Sekolah Barat Pertama di Ranah Minangkabau

Dunsanak di palanta nan ambo hormati

Hari ini tanggal 1 April, 154 tahun yl. tepatnya tahun 1856 tercatat pada ephemerids www.nagari.org Sekolah Rajo (mencetak guru) diresmikan di Bukittinggi.

Kelak di kemudian hari sekolah ini membawa perubahan besar bagi masyarakat Minang Kabau khususnyo dan Indonesia unumnya. Membaca pengalaman De Stuers di Padang, maka kepada tuan Steinmez kita perlu berterima kasih.

<http://nagari.or.id/gbtambo/baris.gif>

Tahun 1825 – 1829 De Stuers pemimpin militer Belanda telah mendirikan sekolah untuk pribumi di Padang, tetapi tidak berhasil karena para orang tua tidak tertarik memberikan pendidikan model Barat kepada anak anaknya (sekolah tidak mendapat murid.)

1846 usaha merintis pendidikan model Barat bagi anak anak pribumi di darek diadakan sewaktu Steinmez menjadi residen. Ini dikerjakan atas inisiatifnya sendiri tanpa bantuan pemerintah.

Ketika itu semua biaya ditanggung oleh rakyat, dan yang mengajar ialah para pegawai pemerintah bangsa Belanda maupun Melayu, di bawah pengawasan orang Belanda. Rencana residen itu ialah mendirikan banyak sekolah yang mengajarkan menulis-membaca-berhitung, sedikit ilmu bumi, tetapi pelajaran agama dilarang sama sekali.

Pakaian secara Barat tidak diharuskan bagi para murid. Selanjutnya anak-anak diajarkan berpikir teratur, kebersihan dan tingkah laku yang baik. Batas umur tidak begitu ketat dan terbuka bagi setiap anak tanpa melihat kedudukan sosialnya.

Jadi, dibandingkan dengan di kota Padang, pendidikan di darek jauh lebih meluas, lebih demokratis dan populer karena rakyat diikutsertakan. Tidak mengherankan jika anak dari bovenlanden jauh lebih maju, lebih tekun, dan banyak yang berhasil, dibandingkan dengan saudara-saudara di daerah pesisir.

Setiap nagari diharuskan memberi bantuan pada sekolah sekolah yang ada di nagarinya. Hanya pakaian yang harus ditanggung orang tua masing-masing. Menurut catatan Steinmez untuk Gubernur Sumatra Barat bulan April 1846, jumlah murid yang diterima seluruhnya telah mencapai 416. Tetapi sayang 106 orang meninggalkan sekolah dengan berbagai alasan.

Yang betul-betul lulus berjumlah 75 murid dan kebanyakan dari mereka bekerja sebagai juru tulis di kantor-kantor pemerintah kelarasan, atau sebagai penilik pada perkebunan-perkebunan kopi.

Menurut laporan yang sama, pada waktu itu sekolah seperti itu telah banyak di kota dan desa-desa seperti (disusun menurut keberhasilannya): Bukittinggi, Bonjol, Sungaipua, Batusangkar, Puardatar, Buo, Singkarak, Payakumbuh, Maninjau, Sijunjung, Rao dan Solok. Sekolah di Payakumbuh tidak begitu pesat, karena para murid dari kalangan berada gampang sekali dapat istri dan kawin, sedangkan di Solok murid-muridnya terlalu kaku, demikian laporan itu melanjutkan.

Yang mendapat pujian, ialah anak Agam yang mencatat banyak kemajuan. Konon, pada hari-hari Minggu residen beserta nyonya mengundang murid-murid sekolah ke rumah mereka agar diperkenalkan “dengan cara hidup Barat”.

Di Padang sendiri, Jenderal Van Swieten sewaktu menjadi gubernur (1849 sampai 1861), berusaha pula untuk mendirikan sekolah seperti cara Steinmez dan 1 Januari 1853 sekolah dibuka di Padang.

Catatan: 1. artikel dikutip dari buku Sumatra Barat Plakat Panjang karangan Rusli Amran 2. Salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan manusia ialah rata rata lamanya rakyat menerima pendidikan.

3. Menjadi pertanyaan mengapa pemerintah RI di kemudian hari memindahkan pusat pendidikan ini ke kota Padang dari darek.

4. Keikutsertaan nagari mendukung pendidikan telah mengubah wajah Sumatera Barat 5. Para pemimpin masyarakat di ranah saat ini perlu banyak belajar dari tuan Steinmez guna menggerakkan anak nagari merubah nasibnya sendiri melalui pendidikan.

Salam

Abraham Ilyas lk. 64

www.nagari.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: