Penanganan Dampak Gempa Sumbar terkait Bangunan Tahan Gempa

Tulisan ini adalah berupa kutipan dari  presentasi nan SANGAR yang disampaikan oleh Pak Teddy Boen di Dirjen Dikti pada tangal 12 Oktober 2009.  diharapkan kita dapat memfoloow up butir2 ini demi ranah kedepan.

berikut ini adalah hasil search di Mak Google, siapa betul Pak Teddy ini. Salah satu yg tertulis di situs WHO:

“Teddy Boen, a structural engineer from Indonesia, is a senior adviser for the World Seismic Safety Initiative and a former director of the International Association for Earthquake Engineering. He has worked as a consultant for The World Bank, the United Nations and NGOs involved in reconstructing Aceh and Java.”

Berikut ini kutipan yang diambil dari milis SMA 1 bukittinggi:
Malam ini di Kantor Dirjen Dikti, Depdiknas, Bpk TEDDY BOEN, ahli gempa pertama di Indonesia selama 40 thn lebih, umur sekarang 75 tahun, yg selalu hadir paling lambat hari ke-2 disetiap lokasi gempa, telah membukakan mata kita akan beberapa hal paling penting:

1. Kenapa Masyarakat setiap ada gempa harus takut dan lari keluar rumah? Karena bangunan Rumah dan kantor kita tidak pernah dibuat TAHAN GEMPA dan certified… ! Baik bangunan yang egineered maupun non-engineered.

2. Gempa yang kemaren sebetulnya bukan kelas yang besar. Buktinya furnitur2 tidak banyak bergeser dari tempatnya semula. Bangunan kita ambruk karena “penulangan” konstruksi bangunan yang SALAH…!

3. Kalau dalam gempa hanya merusak rumah rakyat, kita bisa tenang2 saja. Sekarang menghancurkan bangunan publik dan MEMBUNUH ratusan manusia. Sehingga Kontraktor, Pemberi IMB, dll. HARUS DIUSUT TUNTAS…! Mobil aja nabrak manusia dan mati, sopirnya harus masuk penjara. Kenapa hasil kerja kontraktor yang mengakibatkan terbunuhnya ratusan orang kok didiamkan saja…?

4. Gempa adalah Mbah nya KPK. Krn bangunan yg di KORUPSI pasti akan hancur oleh gempa. Jadi setiap peran yang berindikasi mengkropsi proses pembangunan ini sudah selayaknya dituntut.

5. Puluhan tahun Indonesia dilanda gempa, kenapa tingkat kehancuran bangunan dan korban masih tetap tinggi? Kenapa tidak ada sertifikasi bangunan Tahan Gempa? Di Jepang lebih ganas2 gempa yang dialami jika dibanding dengan di Indonesia, tapi disana sangat minim kerusakan yang terjadi dan begitu jugoa korban jiwa manusianya? Sudah sepantasnyalah kita bertanya dipertanyakan kenapa di Indonesia begini?

6. Yang paling konyol menurut Pak Teddy, karena isu Urban, setiap orang yang merasa sudah maju ekonominya dan merasa sudah modern malah membangun rumah batu/semen yg tidak punya daya lentur dan fleksibilitas. Apalagi dibuat tanpa konsultasi dengan ahli bangunan tahan gempa. Justru bangunan yang dirancang NENEK MOYANG kita, dari kayu, bambu, dll. itu yg lebih tahan gempa…! Apakah masyarakat kita belum sadar juga bahwa kita hidup di
daerah gempa…? Masih perlu pembuktian apa lagi…?

7. Yang lebih tidak masuk akal lagi, hampir semua Kepala Daerah yg kena bencana gempa, selalu BANGGA benar dalam mengumumkan jumlah korban dan jumlah kerugian yang menimpa daerahnya. Pada hal, jika semakin banyak jumlah korban dan semakin besar kerugian, artinya Kepala Daerah tsb TIDAK BEKERJA dengan BENAR dalam pemberian izin-izin bangunan di daerahnya… ! Mereka tidak boleh cuci tangan mestinya. Kini sudah selayaknya aturan dan pelaksanaan aturan tersebut dikaji ulang kalau perlu ditata ulang.

8. Ada pernyataan birokrat kita dimana 80% bangunan Perkantoran dan Rumah yang rusak saat ini  harus dihancurkan semua, lalu dibangun baru, itu PENDEKATAN YG SALAH…! Tidak semua harus seperti itu. Mesti dipelajari dan diteliti satu persatu terlebih dahulu baru diputuskan tindakan apa yang akan diambil.

9. Ada lagi pendapat yang sangat merendahkan kemapuan bangsa sendiri, seperti “Pembangunan kembali dan  pendampingan pembangunan harus memakai tenaga asing supaya lebih aman”, ini adalah salah. Mau dikemanakan kontraktor dan tenaga ahli kita. Tanpa pendekatan, pemahaman dan melibatkan budaya dan orang lokal yang tidak dipahami oleh orang asing, maka pembangunan tersebut tidak akan berhasil. Banyak bangunan di Aceh dan Yogya yang akhirnya tidak mau dipakai oleh masyarakat. Ratusan milyar uang terbuang percuma. Sehingga langkah2 yang over reaktif dan langsung mempercayai dan main teken dengan asing yang diambil oleh salah satu Kepala daerah,
itu bisa sangat merugikan nantinya…

10. Pendekatan harus TOP DOWN dalam pemahaman aspek Bangunan Tahan Gempa ini. Mulai dari Gubernur, Bupati, Wali Kota, DPRD, sampai masyarakat bawah, HARUS PAHAM tentang BANGUNAN TAHAN GEMPA. Masalah disain dan bentuk, bisa saja berbeda satu sama lain. Tapi HARUS TAHAN GEMPA. Rumah ramah gempa  sudah banyak proto tipenya dan sudah banyak bangunan lama yang terbukti tahan gempa. Jika dua model ini digabungkan dan didesign melibatkan masyarakat setempat, maka akan menghasilkan rumah ramah gempa yang sekali gus diterima oleh masyarakat setempat.

11. Di Indonesia saat ini, BENCANA ALAM = PEMBUNUHAN MASSAL. Alam tak bisa dilawan. Tapi RESIKOnya bisa DIKURANGI… ! Tinggal kita harus menyadari dan merencanakan tindakan sesuai dimana bumi dipijak disanalah langit dijunjung. Harus disadari dengan baiak bahwa kita hidup dan berkiprah dialam yang bagaimana dan selalu siap dan terlatih atas semua yang mungkin terjadi.

12. Salah satu program terdekat, Pak Teddy Boen akan kita tampilkan di beberapa TV untuk diskusi MENGEDUKASI Masyarakat.. .!

13. Bahwa kurikulum Teknik Sipil di UNAND sudah seharusnya dirubah konsepnya. Sudah kuno kata Pak Teddy. Dan Pak Rektor tidak menampik sama sekali. Supaya kearifan lokal dan keadaan lokal betul2 dimasukan didalamnya.

14. Pendekatan implementasi rumah rakyat yang dibangun di Aceh yg disponsori oleh Bakrie, juga “dikuliti” oleh Pak Teddy. Akhirnya Uda Irwan terpaksa “buka kartu” yang akhirnya bisa kita pahami walau amat disayangkan uang milyaran yang telah tertanam disitu.

15. Banyak juga yang tidak tahu bahwa Pak Teddy hari ke-2 pasca gempa, sudah masuk kedalam RS Djamil Padang dan menyarankan agar klinik dan perawatan dilakukan kembali didalam. Beliau yang menjamin bahwa ruangan2 yang direkomendasikan itu tidak akan runtuh walaupun ada gempa susulan.

16. Pak Teddy heran, laboratorium alam Gempa Bumi di Indonesia sangat luar biasa sekali untuk dipelajari. Simulasi mesin di labor Universitas belum tentu sanggup meniru. Kenapa Mahasiswa dan ahli-ahli di Indonesia tidak pernah belajar dari situ…? Beliau punya ribuan foto2 lengkap tentang dampak gempa terhadap bangunan di berbagai tempat di Indonesia ini, hingga ke pulau2 terpencil sekalipun. Saya sangat kagum sekali dengan umur beliau yang sudah 75 tahun, masih ligat juga untuk bisa sampai ke daerah bencana Tandikek. Kata beliau, kalau mau tahu dan ingin belajar tentang gempa, paling lambat hari ke-2 anda sudah harus berada di lokasi sebelum bangunan-banguan tersebu dirusak atau dibersihkan.

17. Sudah banyak sekali gedung-gedung yang terkena dampak gempa yg menurut orang awam harus dirubuhkan, tetapi menurut Pak Teddy masih ada yang bisa diperbaiki dan tetap kokoh terkena gempa berikutnya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah PRINSIP KONSTRUKSI TAHAN GEMPA nya itu yang perlu kita perhatikan. Beliau juga menyampaikan beberapa alternatif RUMAH TRANSISI dan RUMAH PERMANEN yang murah dan tahan gempa untuk rakyat.

18. Buya HMA juga memberikan masukkan bahwa masyarakat Sumbar sangat berbeda dengan masyarakat Aceh dan Jawa. Sehingga inisiatif2 yang akan dilakukan di Sumbar, mestinya akan sangat lebih mudah jika mereka dilibatkan secara bersama.

19. Mulai ada kekhawatiran bahwa pendekatan2 yang dilakukan terhada masyarakat untuk bantuan saat ini, sebaiknya mulai dikoordinir dengan lebih baik. Kalau tidak bakal banyak dampak negatifnya dalam jangka panjang. Dan ini sangat serius…!

20. Semoga kegagalan-kegagalan penanganan pasca gempa di Aceh dan di Jawa tidak terulang di Sumbar. Perlu dukungan berbagai pihak segera dalam hal ini.

21. Hampir semua yg hadir sepakat bahwa Pak Teddy, teamnya Ir. Sutami yang membangun Gedung MPR/DPR ini, harus presentasi secepatnya di depan Gubernur, Bupati, Wako, DPRD, dan semua pengambil keputusan di Sumbar. Para Wartawan pun juga harus diedukasi untuk itu. Krn banyak isu-isu yg disampaikan di Media2 TV dan Cetak salah kaprah
dan memperburuk situasi karena kurang paham tentang aspek gempa. Yunofrins Napilus berciloteh: saya yang lulusan Geologi dan merasa “sedikit” tahu gempa, udah langsung “keok” ketika melihat pemaparan gamblang Pak Teddy”. Setidaknya dari sisi aspek bangunan, masukan-masukan beliau ini SANGAT PENTING utk diperhatikan. Kalau
aspek lain, sandang, pangan, dll. mungkin banyak lagi ahli yang bisa bicara untuk itu. Masih banyak lagi aspek lain yang perlu disikusikan mestinya untuk penanganan pasca bencana ini. Tapi tema tadi malam baru fokus ke aspek konstruksi bangunan dan pilihan bangunan pasca gempa, baik untuk perkantoran dan rumah rakyat agar tidak salah memulainya. Masih banyak asesment dan pemetaan kasus yang harus segera dilakukan.

Terima kasih skl lagi buat rekan Firdaus HB atas inisiatif ini dan juga inisiatif agar Pak Teddy bisa tampil di berbagai TV nantinya agar masyarakat teredukasi dg lebih baik. Semoga bermanfaat buat kita semua. Semoga Sumbar akan lebih baik…

Ada sekitar 20 orang yang hadir, beberapa diantaranya: Dirjen Dikti Fasli Jalal, PresKom Bakrie Irwan Syarkawi, Rektor Unand Prof. Musliar Kasim, Ketua MUI Sumbar Buya HMA, Ketua MAPPAS DR. Saafroeddin Bahar, Ketua IASMA 1 Bukittinggi DR. Masfar Salim, Brigjen. Mazni Harun, Ardius, Febrin, Abd. Hakam, Zaidir, Rahmat Zuhri, Yulfahmi Muslim, Nova Ardinal, Anita Subchan, Linda, saya dan Firdaus HB sbg inisiator dan pengundang.. .

Dikutip dari milis SMA 1 Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: