Home Stay di Malaysia

Padang Ekspres, Senin, 02 Juni 2008

Oleh: Edi Hasymi, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universiti Kebangsaan Malaysia
Di Malaysia konsep pariwisata tinggal bersama atau ‘homestay’ semakin populer bukan saja di kalangan rakyat setempat tetapi juga wisatawan mancanegara sehingga mampu mendorong jumlah wisatawan yang datang ke negara tersebut.  Dalam konsep hamestay para wisatawan baik domestik mahupun mancanegara akan dipersembahkan dengan suasana kehidupan kampung yang damai yang jarang diperoleh oleh masyarakat yang sudah terbiasa hidup di kota atau negara-negara yang sudah maju.

Misalnya Homestay FBest di Felda Serting Hilir Jempol Negeri Sembilan merupakan salah satu daripada lima pusat pariwisata desa yang diwujudkan di negeri tersebut dengan menampilkan konsep pariwisata agrowisata. Melalui konsep itu, setiap wisatawan yang menginap di situ bukan saja dapat menikmati keindahan alam yang natural  tetapi juga dapat menimba pengalaman kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti menoreh getah, memetik kelapa sawit, memancing dan sebagainya. Sejajar dengan konsep yang diketengahkan, oleh Dinas Pariwisata Negeri Sembilan (Majlis Tindakan Pelancongan Negeri Sembilan (MTPNS) yang berkejasama dengan pengusaha homestay menganjurkan Pesta Ee-Puyu, baru-baru ini. Sebanyak 200 peserta dari berbagai tingkatan umur termasuk wisatawan dari China, Kenya, Korea dan Nigeria mengikuti program ini selama tiga hari.

Selain itu para peserta juga dipersembahan dengan kebudayaan randai iaitu gabungan tarian, teater dan nyanyian kanak-kanak. Setiap peserta mendapat keluarga angkat dan tinggal bersama keluarga tersebut selama kegiatan berlangsung yang sudah disusun sebelumnya, antara lain melihat  kawasan sekitar perkampungan, kebun getah serta kelapa sawit dan mereka  diberi kesempatan untuk mencoba sendiri pengalaman menoreh getah dan memetik kelapa sawit. Selain itu diadakan lomba memasak ikan puyu secara gotong royong, pertandingan mewarna, karaoke,  derma darah dan futsal. Untuk menambah semarak kegiatan ini turut diadakan pameran berbagai produk kerajinan, makanan tradisional, pakaian dan sebagainya.

Usaha untuk membawa wisatawan mancanegara merupakan langkah untuk memperkenalkan dan mempopularkan Homestay FBest di luar negara. Selain memberi kesempatan kepada mereka suasana perkampungan dan aktivitas kehidupan harian yang dijalankan warga desa, para wisatawan juga diberikan berbagai informasi tempat wisata yang menarik di daerah tersebut.  Dengan harapan mereka juga akan memberitahu rekan-rekan yang lain untuk  berkunjung ke homestay berkenaan.

Konsep homestay berarti hidup bersama keluarga angkat di kawasan kampung dengan mengikuti irama hidup mereka sehari-hari seperti mandi di sungai, pergi ke sawah, mengembala sapi, itik, kerbau dan sebagainya serta tidur lebih cepat (jam 10 malam). Hakekatnya, konsep homestay satu cara hidup yang mungkin berlawanan sebagaimana yang terjadi di kota. Dengan itu, karena keunikannya ia mampu menjadi daya tarik yang baru bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Malaysia. Di Selangor saja, hampir 10.000 wisatawan mengikuti program ini dengan daerah tujuan paling populer adalah Sabak Bernam, Kuala Langat dan Hulu Selangor. Daripada jumlah itu, lebih 3.000 adalah wisatawan mancanegara dan sisanya adalah masyarakat lokal, terutama pelajar sekolah dan mahasiswa.

Untuk mendukung program homestay, pemerintah Malaysia juga menyediakan dana sebanyak RM 200.000 (lk Rp. 500 juta) sebagai bantuan kepada  kampung atau desa yang melaksanakan program homestay untuk membangun pusat informasi. Pada akhir-akhir ini permintaan terhadap wisata homestay semakin meningkat terutama Jepang, Korea dan Taiwan serta wisatawan domestik. Maraknya industri pariwisata bukan saja di daerah yang berdekatan dengan Kuala Lumpur tetapi juga daerah dikawasan selatan semenanjung seperti Johor.

Menyedari potensi sektor homestay yang cukup baik, pemerintah Negeri Johor terus meningkatkan usaha untuk mempromosikan program ini. Di Kampung Air Papan misalnya, menyediakan 1001 macam pengalaman dan tujuan wisata yang  menarik. Lebih unik lagi, program homestay ini dilaksanakan di kampung yang mempunyai persisiran pantai yang panjang. Kebanyakan homestay lain diadakan di kawasan kampung atau desa yang betul-betul terpencil. Secara tidak langsung, pengalaman menikmati gaya hidup desa di sini tidak membosankan.


Jika merasa bosan di rumah kampung, pengunjung dapat menyewa bot untuk pergi memancing, snorkeling, berenang atau mengikuti kegiatan nelayan turun ke laut. Untuk menikmati suasana permai desa ini, pengunjung hanya perlu membayar RM30 (Rp.80.000) semalam. Dibandingkan dengan  hotel bintang lima, mungkin hanya secangkir kopi di lobi. Bagaimanapun, tarikan utama terletak pada senyuman dan sikap ramah penduduk. Walaupun sebahagian besar daripada penduduk berasal adalah orang Terengganu dan  orang Banjar tetapi keduanya hidup penuh harmoni.
Jika diamati, wajah dan logat mereka lebih mirip kepada orang Pantai Timur. Menurut cerita, kebanyakan penduduk di sini orang Terengganu yang datang sebelum Malaysia mencapai kemerdekaan.

Kebanyakan warga kampung ini sudah meninggalkan pekerjaan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun yaitu turun ke laut karena mereka lebih suka bekerja ditempat lain dengan menerima gaji setiap bulan.
Bagi warga masyarakat desa yang berkeinginan untuk mengikuti program ini haruslah dapat memenuhi beberapa kriteria terlebih dahulu. Diantaranya mempunyai kediaman atau rumah yang baik dan bersih dengan anggota keluarga yang ramah serta lingkungan sekitar yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang moderen (TV, internet dsb). Termasuk juga wajib mengikuti kursus yang dilaksanakan oleh pemerintah. Diperkenalkan pada tahun 1995, Program Homestay kini merupakan salah satu produk wisata paling menarik di Malaysia. Tahun lalu, lebih 30.000 wisatawan, kebanyakannya dari Jepang, Korea dan Singapura menikmati pengalaman hidup di kampung. Walaupun ia satu produk wisata yang baru namun program homestay telah berhasil mengukir nama meskipun informasi mengenainya disampaikan dari mulut ke mulut.

Pada mulanya memang banyak kesulitan yang dialami oleh warga masyarakat kerana kurangnya dukungan pemerintah tetapi pada hari ini pemerintah telah menetapkan program homestay salah satu daya tarik wisatawan yang penting dengan mempromosikan ke mancanegara. Sasaran utama program ini adalah wisatawan Eropah dan Jepang walaupun banyak diantara mereka yang tidak tidak pernah mendengarnya dan mereka menyangka seperti program B&B (Penginapan & Sarapan). Kebanyakan wisatawan memboking tempat pada bulan September dan Maret. Bagi wisatawan Britain, homestay merupakan cara berlibur yang paling murah. Oleh sebab itu kebanyakan wisawatan Eropah suka tinggal lebih lama. Selain memperkenalkan berbagai adat dan budaya masyarakat, pengunjung juga diperkenalkan dengan berbagai produk kerajinan dan makanan tradisional. Pesatnya perkembangan Program Homestay di Malaysia sehingga kini sudah mempunyai 115 kampung dengan 4200 keluarga di seluruh negara yang pada mulanya hanya 14 kawasan kampung saja.

Melirik dan melihat apa yang dilakukan Malaysia dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke negara tersebut melalui program homestay bukan tidak mungkin kita juga dapat berbuat yang lebih baik daripada itu. Dengan mengandalkan keindahan alam Sumatera Barat, keramahan penduduk dan kekayaaan seni serta budayanya kita merasa yakin untuk memperkenalkan satu lagi produk pariwisata yang berkonsepkan homestay dengan gaya dan cara kita sendiri ke mancanegara atau kepada wisatawan lokal. Kindahan pemandangan Danau Diatas dan Danau Dibawah, perkebunan markuisa dan udara yang sejuk merupakan salah satu potensi bagi desa-desa yang ada di sekitar kedua danau tersebut untuk mengembangkan homestay. Begitu juga dengan adat tradisi dan budaya Minang yang masik kekal di daerah Batusangkar, Kabupaten 50 Kota dan daerah lainnya juga sangat berpotensi untuk kita memperkenalkan keseluruh dunia melalui objek wisata yang berkonsepkan homestay.

Bagi daerah rantau seperti Pesisir Selatan dan Kota Padang yang memiliki pantai yang indah dengan ciri tersendiri dengan ombak yang bergelora yang itu tidak terdapat di Malaysia juga merupakan aset pariwisata yang perlu kita “jual” dengan cara lain. Kehidupan masyarakat nelayan di Sungai Pisang Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang misalnya, cukup menarik wisatawan dengan mengikut sertakan mereka dalam berbagai kegiatan dan irama hidup nelayan sehari-hari yang mungkin tidak pernah mereka lihat dan rasakan selama ini. Begitu juga di wilayah pinggir Kota Padang dengan kehidupan masyarakat agraris tersimpan banyak potensi alam yang menunggu untuk manfaatkan. Kawasan Kecamatan Kuranji khususnya, walaupun berada di kawasan kota tetapi kehidupan adat istiadat masyarakatnya masih lagi kekal yang dapat dijadikan tarikan pelancong.

Termasuk air terjun Lubuk Tempurung yang indah dan airnya yang jernih sehingga kini masih seperti dulu, menanti uluran tangan mereka yang mengerti arti sebuah anugrah alam yang manusia tidak akan mampu membuatnya. Kawasan tersebut terdapat tanah lapang untuk berkemah serta kebun rambutan dan air sungai yang mengalir jernih untuk menangkap “rinyuik” adalah satu yang menarik yang mungkin tidak terdapat ditempat lain. Begitu juga hutan yang menghijau membawa ketenangan bagi siapa yang memandangnya. Rasanya banyak lagi potensi wisata yang perlu kita perhatikan dan lirik lebih dekat untuk memanfaatkan anugrah Tuhan kepada manusia yang masih dibiarkan sia-sia. Melalui program homestay semua potensi tersebut bukan tidak mungkin akan memberi manfaat kepada masyarakat mahupun pemerintah.

Oleh itu kita perlu merenung lebih jauh dengan membandingkan apa yang telah dibuat orang lain dan pengalaman orang itu kita gunakan untuk kemajuan masyarakat kita sendiri. Konsep pembangungan kepariwisatawan yang lebih banyak ditujukan kepada aspek fisik seperti tempat dan alat-alat bermain ternyata tidak terjaga dan tidak terawat dan hanya akan menghabiskan anggaran pemerintah, khususnya objek wisata di bawah pengelolaan pemerintah daerah. Sementara hasilnya hanya kemusnahan dan kehancuran tanpa menfaat apa-apa. Oleh karena itu, tiba saatnya kita perlu merubah dan menukar konsep wisata dengan cara lain (homestay) dengan melibatkan langsung anggota masyarakat sebagai pemeran utama dengan dukungan sepenuhnya dari pemerintah.

Sebenarnya di Malaysia program homestay bermula daripada satu wilayah desa yang terpilih sebagai “Kampung Tercantik”. Dengan bekal itu, masyarakat desa dan pemerintah mengembangankan dan membangun desa tersebut menurut potensi yang ada melalui produk wisata homestayt. Bagi kita di Sumatera Barat juga pernah ada program yang sama yang dikenal dengan “lomba desa” atau lomba kelurahan terbaik. Bukankah melalui perlombaan desa atau keluruhan sebenarnya kita sudah memiliki satu langkah yang baik untuk terus mengembangkan dan membangun desa tersebut khususnya melalui konsep wisata tinggal bersama. Lomba desa/kelurahan tidak akan memberi manfaat apa-apa kalau hanya sekadar mendapat piala yang menjulang, piagam penghargaan dan ibuk-ibuk PKK pergi jalan-jalan sebagai hadiah, sementara tidak beberapa lama sesudah itu kehidupan dan keadaan desa tersebut akan kembali ke bentuk aslinya (jauh berbeda ketika sebelum tim penilai datang).

Oleh sebab itu, dengan segala kelebihan dan keindahan alam Sumatera Barat, adat istiadat, budaya dan keramahan masyarakat merupakan potensi yang perlu kita garap dan “ditaruko” lebih jauh dan lebih dalam lagi. Berbanding dengan potensi wisata homestay di Malaysia, sebenarnya Sumatera Barat  memiliki potensi wisata yang jauh lebih baik dan lebih banyak. Namun yang kurang hanya perhatian, semangat dan keinginan yang sungguh-sungguh baik yang datang dari pihak pemerintah maupun masyarakat sendiri. Untuk mengembangkan wisata yang berkonsepkan homestay kiranya perlu kerjasama kedua belah pihak, terutama masyarakat sebagai penggerak utama. Apa yang dicapai Malaysia bukan kita tidak bisa, kita juga bisa berbuat yang sama dan mungkin lebih baik. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: