Merapi Singgalang nan Tanang

LEMERSING YANG INDAH
By : Jepe

LEMERSING, begitu singkatan yang diberikan oleh Ibu Iffah tentang kampung halamannya di Sungai Tanang yang berada di lembah Merapi Singgalang, daerah ini terletak di hamparan tanah vulkanik yang kaya mineral yang berada disepanjang lereng dan lembah gunung Merapi dan Singgalang. Bagi saya LEMERSING ini selain menyuguhkan pemandangan yang indah dengan bentangan alamnya, jika dilihat dari ketinggian, seperti sebuah mozaik atau kepingan puzzle yang menyambung satu sama lainnya dengan memberikan sentuhan, rona dan citra warna yang sangat luar biasa indahnya .

Sawah yang berkontur mulai dari lereng kedua gunung tersebut sampai kelembah yang mengalir sungai berbatuan dengan air yang jernih dan disekat pematang sawah yang hijau ditumbuhi rumput-rumpu gajah buat makanan ternak atau tanaman-tanaman keras lainnya sebut saja pinang yang berderet (pinang baririk) dan kulit manis. Setiap petak sawahpun memberikan gradasi warna yang berbeda mulai dari warna coklat tua ketika sawah mulai di bajak (diolah), lalu dipojok sawah tersebut yang dipagari jaring nilon (sarlon net) terhampar benih padi seperti karpet dengan warna hijau yang lembut.

Dihamparan sawah yang lain tumbuh subur padi dengan warna hijau terang, ketika padi mulai menguning siap panen sayup-sayup rebah ditiup angin dengan warna kuning kecoklatan, setelah panen petak sawah tersebut berubah menjadi warna coklat terang dari rumpun-rumpun padi yang telah siap di tuai atau disabit.. Bulir-bulir padi yang bernas dikumpulkan baik secara manual yaitu menginjak dengan kaki (Minang :mairik) maupun dengan semi mekanis dengan alat perontok padi maka hamparan petak sawah tersebut diatar tikar pandan atau tenda biru terkumpul gabah-gabah segar berwarna coklat muda.

Jerami kering yang telah dipisahkan bulir padinya sebelum digiling di heler (Rice Milling) menjadi beras tertumpuk secara mengelompok di petak sawah yang nantinya dibakar setelah dicampur dengan bahan organik lainnya menjadi kompos sebagai pupuk alami untuk masa tanam selanjutnya. Jerami yang bertumpuk ini memberikan warna coklat pupus dan saat dibakar asapnya membumbung kelangit dengan aroma yang khas. Setelah terbakar habis ketika masih menyisakan bara kecil dengan kepulan asap tipis akan berwarna hitam pekat. Begitulah rona-rona warna yang ditampilkan pada hamparan sawah yang terletak di Lemersing.

Lalu perladangan tak kalah indah hamparannya dengan aneka tanaman pangan semusim seperti palawija dan sayur-sayuran yang berwarna warni sebut saja terung ungu, cabe keriting, wortel,tomat, kol, ubi rambat, daun bawang, kembang kol yang merekah putih dibalik kelopak daun yang berwarna hijau tua dan tentunya tidak lupa sayur yang terkenal dari Lemersing ini yang dikenal dengan nama lobak Singgalang. Tak kala indahnya juga jika kita melihat dari ketinggian dengan pandangan yang luas serta bebas sejauh mata memandang (Helicopter View) ladang-ladang dengan tanaman keras seperti rumpun bambu, pinang, kelapa, kulit manis dengan pucuk daunya berwarna merah muda lembut, pohon kelapa, cengkeh dan coklat.

Sungai-sungai, anak sungai, parit , tali air dan pincuran dilereng-lereng perbukitan mengalir air yang jernih dan bening mulai dari ketinggian lereng-lereng kaki bukit Gunung Merapi dan Singgalang sampai kelembah yang paling rendah tidak terputus sambung menyambung berkilau ketika diterpa sinar matahari yang terik di siang hari, aliran air ini membatasi hamparan sawah dan ladang diseputar Lemersing, sungguh sebuah pemandangan alam yang indah tidak terperikan.

Apa-apa yang ada dilangit dan dibumi ini adalah ciptaanNya yang Agung , Allah Swt yang tak pernah kekurangan sesuatupun memberikan ciptaanNya pada manusia walaupun manusia itu sabagian ikut melestarikannya dan sebagian lagi merusaknya. Renungkanlah dan pikirkanlah mengenai hakikat diri kita diciptakan dan renungilah sebuah keindahan alam yang diberikannya di ranah minang tercinta salah satunya Lemersing, belum lagi “Lemersing-Lemersing” yang indah lainnya di ranah minang. . Akhir dari perenungan ini kita akan merasa betapa kecilnya kita dihadapNya yang menciptakan alam semesta ini, kita tidak akan terlihat walau setitik debupun jika bandingkan maha luasnya alam semesta ini, seperti hikmah yang diberikan iman Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin “Siapa yang dapat mengenal dirinya niscaya dia mampu mengenal Tuhannya”

Setelah kita mengenal Rabbnya dengan segala ciptaan alam semesta yang indah tentunya kita akan bisa berkata pada diri kita “ Ah selama ini saya terkadang suka sombong, ternyata ada yang lebih dan berhak lagi sombong dari diri saya yaitu Allah Swt dan saya sadar ketika Lemersing yang terhampar di hadapan saya menyadarkan diri saya, hati saya agar jauh (berusaha menjauhi) dari sifat sombong.

“Sombong adalah pakaian-Ku (Allah Swt) siapa yang sombong berarti telah merebutnya dari Ku” begitu yang disampaikan oleh sebuah hadis Qudsi”

Semoga bencana Galodo yang terjadi di ranah minang baru-baru ini menjadi pelajaran dan kita bisa mengambil hikmah dibalik bencana dan musibah yang terjadi, kita harus lebih arif lagi dalam mengelola alam dengan segala keindahannya yang telah memberikan kehidupan kita. Keindahan dan kehidupan itu adalah Lemersing dan juga “Lemersing-Lemersing” lainnya di ranah minang tercinta dengan bentangan alamnya mulai dari pantai sampai gunung dengan sungai-sungai,sawah lading, kolam, rawa-rawa dan danau-danaunya yang indah

Pekanbaru, 11 April 2008

Catatan : Saya dan Pak Emi mengelilingi Lemersing ini pada tanggal 21 dan 22 Maret 2008 perjalanan di mulai dari Sulit Air kampong Da Rainal, Ombilin Singkarak, Padang Panjang, Padang Luar, Matur, Maninjau, Batang Antokan, Lubuk Basung, Sitanang, Sitalang, Batu Kambing, Palembayan, Simpang Petai dan daerah-daerah pinggiran Kota Bukit Tinggi sepanjang Lemersing.
canduang-tampak-dari-kaki-snggalangSungai Tanang, Kampounag IffahKutunggui Sungai Tanang sumur hidupkuMerapi Singgalang Sabar Menanti

Satu Tanggapan

  1. Lebih kurang 1/4 abad hidup saya habiskan di kampung halaman, di Ranah Minang.
    Tidak ada kata lain yang ingin saya ucapkan, selain rasa syukur, bahwa saya tumbuh dan berkembang dari masa kecil hingga remaja di desa yang bernama Sungai Tanang.
    Masa kecil penuh dengan warna, pagi sekolah, siang bermain dengan teman sebaya mulai dari main petak umpet, galah sin, main lempar batu…, sore belajar agama di madrasah, kemudian dari magrib sampai Isya belajar mengaji di surau ketek (TPA).
    Waah…..bahagianya mengingat masa2 itu..
    Sepertinya sekarang dunia anak tidak seperti dulu lagi, sudah beda pastinya, dulu TV masih langka kalaupun ada cuma ada satu chanel TVRI. Jadi..ya gitu deh…anak2 lebih banyak aktivitas sosial dengan teman2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: