Sjech M. Djamil Djambek Ulama Inovator

Sjech M. Djamil Djambek Ulama Inovator

MINANGKABAU memiliki kegemilangan masa lalu, sebagai “mata air” kearifan dan keilmuan, tempat orang ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito , bertanya rumpun ilmu religi, sehingga berbagai etnis dari pelosok nusantara —bahkan mancanegara— ber­bondong-bondong untuk belajar Islam dan berbagai ilmu lainnya ke Ranah Minang. Memperingati 100 tahun Surau Sjech M. Djamil Djambek (1908-2008) Yayasan Sjech M. Djamil Djambek Jakarta yang dipimpin H. Sudirman Suwin, SE sekaligus cucu Inyiak Djambek menggagas kerjasama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi berencana menggelar perhelatan spiritual dan pengembangan keilmuan, dengan tujuan melacak jejak dan kirah ulama pelopor pembaharuan Islam dari Sumbar yang dikenal dengan sebutan Inyiak Djambek.

Di awal abad 20, Inyiak Djambek dikenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka, dan mendirikan rumah ibadah yang dikenal dengan Surau Sjech M. Djamil Djambek pada tahun 1908 atau tepatnya seabad yang lalu. Inyiak Djambek memang telah lama meninggalkan kita, sebagai ulama Inyiak Djambek tidak hanya meninggalkan karya-karya besar dalam bentuk manuskrip, tradisi lisan, bahasa dan sastra, kelem­bagaan tradisional, buku dan naskah-naskah kuno dalam bahasa Arab Melayu, tetapi Beliau juga mewariskan Surau sebagai asset lokal alam tamadun kejayaan Islam Minangkabau pada tempo dulu, tentu dengan harapan dihari-hari mendatang akan dikembangkan oleh generasi penerus (keluarga dan masyarakat Islam) sesuai dengan kebutuhan zaman. Untuk menggali khazanah keulamaan dan keintelektualan Inyiak Djambek itu, Panitia Pelaksana mengagendakan tiga kegiatan akhbar selama tiga hari yang dipusatkan di Surau Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Kegiatan ini diangkatkan bertepatan dengan tanggal kelahiran Inyiak Djambek pada 2 Februari.

Pada hari pertama akan dilaksanakan Sabtu (2/2), Seminar Nasional Pendidikan menghadirkan empat narasumber Prof. Dr. H. A. Rahman Ritonga, MA (STAIN Bukittinggi), Dr. Yalvema Miaz, MA (kepala Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi), Dr. Suhaimi Nurusman (Univer­sitas Al-Azhar Jakarta) dan Drs. Ridwan, M.Pd (kepala SMA 1 Padang Panjang). Acara ini akan dibuka dan dihantarkan oleh Prof. Dr. Syafe’i Ma’arif sekaligus sebagai keynote speaker. Pada hari kedua Minggu (3/2), akan dilaksanakan bedah buku yang ditulis Dr. Syafe’i Antonio, M.Ec (Pakar Perbankan Syariah) berjudul: Muhammad Super Leader and Super Manager yang akan dibahas oleh Dr. H Ismail Novel, M.Ag (ketua STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi) acara ini akan dibuka secara resmi oleh Menteri Sosial RI dan dihadiri Guberbur Sumbar, Walikota Bukittinggi dan Bupati Agam. Pada hari ketiga, Selasa (5/2), dilaksanakan Tablig Akbar, menghadirkan dua orang penceramah yakni dai kondang dari Jakarta Ustadz Yusuf Mansyur dan Buya Mas’oed Abidin dari Padang. Selama perhelatan ini berlangsung acara akan dipandu oleh bintang sine­tron dan presenter Adrian Maulana dan Zaskia Mecca yang juga berasal dari keturunan Inyiak Djambek.

Menapaki jejak
Ketika berusia 22 tahun, Sjech M. Djamil Djambek dibawa ayahnya berguru kepada Sjech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekkah. Awalnya M. Djamil Djambek tertarik untuk mempelajari ilmu sihir. Namun beliau disadarkan dan diinsyafkan oleh gurunya tersebut. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu agama yang beliau dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal Abu Qubais. Dengan pendalaman tersebut Sjech M. Djamil Djambek menjadi seor­ang ahli tarekat, bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsaban­diyyah-Khalidiyah. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap dan pandangannya terhadap tarekat mulai berubah. Sjech. M. Djamil Djambek tidak lagi tertarik pada tarekat. Pada awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama guna membahas keabsahan tarekat yang berlangsung di Bukit Surungan, Padangpanjang, Sjech. M. Djamil Djambek berada di pihak yang menentang tarekat. Dia “berhadapan” dengan Syekh Bayang dan Haji Abbas yang membela tarekat.

Salah satu penjelasan dalam buku yang berjudul Penerangan Tentang Asal Usul Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan segala yang berhubun­gan dengan Dia (Allah SWT), dinyatakan bahasa tarekat Naksyaban­diyyah diciptakan oleh orang Persia dan India. Sjech. M. Djamil Djambek menyebut orang-orang dari kedua negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin lama makin jauh dari ajaran Islam. Buku lain yang ditulisnya berjudul Memahami Tasawuf dan Tarekat dimaksudkan sebagai upaya mewujudkan pembaruan pemikiran Islam. Akan tetapi secara umum dia bersikap tidak ingin bermusuhan dengan adat istiadat Minangkabau. Tahun 1929, Sjech. M. Djamil Djambek mendirikan organisasi bernama Persatuan Kebangsaan Mi­nangkabau dengan tujuan untuk memelihara, menghargai, dan mencin­tai adat istiadat setempat. Di samping untuk memelihara dan mengusahakan agar Islam terhindar dari bahaya yang dapat merusaknya. Selain itu, beliau juga turut menghadiri kongres pertama Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau tahun 1939. Yang tak kalah pentingnya dalam perjala­nan dakwahnya, pada masa pendudukan Jepang, Sjech. M. Djamil Djambek mendirikan Majelis Islam Tinggi (MIT) berpusat di Bukit­tinggi, dan tetap menjalankan aktifitas dakwah, meskipun mendapat tantangan dari penjajah Jepang.

Pada tahun 1903, beliau kembali ke tanah air dan memilih menga­malkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji. Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Sjech. M. Djamil Djambek dihormati sebagai Sjech Tarekat. Kiprahnya mampu memberikan warna baru di bidang kegiatan keaga­maan di Sumatra Barat. Mengutip Ensiklopedi Islam , Sjech. M. Djamil Djambek juga dikenal sebagai ulama yang pertama kali memperkenalkan cara bertablig di muka umum. Barzanji (rawi) atau marhaban (puji-pujian) yang biasanya dibacakan di surau-surau saat peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, digantinya dengan tablig yang menceritakan riwayat lahir Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Melayu. Membaca riwayat Inyiak Djambek mengingatkan kita kepada perjuan­gan dan karya-karya besar yang dilahirkannya. Hasil karya besar ini tentu tidak akan bernilai kalau tidak dikembangkan dalam bentuk penelitian dan pengembangan-pengembangan kegiatan ilmiah oleh para ilmuan dan kaum cendikia.

Harapan kita dengan diangkatkannya seminar, bedah buku dan ta­bligh akhbar dihari peringan 100 tahun surau Inyiak Djambek mengingatkan masyarakat Islam Minangkabau khususnya Pemprov Sumbar dan Pemko Bukittinggi, bahwa perlu penyelamatan asset lokal warisan Inyiak Djambek untuk diwarisi dan dikembangkan dalam bentuk Pusat Studi dan Penelitian serta pustaka Inyiak Djambek. Maka seluruh karya-karya besar Beliau dapat bermanfaat dan menjadi pedoman bagi peradaban dunia Islam di masa-masa mendatang. Penulis, Afrinaldi adalah dosen STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dan Sekretaris Panitia Pelaksana Peringatan 100 Tahun Surau Sjech M Djamil Djambek

Satu Tanggapan

  1. Ass…
    Saya sangat senang buka situs ini. Saya ingin memasukkan tulisan ke situs ini. Bagaimana caranya dan apa saja tema-tema/judul yang bisa diangkat atau dimasukkan ke dalam situs ini.

    Sanak Adlan,
    Terimakasih atas kesediaan untuk berkontribusi di blog ini. Kami senang menerima tulisan yang berupa potensi Ranah Minangkabau, sudah tentu termasuk potensi spritual dan budayanya yang Islami.

    Salam St. Parapatiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: