karena memang  sejarah RantauNet begitu berwarna, melibatkan ribuan nama yang datang-pergi atau keluar-masuk ataupun anggota  yang sampai sekarang masih bertahan yang tidak mungkin bisa disebutkan satu persatu. Karena memang melalui  rentang waktu yang cukup lama dan sangat panjang. Bagaimanapun RantauNet sangat berterima kasih kepada pendiri-pendiri dan aktifis-aktifis RantauNet yang disebutkan diatas ataupun yang belum disebutkan karena sangat  mungkin banyak sekali nama yang terlupakan. Juga kepada seluruh Mamak-mamak, Ibu-ibu, Uni-uni, Uda-uda dan  seluruh warga RantauNet yang tetap ada di tengah-tengah komunitas ini dalam pasang naik dan surutnya perjalanan Palanta RantauNet ini.</p>
<p>Arsip-arsip lama Palanta Rantaunet yang masih tersisa bisa dilihat:<br />
2000-2003 	http://www.mail-archive.com/rantau-net@rantaunet.com/mail123.html<br />
2005-sekarang	http://groups.yahoo.com/group/RantauNet</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=201&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/29/mengingat-kembali-sejarah-rantaunet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kebun BInatang Bukittinggi</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/11/sejarah-kebun-binatang-bukittinggi/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/11/sejarah-kebun-binatang-bukittinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 23:59:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[For de Kock]]></category>
		<category><![CDATA[Kebun Banatang]]></category>
		<category><![CDATA[kebun Bunga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Era Sakti 12 September 6:42 Sejarah Kebun BInatang Bukittinggi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Bukittinggi adalah salah satu kota yang diakui memiliki peran dan pengaruh dalam perjalanan sejarah Indonesia. Penulisan sejarah kota ini telah diusahakan oleh berbagai peneliti yang membahas aktifitas sosial ekonomi, politik. Sebagai bagian daerah darek di Sumatera Barat, kota ini mulai memiliki nilai lebih dan diutamakan sejak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=199&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
Era Sakti<br />
12 September 6:42<br />
Sejarah Kebun BInatang Bukittinggi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Bukittinggi adalah salah satu kota yang diakui memiliki peran dan pengaruh dalam perjalanan sejarah Indonesia. Penulisan sejarah kota ini telah diusahakan oleh berbagai peneliti yang membahas aktifitas sosial ekonomi, politik. Sebagai bagian daerah darek di Sumatera Barat, kota ini mulai memiliki nilai lebih dan diutamakan sejak Belanda mulai aktif menekan pihak Paderi dimasa berkecamuknya Perang Paderi 1821-1837. Dan pada tahun 1888, Belanda mengusahakan perluasan kota ini, yang mencapai 75% dari daerah Kanagarian Kurai Limo Jorong.</p>
<p>Sebuah keunikan yang jarang dikaji dan ditulis seiring dengan perjalanan sejarah Kota Bukittinggi adalah sejarah objek wisata kebun binatang Bukittinggi, yang bila dilakukan penelitian lebih lanjut dapat dilihat bahwa munculnya kebun binatang tertua kedua di Indonesia itu berkaitan erat dengan sejarah penguasan kota ini oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.</p>
<p>Penguasaan daerah Bukittinggi oleh Belanda diikuti dengan usaha membuat dan menyediakan berbagai sarana bagi para penguasa Belanda yang ada di kota ini. Untuk melepas lelah dan bersantai setelah bekerja, maka Pemerintah Kolonial Belanda membuat sebuah taman, kebun bunga yang mereka kembangkan hingga menjadi sebuah kebun binatang.</p>
<p>Berkuasanya Pemerintahan Kolonial Belanda di Bukittinggi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Bangsa Belanda pertama kali mendarat di Padang tahun 1818. Mereka berusaha mendapatkan kedudukan di daerah Sumatera Barat dengan jalan melibatkan diri dalam konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda ikut aktif membantu kelompok adat menekan kelompok agama dalam Perang Paderi 1821-1837.</p>
<p>Belanda melakukan usaha penekanan kelompok agama di sekitar Agam, Pasaman yang ditindak lanjuti dengan pembuatan perjanjian persahabatan dengan Penghulu Kurai Lomo Jorong yang berisi: adanya kerjasama dan usaha bersama kelompok adat (yang diwakili penghulu) dengan Belanda dalam menekan kelompok agama. Kesepakatan ini dibuat tahun 1820, dan hasil perjanjian ini ditindak lanjuti dengan pemberian izin oleh Penghulu Kurai Lomo Jorong pada Belanda untuk mendirikan benteng di daerah ini dalam tahun 1825/1826. Saat itu Kapten Bauer mendirikan Benteng Sterreschant yang kemudian lebih dikenal dengan Benteng Fort De Kock di Bukit Jirek. Benteng inilah yang menjadi cikal bakal penguasaan dan perluasan kekuasan Belanda di Bukittinggi, Agam dan Pasaman. Penguasaan Belanda berlanjut ke Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malambung yang merupakan areal pengembangan Kebun Binatang Bukitinggi.<br />
Didaerah-daerah penguasaan Belanda itulah didirikan beberapa kantor, rumah pemerintah sipil, rumah rapat, kompleks kuburan, pasar, sarana dan prasarana transportasi, sekolah serta sarana rekreasi. Untuk memperkuat kedudukan Belanda mereka memanfaatkan pemimpin-pemimpin tradisional Minangkabau. Untuk daerah Bukittinggi, Agam yang disebut dengan Staats Gementee Fort De Kock dikepalai oleh seorang Controleur yang dijabat oleh orang Belanda. Mereka memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat terutama pemimpin-pemimpin adat di nagari-nagari Agam, Bukittinggi. Masyarakat menyebutnya dengan “Tuanku Kumentur” (Tuanku Kumandua), ia sangat ditakuti, berhak mengeluarkan instruksi-instruksi yang harus dijalankan rakyat, mengeluarkan hukum bagi pelanggar.</p>
<p>Kebun Bunga (Strom Park) sampai Kebun Binatang Bukittinggi (Fort De Kocksche Dieren Park)&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Bukit Malambuang adalah salah satu bukit yang terdapat di kawasan Bukittinggi, dengan posisi yang bersebelahan dengan Bukit Jirek (Benteng Fort De Kock) dan Bukit Kubangan Kabau (Pasar Atas sekarang). Berdasarkan Meetderief Nomor 78 Register No 353 tanggal 30 Agustus 1933 Bukit Malambung memiliki luas 33.620 M 2, dengan ketinggian 924 M diatas permukaan laut dengan iklim pegunungan (sub tropis) bersuhu 18-22 °C. Di puncak bukit ini terdapat dataran yang sering dipakai anak nagari untuk melakukan pertandingan adu perkutut, manaikkan layang-layang (melambungkan layang-layang), dan berbagai permainan lain. Sedangkan dibagian lereng lainnya terdapat area pemakaman penduduk di sekitar kawasan Bukit Malambuang. Karena panorama bukit yang begitu indah, maka disore hari anak nagari dan masyarakat Bukittinggi sering bersantai dan melepas lelah di area puncak bukit ini. Dari sana mereka dapat menikmati panorama Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago, Gunung Pasaman, dan Ngarai Sianok. Bukit malambuang juga dijadikan sebagai tempat mengembalakan kambing, sapi dan domba milik orang-orang keling (keturunan India).</p>
<p>Sejak diberikannya kekuasaan atas tanah di Bukit Jirek oleh Penghulu Kurai Limo Jorong pada Belanda, apalagi setelah keluarnya Surat Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda No. 1 Tahun 1888, yang berisi tentang perluasan penguasaan Belanda di Bukittinggi secara otomatis mereka telah memiliki hak dalam pengelolaan beberapa bukit di daerah Bukittinggi. Perluasan kekuasaan Belanda ini diistilahkan masyarakat dengan “tajua nagari ka Bulando”.</p>
<p>Karena ketertarikan atas keindahan panorama di Bukit Malambuang serta telah adanya kekuatan hukum yang dimiliki Belanda, maka Controleur Belanda di Bukittinggi yang bernama Gravenzanden melakukan pengembangan bukit ini dengan menjadikannya kebun bunga “strom park”. Atas perintahnya semak-semak di Bukit Malambuang dibersihkan, dilanjutkan dengan pemindahan kuburan masyarakat yang terdapat di area ini. Setelah itu ditanamlah berbagai jenis pohon, bunga, pembuatan taman-taman, bangku-bangku sebagai tempat bersantai. Bahkan di tengah-tengah tanah lapang di puncak bukit dibuatlah sebuah lapangan tenis yang dinamai Lapangan Tenis Baan. Pekerjaan untuk pembersihan area bukit, terpaksa memindahkan kuburan masyarakat. Untuk itu diberikanlah ganti rugi untuk pihak keluarga sebanyak 5-20 gulden. Setelah dilakukannya perubahan dan perbaikan ini, ternyata kebun bunga lebih diperuntukkan bagi para penguasa Belanda di Bukittinggi. Karena area kebun bunga hanya dijadikan sebagai tempat beristirahat, melepas lelah disore hari maka taman ini tidak memiliki pengelola secara resmi. Penamaan kebun bunga ini masih akrab dengan masyarakat Sumatera Barat sampai tahun 1980-an, masyarakat menyebutnya dengan “kabun bungo”.</p>
<p>Karena makin kuatnya determinasi kekuasaan Belanda di Indonesia dan termasuk di Bukittinggi ternyata ikut memberi pengaruh pada perubahan dan arah kebijakan pemerintah Belanda terhadap kebun bunga. Hal ini dapat dilihat dengan diberikannya hak bagi pengembangan taman bunga pada pihak yang tertarik untuk memperbaikinya. Drh. J. Heck seorang dokter hewan di kota Bukittinggi, Groeneveld seorang Asisten Resident Van Agam yang merangkap sebagai Voortter-Gemeente-Raad Fort De Kock, J.H Schalling merupakan sekretaris Van de Geemente-Raad Fort De Kock, Edwar Jacoboan seorang hartawan berkebangsaan Belanda. Mereka berusaha menjadikan kebun bunga (strom park) yang dikembangkan sejak tahun 1900 untuk dijadikan kebun binatang.</p>
<p>Sebuah hal menarik yang pernah terjadi di Indonesia adalah dengan didatangkannya arsitek Belanda ke Indonesia pada tahun 1900-an, mereka bekerja di kotamadya (gemente) di seluruh Indonesia. Sebagai pola umum pada kota yang dikembangkan oleh para arsitek Belanda, mereka berusaha membuat sebuah taman kota dan tempat bersantai di daerah kotamadya yang dikembangkan. Nampaknya kebijakan dan usaha permbaharuan oleh para arsitek Belanda ini juga terjadi di Bukittinggi sehingga pemerintah Hindia Belanda memberi peluang agar kebun bunga dikembangkan menjadi kebun binatang sekaligus sebuah area taman kota untuk sarana rekreasi dan bersantai.</p>
<p>Karena berbagai dukungan itu, maka tanggal 3 Juli 1929 kebun bunga (strom park) dirubah dan dikembangkan menjadi kebun binatang yang dinamai “Fort De Kocksche Dieren Park” atau Kebun Binatang Bukittinggi, sejak itulah dibangun kandang-kandang yang bagus (dimasa itu) dan permanen untuk penempatan hewan-hewan koleksi kebun binatang. Pada tahap awal pembangunan kebun binatang ini dibuatlah kandang-kandang binatang koleksi dengan bentuk persegi sebelas. Tiap sudut ditarik batas ketengah pohon beringin yang merupakan pusatnya. Pada bulan Juli1929 itu, Kebun Binatang Bukittinggi diisi dengan hewan koleksi sederhana seperti: burung, kelinci, ayam hutan, dan kuaw. Karena makin banyaknya jenis koleksi hewan burung yang terdapat di kebun binatang, maka A.Murad Sutan Batuah, seorang kepercayaan Belanda di kebun binatang memperbaiki kandang-kandang burung agar lebih baik dan aman dari gangguan tikus. Kemudian dilanjutkan dengan pembatasan area Bukit Malambuang dengan kawat berduri sehingga anak nagari yang biasa bermain disana menjadi terhalang dan tak dapat lagi menggunakan lokasi ini sebagai tempat bermain. Untuk perkembangan selanjutnya dibuat pula kandang rusa, kandang kasuari, kandang kambing hutan, kandang singa, dari terali besi bekas penjara militer Belanda di Lubuk Basung.</p>
<p>Dalam mendatangkan koleksi-koleksi hewan baru pihak pengelola kebun binatang dibantu pula oleh Groeneveld yang merupakan Asisten Resident Agam dan merangkap Voorzitter Gemeente-Raad Fort De Kock dapat dengan mudah mendatangkan satwa-satwa yang di butuhkan dan ditemukan dari sekitar kawasan Agam dan Bukittinggi. Tentu dapat kita bayangkan bagaimana keadaan alam dan satwa liar dimasa itu tentu jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Lingkungan yang masih asri, perburuan yang masih kurang, tentu membuat koleksi kebun binatang dapat dilengkapi dengan mudah. Dan sebuah budaya orang-orang Belanda dimasa penjajahan yang mendukung pengembangan kebun binatang adalah kebiasaan berburu hewan-hewan liar di daerah-daerah perbukitan yang hasil buruannya diserahkan pada pihak pengelola kebun binatang.</p>
<p>Dibidang kepemimpinan dan pengelolaan Kebun Binatang Bukittinggi ternyata Belanda tidak main-main, ia memilih dan mempercayakan kepemimpinannya pada A.Murad St. Batuah, seorang pribumi yang dinilai memiliki profesionalisme dan integritas yang tinggi bagi pengembangan kebun binatang tersebut. Ia dipercaya dari tahun 1929-1932. Sebagai pemimpin pertama kebun binatang ia dinilai cukup berhasil. Setiap kegiatan dan usahanya dilaporkan pada Drh,J. Heck, Groeneveld, J.H. Schalling, Edwar Jacoboan yang bertindak sebagai tim pengontrol dan penilai keberhasilan institusi ini.<br />
Setelah periode kepemimpinan A. Murad St.Batuah, beliau digantikan oleh Van Ommen dari tahun 1932-1933. Dimasa kepemimpinannya beliau berhasil meningkatkan jumlah koleksi kebun binatang karena adanya tenaga ahli dan ketersidiaan dana. Setelah periode kepemimpinan Van Ommen ia digantikan oleh Opstal yang merupakan seorang bekas tentara Belanda (eks KNIL) . Dimasa kepemimpinannya dari tahun 1933 ternyata kebun binatang ini mengalami masa gemilang dengan mampu melengkapi jumlah koleksi kebun binatang. Kebun Binatang Bukittinggi mampu mensuplai 150 ekor binatang koleksi khas Sumatera ke Kebun Binatang Surabaya yang telah berdiri sejak tahun 1916 dan untuk kompensasinya Kebun Binatang Surabaya mengirim koleksi binatang khas Indonesia timur ke Bukittinggi. Tahun 1934 pimpinan kebun binatang digantikan oleh Smith, 1935 dipimpin oleh Nutzman, Schap tahun 1936, dan Drh. Bernecker merupakan dokter hewan dari Belanda yang bertugas di Bukittinggi yang memimpin dari tahun 1936-1937. Dalam periode 1931-1935 dilakukan pembangunan kandang-kandang baru yang diisi dengan harimau, beruang hitam, macan tutul, orang hutan, ular, anoa, buaya, dan banteng liar. Dari segi pengunjung diperiode ini hanyalah untuk orang Belanda[28]. Tempat ini hanya diperuntukkkan bagi para penguasa Belanda yang ingin bersantai.</p>
<p>Masa kepemimpinan Nutzman tahun 1935, munculah ide untuk melakukan penambahan sarana di Kebun Binatang Bukittinggi (Fort de Kocksche Dieren Park) yaitu usaha pembangunan rumah gadang baanjung di area kebun bintang. Untuk peletakan batu pertamanya dilakukan tanggal 1 Juli 1935. Rumah Gadang Baanjuang ini berukuran 36,5 x 10 M2 dengan 7 gonjong. Rumah gadang ini bertipe gajah maharam yang merupakan jenis rumah koto piliang yang memiliki anjungan di bagian kiri dan kanan. Untuk melengkapi dengan arsitektur standar minang, maka tahun 1955/1956 dilengkapi dengan pembangunan rangkiang sibayau-bayau, sitinjau lauik, dan ditambah dengan dibangunnya rumah tabuah. Sebagai fungsi utamanya rumah gadang ini dijadikan sebagai museum yang mengoleksi barang-barang sejarah dan barang budaya.</p>
<p>Rumah gadang ini di kerjakan oleh tukang-tukang dari Panyalaian Padang Panjang, Lasi IV Angkek Candung. Kayu sebagai bahan utama didatangkan dari daerah sekita Bukittinggi, atap menggunakan ijuk yang dibawa dari Batusangkar dan Solok. Setiap ukiran memiliki nilai filosofi dan estetika Minangkabau. Untuk melengkapi prasarana maka dibangun pula sebuah restoran oleh pengusaha Cina di area kebun binatang ini pada tanggal 1 September 1935.</p>
<p>Tahun 1937-1938 tidak diketahui siapa pemimpin kebun binatang, barulah tahun 1938 kebun binatang ini dipimpin oleh Drh. Bernecker sampai tahun 1945. Beliau memimpin kembali kebun binatang ini untuk yang kedua kalinya. Dimasa kepemimpinan nya yaitu tahun 1941 datanglah pemimpin Kebun Binatang Surabaya Scoemacher ke Bukittinggi dan ia berkujung ke Kebun Binatang Bukittinggi. Setelah melihat keadaan Kebun Binatang Bukittinggi, Scoemacher memuji Kebun Binatang Bukittinggi “inilah kebun binatang yang terbaik dan terindah di Hindia kita”. Hal ini merupakan sebuah penghargaan yang diberikan atas kelengkapan koleksi, kebersihan dan keindahan Kebun Binatang Bukittinggi yang waktu itu telah memiliki 155 macam koleksi satwa. Kebersihan kebun binatang dilengkapi dengan adanya air bersih untuk minum dan mandi satwa yang dipelihara sehingga menghasilkan banyak keturunan. Dari segi kedudukan organisasi kebun binatang ini yang disebut dengan Dieren Park / Dieren Tuin Fort De Kocksche (Kebun Binatang Bukittinggi). Organisasi ini memiliki status sebagai bagian dari pemerintahan Staad Gemeente Fort De Kock yang memiliki 21 orang pegawai. Sehingga dari segi kedudukan dan perhatian pemerintah tentunya akan lebih optimal.</p>
<p>Tahun 1941 pengelolaan kebun binatang Bukittinggi yang telah ditata oleh Belanda, memiliki struktur organisaasi tersendiri yang telah membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing bagiannya.<br />
Direktur : Drh.MF.Berbecker</p>
<p>(merangkap kepala dinas pasar dan rumah potong Fort De Kock)Struktur Organisasi Kebun Binatang Bukittinggi tahun 1941.</p>
<p>Mandor: Thahar Sutan Mudo</p>
<p>Kepala Bagian Rumah Gadang: Nawi Sutan Bagindo</p>
<p>Bendahara: Makmur Datuiak Palindih</p>
<p>Kepala Bagian Bangunan: Datuak Magek</p>
<p>Penjual karcis: Apan Sutan Sari Pado</p>
<p>Pekerja Biasa : 15 Orang</p>
<p>Karena makin banyaknya masyarakat yang tertarik untuk mengunjungi kebun binatang maka mulailah dilakukan pengembangan dengan memberi kesempatan bagi masyarakat umum untuk bisa masuk dan melihat koleksi kebun binatang. Pada tahun 1941 diberlakukanlah karcis masuk bagi pengujung. Karcis untuk dewasa 10 sen, untuk anak-anak 5 sen ( sebagai perbandingan harga nasi bungkus waktu itu adalah 2,5 sen). Sedangkan untuk anggaran dana pemerintah Hindia Belanda untuk kebun binatang adalah 800 gulden (sebagai perbadingan harga emas waktu itu adalah, 1 emas 1,6 gulden) dan dana didukung sepenuhnya oleh Assistant Residen Agam waktu itu yaitu Burgemeester Nydam dan sekretaris walikota Fort De Kock Grvutes[34]. Karena mahalnya harga karcis masuk pada waktu itu, maka yang mengunjungi kebun binatang hanyalah dari kelompok orang-orang menengah ke atas sedangkan bagi masyarakat biasa, umumnya hanya mengunjungi kebun binatang sekali dalam setahun yaitu saat hari raya Idul Fitri dan sebagian ada yang berkunjung saat sanak saudara pulang dari rantau dan ingin bertamasya di Bukittinggi.</p>
<p>Kebun Binatang Bukittinggi dimasa Pendudukan Jepang dan Diawal Kemerdekaan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Tahun 1942 Jepang telah berkuasa di Indonesia, termasuk di Kota Bukittinggi. Daerah ini diberi nama “Bukittingggi Shi Yasuko”, yang dari segi daerah kekuasaanya lebih luas dari masa pemerintahan Kolonial Belanda. Dengan mencakup daerah Kurai Limo Jorong, Ngarai Sianok, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba, Bukit Batabuah, dan beberapa daerah yang masuk dalam daerah Agam sekarang[36]. Keadaan ini bertahan sampai tahun 1945. Dimasa kekuasaan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai tempat kedudukan Komandemen Militer se Sumatera dengan komandonya yang bergelar Saiko Sikikankakka dibawah Jendral Kabaya Shi.</p>
<p>Diawal kedatangan Jepang ke Kota Bukittinggi, tepatnya 21 Maret 1942 dengan semboyan “Asia Untuk Asia” mulai mendapat simpati sebagaian masyarakat. Namun seiring dengan penguasannya di Indonesia yang telah melakukan berbagai kekerasan, mulailah muncul pergolakan dan usaha penentangan terhadap kekuasaan Jepang, termasuk di Bukittinggi. Perlawanan terhadap Jepang di Kota Bukittinggi yang terkenal dilakukan oleh Syamsuddin dan Abbas Rahman.</p>
<p>Terjadinya kekacauan politik di Kota Bukittinggi, berdampak buruk terhadap pengelolaan kebun binatang. Jepang sama sekali tidak memperhatikan keadaan kebun binatang, malahan mereka merusak saluran air untuk kebun binatang dan mengalihkannya untuk keperluan tentara Jepang. Banyak satwa-satwa penghuni kebun binatang yang ditembaki dan di bayonet. Sekeliling kebun binatang dibuat lobang-lobang untuk pertahanan tentara jepang di Bukittinggi. Terowongan atau lobang-lobang yang dibuat Jepang di sekitar area kebun binatang terhubung dengan Lobang Jepang yang dibuat dengan kerja paksa dan penderitaan bagi pekerjanya yang berasal dari orang-orang Sumatera Barat. Pembuatan Lobang Jepang yang dilakukan di Bukittinggi adalah usaha mengembangkan kota bawah tanah dan sebagai tempat pertahanan Jepang. Titik-titik penyebaran lobang kota bawah tanah ini menyebar di sekitar kota Bukittinggi.<br />
Sebagai pengaruh dari minimnya perhatian terhadap kebun binatang banyaklah satwa-satwa peliharaan yang mati, dibunuh, dan tak terawat, sehingga banyak kandang-kandang yang satwa yang kosong.<br />
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, Jepang kalah dalam perang menghadapi sekutu yang berakibat pada lemahnya kekuatan Jepang di Indonesia. Hal ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pemimpin-pemimpin Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Pada tanggal 17 Agustus 1945 berkumandanglah proklamasi Indonesia yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Indonesia merdeka.<br />
Pasca kemerdekaan Indonesia, politik tidak serta merta mengalami perubahan kearah kestabilan. Indonesia sebagai sebuah negara baru sibuk berbenah dan mempersiapkan badan-badan yang diperlukan untuk sebuah Negara merdeka. Selain itu keadaan masyarakat sat itu sangat memperihatinkan, mereka hidup menderita, tertindas, kelaparan dan nyaris tanpa pakaian.</p>
<p>Keadaan kebun binatang sangat menghawatirkan, tanpa pengelola. Demi menjaga dan menyelematkan Kebun Binatang Bukittinggi maka ketua Komite Nasional Indonesia kota Bukittinggi yaitu: M.Z. Dt. Maharajo menunjuk A. Murad St. Batuah sebagai pimpinan kebun binatang[44]. Karena keadaan yang belum aman, maka dimasa kepemimpinan A. Murad St. Batuah setelah kemerdekaan ini tidak banyak perubahan yang dapat beliau perbuat. Masa jabatan beliau dimulai tahun 1945-1949.<br />
Melihat perubahan situasi politik di Indonesia sejak kedatangan Jepang tahun 1942 sampai periode awal kemerdekaan tahun 1949 dapat disimpulkan bahwa keadaan politik, ekonomi, sosial yang tidak stabil menyebabkan pengelolan kebun binatang mengalami masalah besar bahkan nyaris ditutup karena ketiadaan pengelola&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=199&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/11/sejarah-kebun-binatang-bukittinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surfing in West Sumatra</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/07/surfing-in-west-sumatra/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/07/surfing-in-west-sumatra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 05:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Minagkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Minang]]></category>
		<category><![CDATA[sea wave. mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[Surfing]]></category>
		<category><![CDATA[surfing in West Sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Dear All, Menambahkan aja utk isu Surfing ini, bagi yg tertarik, walaupun gak bagus-bagus amat slide movienya, silahkan buka di http://faceofindonesia.com/rankmarola/video/4922/indahnya-ranah-minang. Atau di Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=tNMM7zZfD60. Bukan khusus Mentawai tetapi ada info tentang potensi surfing di Mentawai yang kadang banyak yg belum tahu&#8230; Setidaknya itu baru SEBAGIAN KECIL keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia yang ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=192&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Menambahkan aja utk isu Surfing ini, bagi yg tertarik, walaupun gak bagus-bagus amat slide movienya, silahkan buka di http://faceofindonesia.com/rankmarola/video/4922/indahnya-ranah-minang. Atau di Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=tNMM7zZfD60. Bukan khusus Mentawai tetapi ada info tentang potensi surfing di Mentawai yang kadang banyak yg belum tahu&#8230; Setidaknya itu baru SEBAGIAN KECIL keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia yang ada di Sumbar&#8230;</p>
<p>Utk yang suka bikin trip dan promosi, ada versi kecil utk HP, BB, iPhone atau Mobile Gadgets sktr 13 MB. Kalau mau download, silahkan coba dr link ini (bebas disebarkan for non commercial use):</p>
<p>http://www.filehosting.org/file/details/260493/West_Sumatra_Promotion_for_Mobile_Gadgets.wmv</p>
<p>Let&#8217;s keep supporting VISIT INDONESIA YEARS by Wonderful Indonesia&#8230;! Semoga berkenan.Terima kasih,</p>
<p>Salam,<br />
Nofrins Napilus<br />
www.faceofindonesia.com/nofrins<br />
www.nofrins.west-sumatra.com<br />
www.TRAIN.west-sumatra.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=192&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/07/surfing-in-west-sumatra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
<enclosure url="http://www.filehosting.org/file/details/260493/West_Sumatra_Promotion_for_Mobile_Gadgets.wmv" length="0" type="video/asf" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RN: IDUL FITRI DAN TRADISI MINANG  Mochtar Naim</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/02/rn-idul-fitri-dan-tradisi-minang-mochtar-naim/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/02/rn-idul-fitri-dan-tradisi-minang-mochtar-naim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2011 03:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran di Ranah]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[IDUL FITRI DAN TRADISI MINANG Mochtar Naim 1 Syawal 1432 H M ENGINGAT kembali tradisi Idul Fitri yang khas Minang untuk diceritakan secara hangat dan menarik di mimbar opini surat kabar “Haluan” ini, sekarang ini terasa tak lagi segampang seperti membalikkan telapak tangan. Mungkin keningnya harus dikerutkan dulu, dan telunjuknya harus dilekatkan ke kepala, mengingat-ingat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=195&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>IDUL FITRI DAN TRADISI MINANG</strong></p>
<p align="center"><strong>Mochtar Naim</strong></p>
<p align="center">1 Syawal 1432 H</p>
<p align="center">
<div>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td align="left" valign="top">M</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>ENGINGAT kembali tradisi Idul Fitri yang khas Minang untuk diceritakan secara hangat dan menarik di mimbar opini surat kabar “Haluan” ini, sekarang ini terasa tak lagi segampang seperti membalikkan telapak tangan. Mungkin keningnya harus dikerutkan dulu, dan telunjuknya harus dilekatkan ke kepala, mengingat-ingat masa lalu di mana tradisi itu masih kental Minangnya yang semua kita mengikuti dan menikmatinya, dan hanya kita.</p>
<p>Soalnya orang Minang yang hidup sekarang seperti saya juga dan semua kita bukan lagi hanya orang Minang saja lagi, tetapi dia dan kita adalah juga orang Indonesia dan bahkan orang moderen mancanegara yang sudah kejipratan oleh sekian banyak pengaruh-pengaruh luar lainnya dari manapun datangnya. Apalagi melalui bacaan dan media massa elektronik yang begitu beragam kita setiap hari disodorkan dan bahkan dicecar dengan bermacam informasi apapun yang sendirinya akan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap cara hidup dan cara bersikap kita. Cobalah kita tanya dan cek sendiri, apa yang khas Minang yang masih lekat di badan kita sekarang ini, walau kita secara sadar mengatakan bahwa kita adalah orang Minang? Kita barangkali akan heran sendiri bahwa apapun yang kita pakai dan lekatkan ke badan diri sendiri, baik berupa pakaian, perhiasan, dandanan, dsb, dari kepala sampai ke kaki, maupun dan apa lagi yang masuk ke kepala yang lalu membentuk kebiasaan dan tradisi dari cara hidup dan cara berfikir kita, kayaknya nyaris tak ada yang khas dan tipikal Minang lagi. Memang kita adalah orang Minang, tetapi kita adalah juga orang Indonesia dan orang dunia, yang kebetulan juga orang Islam.</p>
<p>Makanya di saat Hari Raya Idul Fithri seperti sekarang ini, kita keluar rumah dengan berpakaian bagus, dan baru, dengan harum-haruman, dan hiasan yang kentara, berbedakah kita dengan orang bukan Minang, baik di Minang di Sumatera Barat sendiri ataupun di rantau di manapun? Rasanya tidak. Kita adalah seperti kebanyakan yang lain-lainnya. Paling-paling, kalau sembahyang ke mesjid, kita pakai sarung dan kupiah, berjas atau berbaju koko, lalu berjilbab bermukena bagi yang perempuan, yang semua itu adalah barang jahitan bikinan perusahaan-perusahaan jahitan Sukabumi dan Cianjur, yang dijual di pasar Tanah Abang, yang pasarannya tersebar ke seluruh pasar di Indonesia ini. Hasilnya? Semua kita menjadi sama dan seragam atau beragam dalam keseragaman. Kalaupun akan makan dan menyantap apapun yang dimasak dan disediakan, semua sekarang telah menjadi sama, karena masakan khas Minang dengan rendangnya, dendeng baladonya, gulai tunjang, gulai paku kacang balimbiangnya, dsb, semua telah menjadi makanan dan masakan bersama orang Indonesia, bahkan mendunia. Dan makanan orang telah menjadi makanan kita pula.</p>
<p>Lalu sekali lagi, mana lagi yang khas tradisi Minang di hari suci bulan suci 1 Syawal 1432 H untuk kita kenang-kenang ini? Lagi-lagi kita mengangkatkan bahu, tanda tak tahu lagi mana yang khas Minang itu. Artinya, sejauh yang bisa dipandang mata, yang lekat di badan dan dibawa ke mana-mana.</p>
<p>Kita lambat-lambat, barangkali, baru bisa mulai merasakan kekhasan Minangnya itu kalau kita menyelinap masuk ke ruang dalam yang tak segera terlihat dari luar. Ruang dalam itulah yang masih berhubungan dengan ruang dalam masa lalu yang samar-samar memperlihatkan benang merah yang menyambung dan menghubungkan masa lalu dan masa sekarang yang merupakan satu jalinan keberlanjutan tradisi masa lalu dan masa sekarang.</p>
<p>Apa itu? Hal-hal yang lebih bersifat spiritual, filosofis dan kultural. Satu, sama dengan kita-kita yang dari Dunia Melayu lainnya, kita relatif masih kental Islamnya. Kalaupun ada satu-dua karena trisna, jatuh hati kepada lawan jenis dari suku lain yang beragama lain, lalu kawin atau dikawini dan pindah agama. Dan terjadinya di rantau tidak di kampung halaman sendiri di Sumatera Barat, di Minangkabau. Tapi berapa betul yang sudah kebacut atau kesengsem seperti itu, yang karena pujuk rayu, jatuh hati, atau apapun, lalu berpindah agama. Kalaupun ada, masih bisa dihitung dengan jari.  Keistimewaan orang Minang adalah ketaatan dan ketahanannya dalam bertahan pada agamanya, Islam. Dan ini terefleksi setiap kali kita berhari raya ber’idul fithri di hari seperti sekarang ini. Di kampung di ranah sendiri, dan pun di rantau sekalipun.</p>
<p>Dua, dalam ber’idul-fithri seperti sekarang ini, kita masih saja menginginkan, dan mendambakan, orang Minang akan bangkit kembali untuk memimpin negeri dan negara ini untuk menjadi negara <em>baldatun thayyibah wa rabbun ghafur</em>, luar-dalam, lahir-batin, dan menyatu dalam kesatuan spiritual di bawah naungan Islam. Setiap muslim Minang memimpikan ini dan membersit setiap kali dalam mereka merayakan hari kemenangan ‘Idul Fihtri seperti sekarang ini. Yang terbayang oleh mereka adalah bangkitnya kembali Tamaddun Dunia Islam seperti di zaman keemasannya dulu, Makkah dan Madinah sebelumnya, Baghdad dan Kordoba, Kairo dan Istanbul sesudahnya. Dan sekarang mereka mulai melihat fajar kembalinya Tamaddun Dunia Islam Gelombang Ketiga yang bukan lagi fajar kadzib, tapi fajar shiddiq sudah. Mereka lihat itu.</p>
<p>Misalnya, siapa mengira dan menyana kalau sistem ekonomi dan perbankan syariah berbagi hasil secara adil tanpa riba dan bunga sekarang telah mulai memasyarakat dan muncul di seluruh dunia, menyaingi dan mengenyampingkan sistem ekonomi liberal-kapitalistik-pasar bebas yang menciptakan Dunia Ketiga yang tertindas dan diperas, dan Dunia Pertama mereka sendiri yang maju serba melimpah dan berkelebihan tetapi sekarang sudah mulai memudar dan menuju titik baliknya. Tak ada yang menduga bahwa sistem pendidikan Tarbiyah yang integral dan terpadu yang diangkatkan dari ajaran Al Qur’an juga mulai tersebar di Dunia Islam bahkan ke Amerika sekalipun di bawah arahan Da’i bule muallaf Dawud at Tauhidi dari Philadelphia (meninggal karena kanker tahun 2010 lalu). Sistem pendidikan integral terpadu ajaran Natsir yang dikembangkannya pertama kali di Bandung tahun 1930 dengan Sekolah Pendis (Pendidikan Islam) yang didirikannya, sekarang ingin kita kembangkan di tanah kelahirannya di ranah Minang Sumatera Barat dengan memulai membangun Universitas Mohammad Natsir yang berwawasan global secara terpadu bernafaskan ajaran tauhid sebagai <em>think tank</em>nya, untuk kemudian diterapkan dan disebar-luaskan ke seluruh Indonesia, Dunia Melayu dan Dunia Islam.</p>
<p>Tiga, generasi baru Minang mulai sadar dan menyadari bahwa masa sekarang dan ke depan, sedikitnya untuk tujuh abad ke depan dalam konteks Tamaddun Gelombang Ketiga Dunia Islam, adalah era mereka untuk kembali menjadikan Islam sebagai pegangan hidup dalam semua sisi kehidupan.  Dan mereka menginginkan dari masyarakat Minang di ranah dan di rantau akan muncul tokoh-tokoh pemimpin baru menggantikan yang korup yang menyalah-gunakan wewenang dan kekuasaannya sekarang ini.</p>
<p>Tradisi Minang dalam berhari raya Idul Fithri seperti sekarang ini kelihatannya telah berubah menjadi upaya kontemplasi memikirkan masa depan yang lebih baik bukan hanya untuk Minang dan Sumatera Baratnya tetapi untuk Indonesia dan Dunia Melayu serta Dunia Islamnya. Dan tradisi berfikir ke masa depan ini dimulai oleh generasi muda Minang yang menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin umat dan bangsa ke masa depan.</p>
<p>Dalam upaya berkontemplasi ke masa depan ini pada tempatnya kalau sayapun ikut menyampaikan “Selamat Hari Raya Idul Fithri, 1 Syawal 1432 H, serta mohon maaf lahir dan bathin.” Disertai dengan iringan do’a semoga generasi muda Minang siap menyiapkan diri untuk menjadi calon-calon pemimpin ummat dan bangsa ke masa depan dalam menuju Tamaddun Islam era Gelombang Ketiga sekurangnya untuk maasa tujuh abad ke depan. Amin! ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=195&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/02/rn-idul-fitri-dan-tradisi-minang-mochtar-naim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pengembangan Islam di Kubuang Tigobaleh, Solok Selatan</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/01/sejarah-pengembangan-islam-di-kubuang-tigobaleh-solok-selatan/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/01/sejarah-pengembangan-islam-di-kubuang-tigobaleh-solok-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 04:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Islam di Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Pengembangan Islam di Kubuang Tigobaleh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Kubuang Tigobaleh Sejarah Pengembangan Islam di Kubuang Tigobaleh oleh Syekh Imam Marajo Kota Solok Wisata Petualangan Oleh : Yulicef Anthony 407 klik Beberapa waktu lalu Padang Ekspres mempersembahkan rubrik religi sejarah pengembangan Islam di Solok pada ke 16-17 M oleh Syekh Angku Balinduang asal Nagari Talang, Kabupaten Solok, dimasa kejayaannya beliau juga dikenal sebagai salah-satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=184&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kubuang Tigobaleh</p>
<p>Sejarah Pengembangan Islam di Kubuang Tigobaleh oleh Syekh Imam Marajo</p>
<p>Kota Solok   Wisata Petualangan   Oleh : Yulicef Anthony   407 klik</p>
<p>Beberapa waktu lalu Padang Ekspres mempersembahkan rubrik religi sejarah pengembangan Islam di Solok pada ke 16-17 M oleh Syekh Angku Balinduang asal Nagari Talang, Kabupaten Solok,  dimasa kejayaannya beliau juga dikenal sebagai salah-satu orang keramat yang memiliki banyak keistimewaan.  Selain mengembangkan Islam, beliau mampu menghalau bala dengan berlari dan berkuda diatas padi, memiliki suara merdu saat mengumandangkan adzan.  Sejarah ini hingga sekarang melegenda secara turun-temurun ditengah-tengah masyarakat Talang, makam Angku Balinduang dianggap sebagai Tampat (makam) keramat.</p>
<p>Kali ini kami mencoba mengajak anda mengintip sejarah religi di Nagari Gauang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.  tentang pengembaraan seorang mursyid Syekh Imam Marajo dalam mengembangkan Islam di luhak termuda Kubuang Tigobaleh (Solok Salayo, Guguak si Jawi-jawi, Gaung dan Panyakalan, Cupak dan Gantung Ciri, Sirukam, Supayang, Kinari, Muaro Paneh dan Sariek Alahan Tigo), Talang Talago Dadok, Sirukam Saok Laweh dan daerah lainnya. Pengembaraan yang cukup berliku, penuh tantangan dan hambatan.  Untuk mengembangkan Islam, Syekh Imam Marajo di setiap sudut perkampungan di Solok bangun Surau sebagai sarana ibadah, ia bisa terbang ke Aceh dan Mekkah dengan menggunakan tikar sholat. Memiliki banyak murid yang tersebar hingga ke berbagai pelosok, menganut tarekat Satariyah.</p>
<p>Tokoh Ulama Nagari Gauang, Aditiawarman Dt. Kayo, mengatakan, riwayat Imam Marajo dulu pernah disepakati dalam sebuah pertemuan Ulama Sumatra Barat sekitar 42 tahun silam, lahir di Gauang Batu Tagak tahun 1490 dengan nama Marah Husin Bin Abdul Musahar. Selama belasan tahun merantau ke Pariaman, dan bersama Syekh Burhanuddin belajar agama ke Abdul Rauf di Aceh dan ke Mekkah.</p>
<p>Imam Marajo kembali ke Gauang sekitar tahun 1531, kebetulan saat beliau datang warga di daerahnya masih menganut animisme, menyembah roh-roh halus, mempercayai tempat-tempat sakti sebagai pemberi kekuatan. Kemana pergi selalu mengenakan jubah putih dan sorban, kopiah berwarna merah, dan membawa sebuah tongkat.  Awalnya banyak pertentangan muncul dari berbagai kalangan, terutama kaum adat yang menganggap aliran Imam Marajo dapat merusak tradisi para leluhur.<br />
Namun berkat sabar menghadapi segala hambatan dan rintangan, sembari perlahan-lahan memberikan pemahaman bahwa Islam itu agama yang sempurna, Imam Marajo akhirnya menjadi guru.</p>
<p>System pergerakan yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan guru besar Syekh Burhanuddin, sehingga setelah berhasil menyebarkan Islam di Gauang, beliau pun mendirikan sebuah Surau, selanjutnya dijadikan Masjid Gauang. Menurut riwayat, tonggak ambacu (tiang utama) Masjid Gauang dahulunya hanya didirikan seorang diri oleh Imam Marajo dengan menggunakan sehelai akar kayu dari hutan, setelah tiga masyarakat nagari (Gauang, Panyakalan, Saok Laweh) menyatakan angkat tangan untuk melakukannya. Sampai sekarang tonggak tuo tersebut masih terlihat berdiri kokoh menyangga bangunan Masjid Gauang, dan menjadi saksi bisu atas sejarah Imam Marajo.</p>
<p>Menurut Aditiawarman Datuk Kayo, Imam Marajo memiliki tongkat yang pada sewaktu-waktu bila dihempaskan ke tanah dapat mengeluarkan air, hal ini dibuktikan dengan sumber mata air di sebuah kolam dekat Masjid Raya konon dahulunya terpancar dari tancapan tongkat beliau. Kala itu masyarakat kesulitan mencari air untuk berwuduk, lantas Imam Marajo menancapkan tongkatnya ke tanah, karena izin Allah SWT semuanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>â€œKonon Imam Marajo pernah memelihara ikan laut jenis bada maco di kolamnya, sehingga masyarakat pun takjub. Pada sewaktu-waktu bada maco itu akan bisa saja kembali muncul di kolam beliau, dan fenomena itu dapat dilihat oleh siapa saja. Semua kesaktian dibuktikan Imam Marajo tak lain demi meningkatkan keimanan umat pada Allah SWT,  sesungguhnya bagi Allah SWT tak ada yang mustahil. Bukan untuk membanggakan diri bagi beliau,â€ Ujar Aditiawarman.</p>
<p>Imam Marajo juga disebut-disebut  bisa terbang ke Mekah dengan sajadah, serta pernah berkelahi dengan harimau. Harimau itu kemudian dipukul dengan tongkat dan akhirnya menjadi manusia. Manusia jelmaan harimau itu kemudian diislamkan, dan menjadi murid beliau. Imam Marajo juga diyakini memiliki kekuatan lebih, sehingga mampu mengangkut kayu dalam jumlah besar dari hutan untuk material pembangun masjid di berbagai daerah. Sebagaimana Masjid Lubuk Sikarah Kota Solok sekarang, menurut sejarah proses pembangunannya tak terlepas berkat bantuan Imam Marajo.</p>
<p>Setelah mengembangkan Islam di Nagari Gauang dan sejumlah nagari tetangga lainnya, beliau juga akhirnya berhasil mengislamkan Kubung Tigo Baleh sekitar tahun 1545. Jumlah pengikutnya mencapai ribuan orang, diantaranya juga ada dari luar Solok seperti Sijunjung, Jambi, dan Riau. Pusat pengembangan Islam waktu itu bertempat di Nagari Gauang, berbagai kegiatan keagamaan pun kian semarak hampir diseluruh penjuru.  Seluruh surau dan Masjid aktif, di bulan-bulan besar islam dilaksanakan rutual keagamaan, sebagaimana di Minangkabau berfalsafah â€˜adat basandi syara, syara basandi kitabllahâ€™.</p>
<p>Khususnya Di hari maulid nabi Muhammad SAW, masyarakat menggelar tardisi mauluik dengan kitab barazanzi sembari diiringi rebana, rayo tampek (berziarah kubur) selama sepekan penuh pasca Hari Raya Idul Fitri yang diikuti seluruh warga, tolak bala dimalam hari dengan mengibarkan alam-alam (bendera putih bertuliskan tulisan arab), baratik dan berzikir, perkauran massal menjelang turun ke sawah, serta berbagai ritual lainnya.</p>
<p>Imam Marajo memiliki sejumlah murid terkenal antara lain, Syeh Muchsin, Pakiah Majo Lelo. Syech Kukut dan lain sebagainya. Imam Marajo meninggal dunia dalam usia 200 tahun dan dimakamkan di Balai Tangah, Jorong Bansa, Nagari Gauang, Kecamatan Kubung Kabupaten Solok.<br />
Komplek pemakaman dipugar dengan bagonjong, persinya dibagian pusara dipasangkan kelambu dari kain putih sebagai simbol kesucian. Tiap-tiap setahun sekali, makam Syekh Imam Marajo dijadikan tempat Bersafa kecil sebelum bersafa besar ke Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Pariaman.<br />
Kegiatan Bersafa disemarakkan juga dengan selawat dulang, nyanyian arab diiringi musik rebana. Begitupun tempat berkaul bagi anak-cucu sekarang atas berbagai permohonan pada Allah SWT.</p>
<p>Walinagari Gauang, Adinar Pakiah Marajo menyebutkan, kemampuan Imam Marajo memang sulit diterima dengan logika, namun, riwayat itu dahulu sudah disepakati bersama para ulama. Basafa dilaksanakan sebagai bentuk penghargaan atas jasa Imam Marajo dalam mengembangkan agama Islam di Kabupaten Solok, sementara berkaul dijadikan tradisi sejak dahulunya. Tak heran bila agama sampai sekarang cukup kental di Gauang, begitupun adat dan istiadatnya, sebab di bumi Gauang tersimpan sejarah religi yang tak ternilai. (Yulicef Anthony)<br />
Kubuang Tigobaleh</p>
<p>Sejarah Pengembangan Islam di Kubuang Tigobaleh oleh Syekh Imam Marajo</p>
<p>Kota Solok   Wisata Petualangan   Oleh : Yulicef Anthony   407 klik</p>
<p>Beberapa waktu lalu Padang Ekspres mempersembahkan rubrik religi sejarah pengembangan Islam di Solok pada ke 16-17 M oleh Syekh Angku Balinduang asal Nagari Talang, Kabupaten Solok,  dimasa kejayaannya beliau juga dikenal sebagai salah-satu orang keramat yang memiliki banyak keistimewaan.  Selain mengembangkan Islam, beliau mampu menghalau bala dengan berlari dan berkuda diatas padi, memiliki suara merdu saat mengumandangkan adzan.  Sejarah ini hingga sekarang melegenda secara turun-temurun ditengah-tengah masyarakat Talang, makam Angku Balinduang dianggap sebagai Tampat (makam) keramat.</p>
<p>Kali ini kami mencoba mengajak anda mengintip sejarah religi di Nagari Gauang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.  tentang pengembaraan seorang mursyid Syekh Imam Marajo dalam mengembangkan Islam di luhak termuda Kubuang Tigobaleh (Solok Salayo, Guguak si Jawi-jawi, Gaung dan Panyakalan, Cupak dan Gantung Ciri, Sirukam, Supayang, Kinari, Muaro Paneh dan Sariek Alahan Tigo), Talang Talago Dadok, Sirukam Saok Laweh dan daerah lainnya. Pengembaraan yang cukup berliku, penuh tantangan dan hambatan.  Untuk mengembangkan Islam, Syekh Imam Marajo di setiap sudut perkampungan di Solok bangun Surau sebagai sarana ibadah, ia bisa terbang ke Aceh dan Mekkah dengan menggunakan tikar sholat. Memiliki banyak murid yang tersebar hingga ke berbagai pelosok, menganut tarekat Satariyah.</p>
<p>Tokoh Ulama Nagari Gauang, Aditiawarman Dt. Kayo, mengatakan, riwayat Imam Marajo dulu pernah disepakati dalam sebuah pertemuan Ulama Sumatra Barat sekitar 42 tahun silam, lahir di Gauang Batu Tagak tahun 1490 dengan nama Marah Husin Bin Abdul Musahar. Selama belasan tahun merantau ke Pariaman, dan bersama Syekh Burhanuddin belajar agama ke Abdul Rauf di Aceh dan ke Mekkah.</p>
<p>Imam Marajo kembali ke Gauang sekitar tahun 1531, kebetulan saat beliau datang warga di daerahnya masih menganut animisme, menyembah roh-roh halus, mempercayai tempat-tempat sakti sebagai pemberi kekuatan. Kemana pergi selalu mengenakan jubah putih dan sorban, kopiah berwarna merah, dan membawa sebuah tongkat.  Awalnya banyak pertentangan muncul dari berbagai kalangan, terutama kaum adat yang menganggap aliran Imam Marajo dapat merusak tradisi para leluhur.<br />
Namun berkat sabar menghadapi segala hambatan dan rintangan, sembari perlahan-lahan memberikan pemahaman bahwa Islam itu agama yang sempurna, Imam Marajo akhirnya menjadi guru.</p>
<p>System pergerakan yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan guru besar Syekh Burhanuddin, sehingga setelah berhasil menyebarkan Islam di Gauang, beliau pun mendirikan sebuah Surau, selanjutnya dijadikan Masjid Gauang. Menurut riwayat, tonggak ambacu (tiang utama) Masjid Gauang dahulunya hanya didirikan seorang diri oleh Imam Marajo dengan menggunakan sehelai akar kayu dari hutan, setelah tiga masyarakat nagari (Gauang, Panyakalan, Saok Laweh) menyatakan angkat tangan untuk melakukannya. Sampai sekarang tonggak tuo tersebut masih terlihat berdiri kokoh menyangga bangunan Masjid Gauang, dan menjadi saksi bisu atas sejarah Imam Marajo.</p>
<p>Menurut Aditiawarman Datuk Kayo, Imam Marajo memiliki tongkat yang pada sewaktu-waktu bila dihempaskan ke tanah dapat mengeluarkan air, hal ini dibuktikan dengan sumber mata air di sebuah kolam dekat Masjid Raya konon dahulunya terpancar dari tancapan tongkat beliau. Kala itu masyarakat kesulitan mencari air untuk berwuduk, lantas Imam Marajo menancapkan tongkatnya ke tanah, karena izin Allah SWT semuanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>â€œKonon Imam Marajo pernah memelihara ikan laut jenis bada maco di kolamnya, sehingga masyarakat pun takjub. Pada sewaktu-waktu bada maco itu akan bisa saja kembali muncul di kolam beliau, dan fenomena itu dapat dilihat oleh siapa saja. Semua kesaktian dibuktikan Imam Marajo tak lain demi meningkatkan keimanan umat pada Allah SWT,  sesungguhnya bagi Allah SWT tak ada yang mustahil. Bukan untuk membanggakan diri bagi beliau,â€ Ujar Aditiawarman.</p>
<p>Imam Marajo juga disebut-disebut  bisa terbang ke Mekah dengan sajadah, serta pernah berkelahi dengan harimau. Harimau itu kemudian dipukul dengan tongkat dan akhirnya menjadi manusia. Manusia jelmaan harimau itu kemudian diislamkan, dan menjadi murid beliau. Imam Marajo juga diyakini memiliki kekuatan lebih, sehingga mampu mengangkut kayu dalam jumlah besar dari hutan untuk material pembangun masjid di berbagai daerah. Sebagaimana Masjid Lubuk Sikarah Kota Solok sekarang, menurut sejarah proses pembangunannya tak terlepas berkat bantuan Imam Marajo.</p>
<p>Setelah mengembangkan Islam di Nagari Gauang dan sejumlah nagari tetangga lainnya, beliau juga akhirnya berhasil mengislamkan Kubung Tigo Baleh sekitar tahun 1545. Jumlah pengikutnya mencapai ribuan orang, diantaranya juga ada dari luar Solok seperti Sijunjung, Jambi, dan Riau. Pusat pengembangan Islam waktu itu bertempat di Nagari Gauang, berbagai kegiatan keagamaan pun kian semarak hampir diseluruh penjuru.  Seluruh surau dan Masjid aktif, di bulan-bulan besar islam dilaksanakan rutual keagamaan, sebagaimana di Minangkabau berfalsafah â€˜adat basandi syara, syara basandi kitabllahâ€™.</p>
<p>Khususnya Di hari maulid nabi Muhammad SAW, masyarakat menggelar tardisi mauluik dengan kitab barazanzi sembari diiringi rebana, rayo tampek (berziarah kubur) selama sepekan penuh pasca Hari Raya Idul Fitri yang diikuti seluruh warga, tolak bala dimalam hari dengan mengibarkan alam-alam (bendera putih bertuliskan tulisan arab), baratik dan berzikir, perkauran massal menjelang turun ke sawah, serta berbagai ritual lainnya.</p>
<p>Imam Marajo memiliki sejumlah murid terkenal antara lain, Syeh Muchsin, Pakiah Majo Lelo. Syech Kukut dan lain sebagainya. Imam Marajo meninggal dunia dalam usia 200 tahun dan dimakamkan di Balai Tangah, Jorong Bansa, Nagari Gauang, Kecamatan Kubung Kabupaten Solok.<br />
Komplek pemakaman dipugar dengan bagonjong, persinya dibagian pusara dipasangkan kelambu dari kain putih sebagai simbol kesucian. Tiap-tiap setahun sekali, makam Syekh Imam Marajo dijadikan tempat Bersafa kecil sebelum bersafa besar ke Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Pariaman.<br />
Kegiatan Bersafa disemarakkan juga dengan selawat dulang, nyanyian arab diiringi musik rebana. Begitupun tempat berkaul bagi anak-cucu sekarang atas berbagai permohonan pada Allah SWT.</p>
<p>Walinagari Gauang, Adinar Pakiah Marajo menyebutkan, kemampuan Imam Marajo memang sulit diterima dengan logika, namun, riwayat itu dahulu sudah disepakati bersama para ulama. Basafa dilaksanakan sebagai bentuk penghargaan atas jasa Imam Marajo dalam mengembangkan agama Islam di Kabupaten Solok, sementara berkaul dijadikan tradisi sejak dahulunya. Tak heran bila agama sampai sekarang cukup kental di Gauang, begitupun adat dan istiadatnya, sebab di bumi Gauang tersimpan sejarah religi yang tak ternilai. (Yulicef Anthony)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=184&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/09/01/sejarah-pengembangan-islam-di-kubuang-tigobaleh-solok-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bukittinggi oleh: Era Sakti</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/08/26/bukittinggi-oleh-era-sakti/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/08/26/bukittinggi-oleh-era-sakti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 13:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bukittinggi West Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kota RI]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Hatta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Kota Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah juga dijuluki sebagai Parijs van Sumatra selain kota Medan, dan kota Bukittinggi juga pernah menjadi ibukota negara Indonesia. Kota ini merupakan kota kelahiran salah seorang Proklamator RI yaitu Bung Hatta, disebut juga sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=182&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kota Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia.</p>
<p>Kota ini sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah juga dijuluki sebagai Parijs van Sumatra selain kota Medan, dan kota Bukittinggi juga pernah menjadi ibukota negara Indonesia.</p>
<p>Kota ini merupakan kota kelahiran salah seorang Proklamator RI yaitu Bung Hatta, disebut juga sebagai kota pusaka dengan Jam Gadang, yaitu sebuah landmark di ketinggian jantung kota, berbentuk jam besar mirip Big Ben, sekaligus menjadi simbol bagi kota yang juga berada pada tepi sebuah lembah yang bernama Ngarai Sianok.</p>
<p>Selain itu kota Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk, dan bersaudara (sister city) dengan Seremban dari Negeri Sembilan di Malaysia.</p>
<p>Sejarah</p>
<p>Kota Bukittinggi mulai berdiri seiring dengan kedatangan Belanda yang kemudian mendirikan kubu pertahanan pada tahun 1825 pada masa Perang Padri di salah satu bukit yang terdapat dalam kota ini, dikenal sebagai Benteng Fort de Kock, sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Kemudian pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, kawasan ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah Stadsgemeente (kota), dan juga berfungsi sebagai ibukota Afdeeling Padangsche Bovenlanden dan Onderafdeeling Oud Agam.</p>
<p>Pada masa pendudukan Jepang, Kota Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand, di mana pada kota ini menjadi tempat kedudukan komandan militer ke 25 Kenpeitai, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Hirano Toyoji. Kemudian kota ini berganti nama dari Stadsgemeente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari sekitarnya seperti Sianok Anam Suku, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba dan Bukit Batabuah. Sekarang nagari-nagari tersebut masuk ke dalam wilayah Kabupaten Agam.</p>
<p>Setelah kemerdekaan Indonesia, Bukittinggi dipilih menjadi ibukota Provinsi Sumatera, dengan gubernurnya Mr. Teuku Muhammad Hasan. Kemudian Bukittinggi juga ditetapkan sebagai wilayah pemerintahan kota berdasarkan Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Nomor 391 tanggal 9 Juni 1947.</p>
<p>Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kota Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan, di mana pada tanggal 19 Desember 1948, kota ini ditunjuk sebagai ibukota negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dikemudian hari, peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tanggal 18 Desember 2006.</p>
<p>Selanjutnya Kota Bukittinggi menjadi Kota Besar berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kota besar dalam lingkungan daerah provinsi Sumatera Tengah masa itu, yang meliputi wilayah provinsi Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau sekarang.</p>
<p>Walaupun setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1999 sebagai dasar hukum baru pemerintahan daerah Kota Bukittinggi namun dalam implementasinya sampai sekarang masih belum dapat dilaksanakan.</p>
<p>Geografi</p>
<p>Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera, dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Singgalang, Gunung Marapi dan Gunung Sago, serta berada pada ketinggian 909 – 941 meter di atas permukaan laut. Kota ini juga berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1 – 24.9 °C. Sementara dari total luas wilayah kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82.8% telah diperuntukan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.</p>
<p>Kota ini memiliki topografi berbukit-bukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut tersebar dalam wilayah perkotaan ini, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan dan sebagainya. Sementara terdapat lembah yang dikenal juga dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75 &#8211; 110 m, yang didasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang yang bermuara di pantai barat pulau Sumatera</p>
<p>erkembangan penduduk kota Bukittinggi tidak lepas dari berubahnya Bukittingi menjadi pusat perdagangan di dataran tinggi Minangkabau, dimulai dengan dibangunya pasar oleh pemerintah Hindia-Belanda tahun 1890 dengan nama loods, masyarakat setempat mengejanya dengan loih, dengan atap melengkung kemudian dikenal dengan nama Loih Galuang.</p>
<p>Saat ini kota Bukittingi merupakan kota terpadat di provinsi Sumatera Barat, dengan jumlah angkatan kerja 52.631 orang dan sekitar 3.845 orang di antaranya merupakan pengangguran. Kota ini didominasi oleh etnis Minangkabau, namun terdapat juga etnis Tionghoa, Jawa, Tamil dan Batak.</p>
<p>Masyarakat Tionghoa datang bersamaan dengan munculnya pasar-pasar di Bukittinggi, mereka dizinkan pemerintah Hindia-Belanda membangun toko/kios pada kaki bukit benteng Fort de Kock sebelah barat, membujur dari selatan ke utara, saat ini dikenal dengan nama Kampung Cino. Sementara pedagang India ditempatkan di kaki bukit sebelah utara, melingkar dari arah timur ke barat dan sekarang disebut juga Kampung Keling</p>
<p>ejak tahun 1918 kota Bukittinggi telah berstatus gemeente, selanjutnya tahun 1930 wilayah kota ini diperluas menjadi 5.2 km². Pada masa pendudukan Jepang wilayah kota ini kembali diperluas. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia terjadi tumpang tindih batas-batas wilayah kota ini karena penetapan sepihak baik masa Hindia-Belanda maupun Jepang.</p>
<p>Saat ini batas wilayah pemerintahan kota ini dikelilingi oleh kabupaten Agam, dan konfik antara kedua pemerintah daerah tersebut tentang batas wilayah masih berlanjut, ditambah setelah keluarnya Peraturan Pemerintah No. 84 Tahun 1999 tentang perubahan batas wilayah kota Bukittinggi dan kabupaten Agam, dari peraturan pemerintah (PP) ini luas wilayah kota Bukittinggi bertambah menjadi 145.29,90 km², dengan memasukan beberapa nagari yang sebelumnya pada masa pendudukan Jepang berada dalam wilayah administrasi kota Bukittinggi.</p>
<p>Namun seiring bergulirnya reformasi pemerintahan yang memberikan hak otonomi yang luas kepada kabupaten dan kota, muncul kembali penolakan dari masyarakat kabupaten Agam atas perluasan dan pengembangan wilayah kota Bukittinggi tersebut. Bagi masyarakat kabupaten Agam yang masuk ke dalam wilayah perluasan kota ini, merasa rugi karena dengan kembalinya penerapan model pemerintahan nagari lebih menjanjikan, dibandingkan berada dalam sistem kelurahan. Selain itu timbul asumsi, masyarakat kota yang telah heterogen juga dikhawatirkan akan memberikan dampak kepada tradisi adat dan kekayaan yang selama ini dimiliki oleh nagari.</p>
<p>ada Pemilu Legislatif 2009, DPRD kota Bukittinggi adalah sebanyak 25 orang dan tersusun dari perwakilan sembilan partai.</p>
<p>Pendidikan</p>
<p>Sejak zaman kolonialis Belanda, kota ini telah menjadi pusat pendidikan di pulau Sumatera, dimulai sejak tahun 1872, dengan berdirinya Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (sekolah guru untuk guru-guru bumiputera) atau dikenal juga dengan nama sekolah radja, yang selanjutnya berkembang menjadi volksschool atau sekolah rakyat. Kemudian pada tahun 1912 muncul Holandsch Inlandsche School (HIS), yang dilanjutkan dengan berdirinya Sekolah Pamong Opleiding School voor Inlandsch Ambtenaren (OSVIA) tahun 1918. Pada tahun 1926 juga telah berdiri MULO di kota Bukittinggi.</p>
<p>Pada masa awal kemerdekaan di kota ini pernah berdiri sekolah Polwan dan kadet serta sekolah Pamong Praja yang pertama di Indonesia, bahkan Universitas Andalas pertama kali berdiri berada di kota Bukittinggi.</p>
<p>Kesehatan</p>
<p>Kota Bukittinggi telah memiliki pelayanan kesehatan yang baik, di mana kota dengan luas relatif kecil ini telah memiliki 5 rumah sakit yaitu 3 buah milik pemerintah dan 2 swasta dengan didukung oleh 5 buah puskesmas dan 6 puskesmas keliling serta 15 puskesmas pembantu. Salah satu yang utama adalah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Achmad Mochtar, merupakan rumah sakit umum milik pemerintah tipe B dengan jumlah tempat tidur sebanyak 299.</p>
<p>Rumah Sakit Stroke Nasional yang terdapat di kota ini, merupakan rumah sakit milik pemerintah dengan keunggulan pelayanan untuk stroke dengan jumlah tempat tidur sebanyak 124. Begitu juga Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, sebuah rumah sakit swasta yang telah memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 136 buah.</p>
<p>Sementara untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, sampai tahun 2009 terdapat sebanyak 8 institusi pendidikan tenaga kesehatan di kota Bukittinggi, 2 institusi milik pemerintah (Poltekes) dan 6 dikelola oleh pihak swasta.</p>
<p>Kota Bukittinggi berada pada posisi strategis, terhubung dengan beberapa kota-kota lain termasuk kota-kota yang berada di luar provinsi Sumatera Barat, seperti kota Pekanbaru dan kota Medan, dan merupakan kota yang dilalui oleh jalur Trans Sumatera Tengah. Terminal Aur Kuning merupakan terminal utama untuk angkutan transportasi darat di kota ini. Sementara untuk transportasi dalam kota, tersedia sarana angkutan kota selain taksi berupa mikrolet dan bendi (kereta kuda).</p>
<p>Sebelumnya kota ini dilalui oleh jalur kereta api dari kota Payakumbuh menuju kota Padang, yang dibangun sekitar awal abad ke 20 pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, namun setelah kemerdekaan sarana transportasi ini tidak aktif lagi.</p>
<p>Kota ini juga telah memiliki sarana transportasi udara non kelas yang bernama Bandara Bukittinggi.</p>
<p>Perkembangan pasar Loih Galuang sekarang disebut juga Pasar Ateh, membuat pemerintah Hindia-Belanda waktu itu kembali mengembangkan pasar tersebut, dengan membangun kembali sebuah loods ke arah timur tahun 1900, tepatnya pada kawasan pinggang bukit yang berdekatan dengan selokan yang mengalir di kaki bukit tersebut, karena lokasi pasar tersebut berada di kemiringan masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Pasar Teleng (Miring) atau Pasar Lereng. Perkembangan berikutnya di sekitar kawasan tersebut muncul lagi beberapa pasar berikutnya di antaranya Pasar Bawah dan Pasar Banto. Dalam penataan pasar, pemerintah Hindia-Belanda juga menghubungkan setiap pasar tersebut dengan janjang (anak tangga) dan di antara yang terkenal disebut dengan nama Janjang 40.</p>
<p>Untuk mengurangi penumpukan pada satu kawasan pemerintah kota Bukittinggi kemudian mengembangkan kawasan perkotaan ke arah timur dengan membangun Pasar Aur Kuning, yang saat ini merupakan salah satu pusat perdagangan grosir untuk barang-barang konveksi di kota Bukittinggi. Sementara pasar-pasar tradisional di sekitar kawasan Jam Gadang seperti Pasar Ateh, Pasar Bawah dan Pasar Lereng, saat ini berkembang menjadi tempat penjualan hasil kerajinan tangan dan cinderamata khas Minangkabau.</p>
<p>Disebabkan luas wilayah yang kecil, sektor perdagangan merupakan salah satu pilihan yang tepat bagi pemerintah kota Bukittinggi dalam meningkatkan pendapatan perkapitanya, dan telah menjadi salah satu daerah tujuan utama dalam bidang perdagangan di pulau Sumatera.</p>
<p>Selain itu pemerintah kota Bukittinggi juga menelurkan beberapa program dalam mengentaskan kemiskinan di antaranya pelatihan peningkatan deversifikasi dalam bentuk pelatihan peningkatan keterampilan membordir dan pelatihan pembuatan kebaya, serta penumbuhan wirausaha baru.</p>
<p>embangunan kepariwisataan merupakan salah satu sektor andalan bagi kota Bukittinggi, banyaknya objek wisata yang menarik, menjadikan kota ini dijuluki juga sebagai &#8220;kota wisata&#8221;. Saat ini di kota Bukittinggi telah terdapat sekitar 60 hotel dan 15 biro perjalanan. Hotel-hotel yang terdapat di kota Bukittinggi antara lain The Hills (sebelumnya Novotel), Hotel Pusako dan sebagainya.</p>
<p>Lembah Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut sebagai Lubang Jepang Bukittinggi.</p>
<p>Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan Minangkabau, Kebun Binatang Bukittinggi dan benteng Fort de Kock yang dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di kota Bukittinggi.</p>
<p>Pasar Ateh (pasas atas) berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di dalam Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat seperti Karupuak Sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, Karupuak Jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau dan Karak Kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8. Saat ini juga telah dibangun beberapa pusat perbelanjaan modern di kota Bukittinggi.</p>
<p>Masyarakat kota Bukittinggi sangat menyukai olahraga berkuda, dan setiap tahunnya kota ini mengadakan lomba pacu kuda di Bukit Ambacang, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1889, perlombaan pacu kuda ini merupakan rangkaian perlombaan pacu kuda yang diadakan dibeberapa kawasan lain di Sumatera Barat, dengan adanya pelombaan ini juga mendorong untuk tetap bertahannya para peternak kuda, selain sebagai tradisi juga sebagai sumber mata pencarian masyarakatnya. Selain itu pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, kawasan ini juga menjadi landasan pacu atau lapangan terbang untuk jenis pesawat kecil.</p>
<p>Pers dan Media</p>
<p>Pada masa pendudukan tentara Jepang, di kota ini pernah didirikan pemancar radio terbesar untuk pulau Sumatera waktu itu, dalam rangka mengibarkan semangat rakyat untuk menunjang kepentingan Perang Asia Timur Raya versi Jepang. Di kota ini terdapat beberapa stasiun pemancar radio sebagai sarana informasi dan hiburan di antaranya RRI Bukittinggi, Elsi FM, SK FM, GRC FM dan sebagainya.</p>
<p>Kota persaudaraan</p>
<p>Kota lain yang menjadi Sister City dari kota Bukittinggi adalah:</p>
<p>￼Seremban, Malaysia&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Fort de Kock</p>
<table width="721" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div><a href="http://www.facebook.com/erasakti">Era Sakti</a></div>
<h6>Fort de Kock adalah benteng peninggalan Belanda yang berdiri di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Fort de Kock juga nama lama Bukittinggi.</h6>
<p>Benteng ini dibangun semasa Perang Paderi pada tahun 1825 oleh Kapten Bauer di atas Bukit Jirek dan awalnya dinamai Sterrenschans. Kemudian, namanya diubah menjadi Fort de Kock, menurut Hendrik Merkus de Kock, tokoh militer Belanda.</p>
<p>Di tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama Fort de Kock, kini Bukittinggi.</p>
<p>￼Keadaan sekarang</p>
<p>Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih ada sebagai bangunan bercat putih-hijau setinggi 20 m. Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya. Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak.</p>
<p>Benteng ini berada di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukittinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan kebun binatang dan museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan. Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya dalam kota Bukit Tinggi. Kawasan ini hanya terletak 1 km dari pusat kota Bukittinggi di kawasan Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top">
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td><a href="http://www.facebook.com/n/?profile.php&amp;id=1416468537&amp;mid=4c99d11G2ca43345G77bbd5bG96&amp;bcode=SyGhh05B&amp;n_m=darulm%40gmail.com"><strong>Era Sakti</strong></a></td>
<td>
<p align="right">01 September 22:08</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Lubang Jepang Bukittinggi</p>
<p>Lubang Jepang Bukittinggi adalah salah satu objek wisata sejarah yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.</p>
<p>Sejarah<br />
￼</p>
<p>Sebelumnya, Lubang Jepang dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.</p>
<p>Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Sumatera Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang Sumatera Barat tahun 2009 lalu tidak banyak merusak struktur terowongan.</p>
<p>Diperkirakan puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak.</p>
<p>Objek Wisata</p>
<p>Lubang Jepang mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah di tahun 1984, oleh pemerintah kota Bukittinggi . Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya terletak pada kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=182&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/08/26/bukittinggi-oleh-era-sakti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Universitas Mohammad Natsir</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/08/03/universitas-mohammad-natsir/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/08/03/universitas-mohammad-natsir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 03:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[mohammad Natsir]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Nasir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[MEMBANGUN UNIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR Mochtar Naim U NIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR yang kita ingin bangun dan dambakan ini adalah sebuah “memorial university,” dalam arti, kita membangun universitas dengan nama Mohammad Natsir ini adalah untuk mengenang jasa-jasa beliau kepada negara dan bangsa, baik sebagai pahlawan nasional, maupun sebagai pemimpin ummat. Ketimbang membangun tugu ataupun patung beliau yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=180&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MEMBANGUN UNIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR</p>
<p>Mochtar Naim</p>
<p>U<br />
NIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR yang kita ingin bangun dan dambakan ini adalah sebuah “memorial university,” dalam arti, kita membangun universitas dengan nama Mohammad Natsir ini adalah untuk mengenang jasa-jasa beliau kepada negara dan bangsa, baik sebagai pahlawan nasional, maupun sebagai pemimpin ummat. Ketimbang membangun tugu ataupun patung beliau yang tidak dianjurkan oleh Islam &#8212; bahkan dilarang &#8211;, membangun universitas dengan nama Universitas Mohammad Natsir (Mohammad Natsir University), memiliki nilai  luhur yang jauh lebih bermakna dan mulia. Beliau, seperti sejarah mencatat, berjasa tidak hanya di bidang politik dan agama, tetapi tidak kurangnya juga di bidang pendidikan. Dengan membangun universitas memorial Mohammad Natsir ini berarti kita melanjutkan khittah perjuangan beliau yang mempunyai nilai dan makna tersendiri di ketiga bidang yang beliau geluti dan ungguli itu: politik, agama dan pendidikan.<br />
Mohammad Natsir, setamat beliau di AMS di Bandung, tahun 1930, memilih untuk menolak beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Belanda, untuk melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi di Rotterdam, Negeri Belanda, ataupun Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, Jakarta waktu itu. Beliau memilih untuk membuka sekolah yang beliau idamkan, dengan nama “Pendis,” Pendidikan Islam, di Bandung, yang kemudian berkembang ke berbagai kota dan daerah di Jawa Barat. Sayang, karena Perang Dunia Kedua, sekolah ini terhenti, tetapi idenya kembali bergaung dan dilanjutkan sesudah kemerdekaan oleh sejumlah pesantren di Jawa dan Sumatera Barat.</p>
<p>Melalui sekolah itulah beliau menerapkan cita dan konsep beliau tentang pendidikan yang tidak mengenal pemisahan antara umum dan agama, dan antara dunia dan akhirat, tetapi menggabungnya dalam satu kesatuan yang utuh, holistik dan integral. Kendati ilmu bisa berbagai, karena obyeknya yang berbeda-beda, baik yang natural-fisikal, yang sosial-kultural dan yang humaniora, namun wujudnya adalah satu, yaitu mempelajari rahasia-rahasia keagungan asma dan kekuasaan Allah yang menciptakan semua itu. Semua apapun yang kita pelajari adalah dalam rangka pengabdian diri seutuhnya kepada Allah swt. Karenanya, tidak hanya di bidang politik dan agama, dalam bidang ilmu dan pendidikanpun beliau menerapkan pendekatan yang sifatnya integral dan utuh-menyeluruh (holistik, kaffah) serta pemanfaatan aksiologiknya yang bersifat konstruktif, kreatif dan positif. Inilah yang kita maksudkan dengan istilah “tarbiyah” di mana semua berhulu dan bermuara kepada Rab (Tuhan Maha Pendidik), sebagai asal kata “tarbiyah.” </p>
<p>Konsep pendidikan yang integral dan utuh-menyeluruh ini, kebetulan dalam kita memasuki abad ke 15 H, atau abad ke 21 M, sekarang ini, mendapatkan semangat, stamina dan ruh baru. Abad ke 15H/21M sekarang ini kebetulan juga adalah awal dari era “Kebangkitan Tamaddun Islam Gelombang Ketiga” – sebagaimana tujuh abad Gelombang Pertama adalah masa keemasan Tamaddun Islam; tujuh abad Gelombang Kedua jatuh-terpuruknya Dunia Islam sampai Perang Dunia Kedua yl,  dan sekarang awal dari Kebangkitan Tamaddun Islam Gelombang Ketiga, yang insya Allah akan juga berjalan selama tujuh abad ke depan.</p>
<p>Ini artinya, dari segi ontologi dan substansi ilmu, masing-masing ilmu tidak lagi berdiri dan berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terkait dan saling isi-mengisi dari yang satu terhadap yang lainnya. Ilmu, karenanya, tidak hanya sekadar makanan otak dengan cara dan metodologi sendiri-sendiri, tetapi juga sekaligus dan pada waktu yang sama adalah juga makanan ruhani (spirit), rasa (emosi) dan akhlaq (etika), yang dimensinya adalah juga sosial-kultural di samping individual, dan bahkan jasadi (fisikal), dan yang kredonya adalah pengabdian seutuhnya kepada ke esaan Allah swt. Dawud Tauhidi, seorang bule muallaf dari Philadelphia, A.S., mengonsepkan pendekatan pendidikan “Tarbiyah” yang bersifat integral-holistik ini  yang sekarang menjalar ke seluruh dunia, khususnya Dunia Islam. Sementara di Indonesia sendiri konsep yang sama yang bersifat integral, kaffah dan holistik itu telah diluncurkan dan diterapkan oleh Mohammad Natsir sejak tahun 1930 itu. Tinggal kita meneruskan dan menyempurnakannya.</p>
<p>Dalam rangka kembali kepada khittah yang telah dimulai dan dibentangkan oleh Bapak Mohammad Natsir di bidang pendidikan di tahun 1930 itu, waktunya kita sekarang menerapkannya kembali untuk kita semaikan kembali dan kita lanjutkan serta sebar-luaskan sehingga menjadi sistem pendidikan yang berorientasi nasional yang sifatnya integral, terpadu dan menyeluruh. Dengan demikian, kita mengubah sistem pendidikan kita yang berorientasi sekuler dan dualistik umum vs agama seperti selama ini menjadi sistem pendidikan yang integral dan terpadu, di mana kebutuhan intelektual berjalan seiring dan saling isi-mengisi dengan kebutuhan spiritual, emosional dan fisikal, yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial dan kultural. Dalam rangka itulah kita memerlukan sebuah universitas – Universitas Mohd Natsir – yang akan menjadi pusat think tank bagi pengkajian dan pengelaborasian dari konsep pendidikan yang integral-terpadu itu.</p>
<p>Kecuali itu, kehadiran Universitas Mohammad Natsir dirasakan urgensinya dalam rangka menyambut Tamaddun Gelombang Ketiga Dunia Islam yang tidak hanya berwawasan nasional tetapi juga internasional dan global. Dengan itu Universitas Mohammad Natsir tidak hanya milik bangsa Indonesia dan dunia Melayu, tetapi milik ummat Islam dan serata bangsa di dunia ini. Semua ini sejalan dengan cita-cita bangsa yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari pusat budaya Islam dan Dunia.</p>
<p>Sebagai konsekuensinya, Universitas Mohammad Natsir (UMN) harus membukakan pintu bagi kerjasama dan saling tolong-menolong dengan universitas manapun yang tidak hanya beruang-lingkup nasional dan regional Asia Tenggara, tetapi tidak kurangnya dunia Islam dan dunia internasional secara menyeluruh. UMN membukakan pintu bagi para mahasiswa yang datang dari belahan dunia manapun; dan menerima uluran tangan dari para pendidik dan pengajar serta peneliti dari negara manapun. Sendirinya juga, dalam rangka mempersiapkan pembangunan fisik dll dari Universitas Mohammad Natsir inipun kita mengajak negara-negara tetangga dan Dunia Islam untuk juga turut serta memberikan kontribusi finansial dan materialnya. Dengan nama harum yang dimiliki oleh Bapak Mohammad Natsir semasa hidupnya, khususnya di Dunia Islam, kita mengharapkan uluran bantuan apapun dengan prinsip saling membantu dan saling mendapatkan manfaat, insya Allah yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.</p>
<p>Sebuah konsep yang jelas dan terinci, bagaimanapun, sudah barang tentu sangat diperlukan bagi pendirian Universitas Mohammad Natsir ini serta langkah-langkah yang akan dilakukan dan dilalui. Tidak kurangnya, dalam rangka penerapan sistem pendidikan yang integral dan terpadu, bukan hanya aspek manajerial dan  strukturalnya yang dipersiapkan tetapi juga aspek akademik dan kurikulumnya. Sedemikian sehingga terlihat jatidiri dan kepribadian dari UMN ini yang merupakan refleksi dari jatidiri dan kepribadian Mohammad Natsir. Prioritas utama sewajarnya diberikan kepada bidang-bidang ilmu yang sangat diperlukan bagi pembangunan mental-spiritual-manajerial serta material-fisikal-teknologikal-kreatif dari anak bangsa dan ummat khususnya.</p>
<p>Sendirinya, dalam rangka membangun UMN ini, berbagai potensi dalam berbagai sektor diperlukan yang kesemuanya membayangkan kerjasama yang erat dan saling isi-mengisi. Berbeda dengan universitas manapun, UMN ini adalah sebuah memorial university yang didirikan bersama dan dimiliki bersama, termasuk dengan unsur pemerintah dan lembaga-lembaga korporatif sekalipun, dalam dan luar negeri. Karenanya juga UMN yang sama bisa didirikan di manapun di Indonesia ini, seperti halnya Universitas Muhammadiyah yang ada di mana-mana, atau bahkan  Lim Kok Wing University di Malaysia yang kampusnya tersebar di 12 negara di Asia, Afrika dan Eropah.</p>
<p>Khusus bagi tanah tumpah darah Pak Natsir, Sumatera Barat, silahkan menyusun barisan dan kekuatan dalam menyiapkan UMN Sumatera Barat yang kampusnya bisa ada dan tersebar di berbagai kota: Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang, Pariaman, Painan, Solok, Sawah Lunto, dsb. Dengan menatap ke masa depan, dengan pikiran yang jernih, azam dan tekad yang bulat, serta keseia-sekataan yang ampuh dalam mengemban tugas-tugas berat tapi mulai, insya Allah Tuhan mendengar dan mengikuti jejak langkah kita. Insya Allah yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Dengan izinNya!<br />
***</p>
<p>Ditulis setelah mendapatkan masukan dan saran-saran dari berbagai pihak dan kolega di ranah dan di rantau, termasuk dalam kunjungan singkat ke Belanda dan Inggeris pertengahan kedua Juli 2011. </p>
<p>Tilburg, Holland<br />
1 Agustus 2011/ 1 Ramadhan 1432 H </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=180&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/08/03/universitas-mohammad-natsir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teh Talua by Rina Permadi</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/07/22/teh-talua-by-rina-permadi/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/07/22/teh-talua-by-rina-permadi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 06:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Egg Tea]]></category>
		<category><![CDATA[Teh Talua]]></category>
		<category><![CDATA[Teh Telor]]></category>
		<category><![CDATA[Teh Telur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[TE TALUA (Minuman ala Si Urang Awak) Talua ayam kampuang ciek atau duo bulieh juo talua itiak, ambiak kuniangnyo sajo Usahoan mambalah kulik talua jadi duo bagian sahinggo sirah no dituka2 latak dari saparo sarang nan ciek ka sarang nan ciek laih sampai habih putiah no tapi pertahankan jan sampai kuniangnyo tu pacah. Ambiak galeh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=178&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TE TALUA (Minuman ala Si Urang Awak)</p>
<p>Talua ayam kampuang ciek atau duo bulieh juo talua itiak, ambiak kuniangnyo sajo<br />
Usahoan mambalah kulik talua jadi duo bagian sahinggo sirah no dituka2 latak dari saparo sarang nan ciek ka sarang nan ciek laih sampai habih putiah no tapi pertahankan jan sampai kuniangnyo tu pacah.</p>
<p>Ambiak galeh nan sabana kariang<br />
Indak buliah basah atau baru dilap<br />
Harus yakin galeh sabana kariang<br />
Pangocok talua ko sebaiknyo pakai lidi karambia agak 20 buah trus dikabek jo kajai<br />
Ijan ambiak lo sapu lidi di laman, ambiak nan fresh dari batang karamie, biasonyo di pakan ado nan manggaleh sarang katupek, lai banyak dek urang tu duh.<br />
Atau ka anak mixer dikabek an kok latiah lo tangan deknyo<br />
Hal iko untuak mengurangi anyianyo</p>
<p>Ciek kuniang talua ayam ko kocok jo 2 sendok makan gulo pasie<br />
Baiak gulo, pangocok atau galeh sadono harus dlm kondisi kariang<br />
Barulah dikocok sampai mamutiah sambia dimasukkan vanile saketek saangin se</p>
<p>Abuih aia angek  sampai manggalagak-galagak  bacampua jo teh serbuk nan diseduh tarago talua dikocok<br />
Siapkan sasaik asam sundai atau limau kapeh<br />
Katiko kocok an talua alah mamutiah masuak an saketek saketek aia angek teh manggalagak tadi jo parehan limau sambia diaduak-aduak.</p>
<p>Minum jo caro disruput katiko masih angek tu<br />
Salamaik mancubo</p>
<p>Tapi kok panek lo mambueknyo, ambiak kunci pagageh se pai ka lapau simpang<br />
Pasan ciek nan balanjuang ruoknyo<br />
Jadi pipetnyo bisa ditagak an</p>
<p>Wassalam<br />
Rina</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=178&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/07/22/teh-talua-by-rina-permadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RN: ESAI &#8220;MEMBACA&#8221; NOVEL MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN &#8211; Menempatkan Pagaruyung sebagai Kerajaan Simbolis</title>
		<link>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/07/14/rn-esai-membaca-novel-maharaja-diraja-adityawarman-menempatkan-pagaruyung-sebagai-kerajaan-simbolis/</link>
		<comments>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/07/14/rn-esai-membaca-novel-maharaja-diraja-adityawarman-menempatkan-pagaruyung-sebagai-kerajaan-simbolis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 13:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darul Makmur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thewestcoast.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[ESAI &#8220;MEMBACA&#8221; NOVEL MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN &#8211; Menempatkan Pagaruyung sebagai Kerajaan Simbolis &#160; Oleh INDRA J PILIANG Sejarawan, Peneliti dan Politisi tinggal di Jakarta &#160; SEBUAH novel menemani hari Sabtu dan Minggu saya. Novel yang ditulis oleh Ridjaluddin Shar itu judulnya panjang: &#8220;Maharaja Diraja Adityawarman: Matahari di Khatulistiwa&#8221;. Selain itu terdapat tambahan keterangan lain: &#8220;Sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=176&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ESAI &#8220;MEMBACA&#8221; NOVEL MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN &#8211; Menempatkan Pagaruyung sebagai Kerajaan Simbolis</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh INDRA J PILIANG</p>
<p>Sejarawan, Peneliti dan Politisi tinggal di Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>SEBUAH novel menemani hari Sabtu dan Minggu saya. Novel yang ditulis oleh Ridjaluddin Shar itu judulnya panjang: &#8220;Maharaja Diraja Adityawarman:</p>
<p>Matahari di Khatulistiwa&#8221;. Selain itu terdapat tambahan keterangan lain:</p>
<p>&#8220;Sebuah novel historiografi mengungkap tambo alam Minangkabau dan kekuatan penguasa belahan barat imperium Majapahit&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Novel setebal 678 halaman ini terbilang istimewa, karena mengungkapkan perjalanan pasukan Pamalayu Singosari ke Sumatera, hingga singgah di Dharmasraya. Selain itu, novel ini memuat kisah kehancuran Singosari, digantikan dengan perjalanan Majapahit.</p>
<p>Beragam kerajaan muncul dalam novel yang menceritakan suasana Nusantara pada abad ke 13 sampai abad ke 15 ini. Sejumlah tokoh juga hadir silih berganti.</p>
<p>Begitupun, novel ini berisi kisah peperangan, baik yang dilakukan secara brutal, sampai takluknya kerajaan demi kerajaan ke tangan Majapahit tanpa ada peperangan. Diplomasi dan strategi peperangan juga masuk, dibaluri intrikintrik dan kisah asmara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya tidak ingin mempertanyakan sumber-sumber dalam dan luar negeri yang digunakan dalam novel ini. Bagaimanapun, sejarah abad ke-13 sampai abad</p>
<p>ke-15 hanya mengandalkan sejumlah dokumen, seperti Negara Kartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Selain itu mengandalkan candi atau arca berdasarkan penelitian arkeologis.</p>
<p>Kisah perjalanan Marcopolo, misalnya, juga digunakan sebagai rujukan. Kalau diletakkan dalam bingkai itu, yakni ilmu sejarah dan arkeologi, maka cerita lengkap abad ke- 13 sampai ke-15 itu tentulah sulit ditulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Makanya, ketika novel ini hadir, seluruh cerita historis itu muncul lebih hidup. Yang kita jadikan sebagai alat ukur hanyalah ilmu-ilmu sastra dalam menilai sebuah novel, bukan lagi ilmu sejarah. Bagaimana, misalnya, menjelaskan dialog antara Aditywarman dengan Kala Gemet (Jayanegara) sepupunya bahwa Gajah Mada adalah putra Melayu (Dharmasraya)? Yang jelas, seluruh bangunan novel ini berisikan beragam kepribadian tokoh-tokohnya, baik yang antagonis maupun yang protagonis.</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai novel dengan judul Adityawarman, tentunya pihak yang muncul sebagai protagonis adalah tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Dharmasraya, baik Dara Jingga, Dara Petak (istri Raden Wijaya yang melahirkan Kala Gemet atau Jayanegara), Adityawarman, sampai mahapatih Gajah Mada sendiri. Namun, novel ini berhasil menghindari penghujatan atas riwayat seseorang, kecuali Mahapati yang kemudian menjadi Mahapatih di zaman pemerintahan Jayanegara.</p>
<p>Di dalam novel ini, Mahapati adalah sosok antagonis yang menyebabkan banyak kerusakan di tubuh Majapahit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tokoh-tokoh lain juga muncul dalam novel ini, yakni Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Keduanya adalah penasehat Kerajaan Dharmasraya yang diperintah oleh kakek Adityawarman, lalu selanjutnya diserahkan kepada Dara Jingga.</p>
<p>Belakangan, Dara Jingga mengundurkan diri, sehingga raja diserahkan kepada paman Adityawarman. Di masa tuanya, Adityawarman bersedia menjadi raja, setelah nama Kerajaan Dharmasraya berubah menjadi Swarna Bhumi. Yang paling akhir, nama Swarna Bhumi juga berubah menjadi kerajaan Pagaruyung, setelah dipindahkan ke Saruaso.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua datuk itu adalah peletak dasar sejumlah &#8220;peraturan kunci&#8221; dalam adat dan budaya Minangkabau. Perdebatan kedua datuk ini, yakni Datuk Katumanggungan (laras Koto-Piliang) mendukung bentuk kerajaan, sementara Datuk Perpatih Nan Sebatang (laras Bodi-Chaniago) menolak bentuk kerajaan, masuk dalam novel ini. Kompromi tercapai dengan hanya meletakkan Kerajaan Pagaruyung secara simbolis dengan kekuasaan yang berbeda dengan kerajaan di tempat-tempat lain. Kalau dikaitkan dengan konteks sekarang, perdebatan antara sistem monarki dengan demokrasi sudah berlangsung lama di ranah Minang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Muncul juga nama Bujang Salamat dan Alang Babega. Keduanya adalah sosok muda yang menaklukkan dua kerajaan besar di Singapura dan Thailand Selatan sekarang. Anak didik Adityawarman ini kemudian muncul sebagai orang biasa, mengikuti jejak tokoh-tokoh penting lainnya di Kerajaan Swarna Bhumi dan Pagaruyung. Sekalipun berilmu tinggi dan berpengalaman di lautan, tetap saja keduanya adalah anak-anak adat yang hanya ditinggikan seranting dan dimajukan selangkah di daerah asalnya.</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentu saya tidak ingin menukilkan keseluruhan isi novel tebal ini. Yang pasti, Minangkabau adalah wilayah yang berbeda dengan wilayah lainnya.</p>
<p>Wilayah ini sulit dicapai oleh kerajaan-kerajaan dari &#8220;atas angin&#8221;, sebutan untuk Mongol, India ataupun China.</p>
<p>Sebaliknya, Minangkabau juga tak terjangkau oleh kerajaankerajaan di Sumatera ataupun Pulau Jawa. Sekalipun Majapahit setelah Hayam Wuruk sempat menyerang Pagaruyung, lewat Kiliran Jao, sehingga menghasilkan Padang Sibusuk (tempat timbunan mayatmayat), tetap saja Pagaruyung tidak mampu ditaklukkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang patut juga diulas adalah hubungan tali darah antara Pagaruyung (sebelumnya bernama Dharmasraya dan Swarna Bhumi) dengan Majapahit (sebelumnya Singosari). Dara Petak adalah istri Raden Wijaya yang melahirkan Kala Gemet. Sekalipun Kala Gemet tidak memiliki keturunan, jelas sekali selaksa (10.000) pasukan Pamalayu yang datang ke Dharmasraya sebagian berasal dari keturunan Singosari dan Dharmasraya. Soalnya, setelah lama tinggal di Dharmasraya, pasukan itu menjadi tua dan digantikan dengan pasukan yang lebih muda, ketika kembali ke tanah Jawa. Gajah Mada adalah satu di antara selaksa pasukan muda Pamalayu yang kembali itu. Gajah Mada berayah Singosari dan beribu Dharmasraya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Novel ini mengingatkan betapa sejarah &#8220;tumpas kelor&#8221; (pembunuhan habis-habisan), terutama terhadap Nambi dan keturunannya di Lumajang, telah menjadi bagian dari sejarah (politik) kerajaan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Yang paling disentuh novel ini adalah tumpas kelor secara budaya atas artefakartefak yang berkaitan dengan hubungan antara Singosari dan Majapahit dengan Dharmasraya dan Pagaruyung. Nama Dara Petak sama sekali tak tertulis dalam Negarakertagama karangan Mpu Prapanca. Begitupula dengan arcaarca menyangkut Dara Petak, Adityawarman dan Gajah Mada. Proses penghilangan itu digambarkan secara baik dalam dialog-dialog dalam bagian akhir novel ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejarah Nusantara abad ke-13 sampai ke-15 adalah sejarah yang layak digali lagi. Bahkan sebelum itu, ketika Kerajaan Sriwijaya  menjadi negara maritim yang disegani dengan keberadaan pusat pengembangan agama Budha. Bahwa &#8220;Indonesia&#8221; zaman dulu adalah Indonesia yang sudah bersentuhan dengan beragam suku bangsa besar lainnya di dunia, termasuk kerja sama di bidang militer dan ekonomi. Kegagalan Gajah Mada menaklukkan Samudera Pasai, misalnya, tidak terlepas dari kelalaian memantau kedatangan armada Turki Utsmaniyah yang sedang patroli di Selat Malaka bersama armada Samudera Pasai. Tidak dilibatkannya Adityawarman dalam serbuan itu adalah sumber utama dari kegagalan Gajah Mada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan yang lebih penting lagi adalah panjangnya usia Dara Jingga dan Adityawarman, dibandingkan dengan Dara Petak (adik Dara Jingga) dan putranya Kala Gemet (sepupu Adityawarman). Alam Minangkabau membuat kehidupan menjadi terasa seimbang, terutama ketika hukum-hukum kehidupan mengambil keselarasan dengan alam. Adityawarman adalah tiang pancang kearifan kepemimpinan Ranah Minang di abad ke-14.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>E-Paper Harian Haluan, MINGGU, 19 JUNI 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thewestcoast.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thewestcoast.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thewestcoast.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thewestcoast.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thewestcoast.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thewestcoast.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thewestcoast.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thewestcoast.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thewestcoast.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thewestcoast.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thewestcoast.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thewestcoast.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thewestcoast.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thewestcoast.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thewestcoast.wordpress.com&amp;blog=2143112&amp;post=176&amp;subd=thewestcoast&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thewestcoast.wordpress.com/2011/07/14/rn-esai-membaca-novel-maharaja-diraja-adityawarman-menempatkan-pagaruyung-sebagai-kerajaan-simbolis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d89b9d2f0f8723f9a3e961c9972f045?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">darul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
