Bukittinggi Islamic Center

Bukittinggi Islamic Center

Insya Allah, dalam waktu tidak begitu lama Kota Bukittinggi bakal memiliki sebuah pusat keagamaan Islam, yang disebut sebagai Bukittinggi Islamic Centre (BIC). Mempergunakan lahan seluas hampir empat hektar, di Gulai Bancah, eks tanah Pusido milik Departemen PU dan kini tanah tersebut dihibahkan ke Pemko Bukittinggi untuk pembangunan BIC. BIC diancar hingga rampungnya bakal menghabiskan dana Rp124 miliar. Dan, bila rampung nantinya, inilah Islamik senter termegah di Sumatra Barat. Pada tanah yang terletak di pinggir jalan By Pass tersebut, akan dibangun berbagai fasilitas keagamaan Islam.

Mulai dari masjid, perpustakaan, pertokoan, ruang pertemuan, serta tempat untuk melaksanakan manasik haji. Artinya, kawasan ini nantinya bakal menjadi wisata religius di provinsi ini. Secara pisik pekerjaannya sudah dimulai. Oktober lalu, Gubernur Sumbar, H. Gamawan Fauzi, SH., secara resmi melaksanakan pembangunannya yang ditandai dengan pemancangan tiang perdana. Diawalinya pembangunan BIC tersebut juga sebagai kado ulang tahun Bukittinggi yang k e-223, dan tepatnya hari jadi kota itu adalah pada tanggal 22 Desember. Dan, HUT ke-223 ini merupakan ulang tahun yang sangat tinggi nilainya bagi ranah Rang Kurai ini. Gagasan untuk membangun BIC ini diawali pada Pilkada 2005 lalu. Ketika pasangan calon Walikota Drs. H. Djufri dan calon Wakil Walikota H. Ismet Amzis, SH.,dalam visi dan misinya menggaris-bawa hi pembangunan di Kota Bukittinggi haruslah berbasiskan akidah. Artinya, setiap gerak langkah pembangunan yang dilaksanakan tidak terlepas dari nuansa keagamaannya, mulai dari pendidikan, kemasyarakatan dan lainnya. Sebagai seorang yang konsekuen dengan janjinya,

Djufri-Ismet pun berupaya mewujudkan salah satu bentuk dari visi dan misi tersebut, yakni pembangunan Islamic Centre. Yakni sebuah kawasan yang bernuansa Islam, dengan artian apa pun bentuknya mencerminkan dan memberikan nilai-nilai keagamaan tersebut. Sebagai langkah awal Pemko pun mencari lokasi. Adalah sebidang yang cukup luas yang sebagian diantaranya terdapat bangunan, yakni tanah bekas Pusido milik Departemen Pekerjaan Umum. Negosiasi pun dilakukan. Akhirnya Departemen PU bersedia melepaskan tanah untuk Pemko Bukittinggi. Bersyarat memang. Syaratnya, tanah itu harus dimanfaatkan untuk lokasi Islamic Centre.

Mulai tahun anggaran 2006 Pemko menganggarkannya dalam pos bantuan untuk pembangunan Islamic Centre itu sebesar Rp2 miliar, dan tahun 2007 kembali dianggarkan dengan jumlah yang sama. Karena besarnya prediksi biaya hingga rampungnya Bukittinggi Islamic Centre tersebut, Pemko Bukittinggi membentuk yayasan untuk menanganinya. Dan, terbentuklah Yayasan Bukittinggi Islamic Centre (BIC), yang ditindak-lanjuti dengan pembentukan pengurus yayasan tersebut. Karena yayasan tersebut dibentuk oleh Pemko Bukittinggi dan pengurusnya berdasarkan SK Walikota Bukittinggi, maka secara hukum yayasan bertanggung-jawab ke Walikota Bukittinggi. Di sini perlu ditegaskan, bahwa pertanggung-jawabannya bukan kepada Djufri sebagai pribadi, tapi kepada Walikota Bukittinggi. Apapun bentuknya langkah yang diambil oleh yayasan haruslah sepengetahuan Pemko, begitu hirarkhinya.

“Benar,” ujar H. Nur Syamsi Nurlan, SH. Ketua Umum Yayasan BIC tersebut mengakui bahwa pertanggung-jawaban yayasan ke Walikota. “Bagi saya jabatan sebagai Ketua Umum YBIC ini adalah amanat dari Pemko Bukittinggi. Justru itulah, yayasan akan mempertanggung-jawabkannya dunia dan akhirat,” ungkap Nur Syamsi, menyikapi munculnya nada sumbang dari sementara kalangan. Nur Syamsi Nurlan yang juga anggota DPR-RI dari Partai Bulan Bintang itu, menilai diserahkannya ke yayasan pembangunan BIC ini tujuan jelas. Pertama dengan hanya bisa mengalokasikan dana sebesar Rp2 miliar per tahun dalam pos bantuan, tentunya bakal sangat lama BIC ini dapat dirampungkan. “Butuh waktu 60 tahun lebih baru BIC ini rampung, bila tetap mengandalkan dana dari APBD Kota Bukittinggi,” ujar Nur Syamsi. Kedua, Pemko tentunya tidak mungkin ke sana ke mari membawa proposal untuk minta bantuan pembangunan seperti yang kini tengah dijalankan oleh yayasan.

Mengantongi rekomendasi dari Ketua MPR-RI, Hidayat Nur Wahid, Yayasan BIC sudah melakukan lobi dengan sejumlah negara Timur Tengah, diantaranya Qatar, Marokko, dan Emirat Arab. Dalam waktu dekat ini negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Suriah dan lainnya bakal dikunjungi yayasan, kata Nur Syamsi. “Begitu juga dengan Islamic Centre Amerika Serikat sudah menyatakan bahwa mereka siap membantu pembangunan BIC. Kebetulan Ketua Islamic Centre Amerika itu, adalah teman saya sendiri,” ujarnya lagi. Nur Syamsi menegaskan, untuk urusan ke Timur Tengah dan ke Amerika Serikat itu, tidak satu sen pun uang yayasan dipergunakannya. Semua urusan itu dia mempergunakan uang pribadinya sendiri. Dari sekian banyak negara dan calon donatur yang sudah dikunjungi, sementara ini bagaimana hasilnya? Nur Syamsi, menggaris-bawahi, bahwa beberapa negara Timur Tengah sudah menyatakan kesediaannya untuk membantu pembangunan BIC ini. Apalagi pada setiap negara calon donatur itu yayasan memberikan proposal secara lengkap. “Ketua Islamic Centre Amerika Serikat itu yang secara tegas sudah menyatakan kesediaannya membantu pembangunan BIC,” tegas Nur Syamsi lagi.

Apa sebenarnya yang hendak dicapai atas dibangunnya BIC ini? Walikota Bukittinggi, Drs. H. Djufri, dalam percakapan dengan Singgalang mengemukakan, bahwa pembangunan BIC mempunyai banyak makna. Yang pertama adalah realisasi dari visi dan misi Bukittinggi dalam melaksanakan pembangunan. Bahwa sesuai visi dan misi tersebut, pembangunan di Bukittinggi haruslah berbasiskan akidah. Salah satu bentuk dari implementasi akidah tersebut adalah terpenuhinya berbagai pra-sarana dan sarana peribadatan dengan segala aspeknya. Mulai dari pendidikan formal, dari tingkat dasar. Kepala sekolah, tenaga pengajar, serta siswa sendiri haruslah dibekali dengan kekuatan keimanan dan ketaqwaan. Lalu didirikannya berbagai lembaga dakwah, mulai dari wirid yasin, majelis taklim dan sebagainya yang bakal berdampak langsung kepada masyarakat secara menyeluruh. Yang tidak kalah pentingnya, dengan adanya BIC ini memberikan arti tersendiri bagi Kota Bukittinggi. Dengan menyandang label Bukittinggi Kota Wisata, kehadiran BIC ini bakal dapat dijadikan sebagai salah satu objek wisata, khususnya wisata religius.

Melihat dari fasilitas keagamaan yang dibangun di areal tersebut, adalah sangat pantas bila kawasan itu nantinya dijadikan sebagai objek wisata religius. Misalnya, pertemuan bernuansa Islam yang berkapasitas 10.000 orang, pertokoan, perpustakaan, pesantren dan lainnya. Masih dilengkapi dengan fasilitas manasik haji. “Bila rampungnya nanti, inilah kawasan keagamaan terlengkap di Sumbar,” ungkap Djufri, sambil memperlihatkan maket atau gambar BIC itu. Maka jadilah Bukittinggi sebagai kota tujuan wisata secara utuh. Selama ini yang jadi andalan itu adalah alamnya yang indah, budaya yang menakjubkan, udara yang sejuk, serta pelayanan yang merata. Objek-objek tersebut masih ditambah lagi dengan objek sejarah, mulai dari lubang Jepang, Jam Gadang dan sebagainya. Dan, Insya Allah, dalam waktu tidak begitu lama bertambah satu objek lagi, yakni Islamic Centre.

Satu Tanggapan

  1. Ass..
    Kita senang dengan Pembangunan Islamic Centre Bukittinggi. Namun hati kita miris melihat pembangunan yang sedang berjalan. Justru yang sudah mau selesai Lapangan Tennis yang disebelahnya. Mudah-mudahan Pembangunan Islamic Centre ini iyo babana-bana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: