RN: 100 TAHUN SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA

100 TAHUN SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
SOSOK SEJARAH YANG NYARIS DITENGGELAMKAN
Ditulis oleh Teguh
Minggu, 03 April 2011 00:57

Sjafruddin Prawiranegara di-citrakan sebagai pemberontak, karena akhir 1950-an bergabung dengan gerakan PRRI. Ia dianggap “ber-khia-nat” pada republik, karena memimpin gerakan yang ditinta tebal pemerintah dan militer sebagai “pemberontakan.”

Ia lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911. Meninggal 15 Febru-ari 1989 pada umur 77 tahun di Jakarta. 28 Februari 2011 lalu, genap seratus tahun kelahirannya. Itulah dia: Mr Syafruddin Prawiranegara atau biasa juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara. Nama kampung kecil kelahirannya di Anjer Kidoel. Saat bocah, ia dipanggil “Kuding”.

Dalam garis keturunannya, me-nga-lir darah Banten dan Minang-kabau.
Perpaduan genetikal yang sempurna, tentunya. Buyutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan Raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Paderi. Ia menikah dengan putri bangsawan Banten, melahirkan kakeknya yang kemudian memiliki anak bernama R Arsyad Pra-wira-atmadja. Ayah Sjafruddin bekerja sebagai jaksa, namun cukup dekat dengan rakyat, dan karenanya dibuang oleh Belanda ke Jawa Timur.

Sebuah telegram penting dari Soekarno-Hatta tertanggal 19-12-1948. “Kami Presiden Republik Indonesia, memberitahukan bahwa, pada hari Minggu tanggal
19 De-sember 1948, djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas ibukota Jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat men-dja-lankan kewadjibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk mem-bentuk Pemerintah Darurat di Sumatera.”

Surat inilah menjadi titik penting perjalanan bangsa ini.

Sejarahwan Mestika Zed me-nyebutkan, dalam perjuangan ke-merdekaan Republik Indonesia, nama Sjafruddin Prawiranegara tak bisa dipisahkan dan dihilangkan begitu saja. Oleh banyak orang, Sjafruddin Prawiranegara disebut sebagai Presiden Kedua RI sebab telah menyelamatkan ‘napas’ In-donesia yang baru saja merdeka.

“Tapi, kita ini bangsa yang pelupa, tidak peduli dengan sejarah,” kata Mestika Zed kepada Haluan (26/2) di Padang.

Ironi Aktor Sejarah

Israr Iskandar, pengajar sejarah politik Universitas Andalas Padang menilai, sejarah tak hanya menam-pilkan kisah-kisah yang me-nye-nangkan, tapi juga kesedihan. Masa lalu bahkan tak jarang mewartakan ironi manusia yang berperan sebagai aktor-aktor sejarah. Salah satu aktor sejarah yang tak lepas dari ironi itu adalah Sjafruddin Prawiranegara.

Menurut Israr, Sjafruddin Pra-wiranegara berjasa menyelamatkan republik dari ambang rekolonisasi Belanda di masa revolusi fisik dengan memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), pemerintahan darurat yang “ber-pusat” di Sumatera Tengah. Tak terbayangkan, jika tak ada PDRI, apa jadinya Republik saat para pemimpin utamanya (khususnya Soekarno-Hatta) tak berkutik akibat ditawan militer Belanda.

“Jabatan Ketua PDRI yang diemban Sjafruddin Prawiranegara tentu setara dengan jabatan Pre-siden,” terang Israr kepada Haluan.

Masa pemerintahannya memang 209 hari saja, lebih pendek di-bandingkan masa kepresidenan Presiden BJ Habibie yang 518 hari atau Abdurrahman Wahid (642 hari), tapi nilai kontribusi Sjafruddin Prawiranegara tak kalah hebatnya, karena memimpin roda pemerintahan di saat keadaan amat genting. Oleh karena itu, jika dibuat ensiklopedi presiden-presiden Republik In-donesia, Sjafruddin Prawiranegara mestinya berada di urutan kedua, setelah Soekarno.

Israr menilai, Sjafruddin Pra-wiranegara kira-kira diasosiasikan dengan tokoh fundamentalis, se-paratis, dan sejenisnya. Sjafruddin juga tergambar sebagai tokoh sejarah yang “kritis” terhadap idiologi Pancasila, karena ia adalah salah satu dedengkot Masyumi, partai yang memperjuangkan dasar negara Islam pada sidang Konstituante 1950-an.

“Sjafruddin Prawiranegara bahkan kemudian dicitrakan sebagai “pem-berontak”, karena akhir 1950-an “bergabung” dengan gerakan PRRI. Peristiwa itu menjadi titik balik kiprah politik Sjafruddin Pra-wiranegara bersama beberapa de-dengkot Masyumi dan PSI lainnya. Ia dianggap “berkhianat” pada republik, karena memimpin gerakan yang ditinta tebal pemerintah dan militer sebagai “pemberontakan.”

Padahal PRRI tak bisa serta merta dituding sebagai makar tanpa memahami secara baik konteks setting sosial politik dekade 1950-an yang sudah melenceng jauh dari konstitusi masa itu.

Seiring perjalanan waktu, be-berapa tokoh besar masa lalu kemudian menerima perlakuan tak pantas dari rezim berkuasa. Se-bagiannya telah mengalami nasib tragis sejak masa Demokrasi Ter-pimpin, khususnya yang “terlibat”
PRRI/Permesta atau para penentang rezim otoriter itu.

Di samping Sjafruddin dan Natsir, perlakuan pahit misalnya juga dialami Sutan Sjahrir, bekas PM RI pertama, Sumitro Djojohadikusumo, salah satu “arsitek” PRRI, serta beberapa tokoh Masyumi dan PSI lainnya. Pola perlakuan semacam itu terus berlanjut ke era rezim berikutnya. Bahkan di era Orde Baru, Sukarno sendiri juga mengalami perlakuan tragis secara personal maupun terhadap peran historisnya.

“Begitulah, tidak adil jika melihat sejarah seorang tokoh atau pun rezim tertentu secara parsial. Tak ada tokoh yang benar-benar sempurna.
Ke-sempurnaan adalah hak milik Allah SWT,” tambah Israr.

Generasi Muda Kurang Mengenal

Banyaknya generasi muda yang tak mengenal tokoh perjuangan Sjafruddin Prawiranegara. Dan itu bukan saja terjadi di Jakarta atau kota-kota lainnya.
Untuk generasi muda atau pelajar di Sumatera Barat-yang negerinya identik dengan PDRI-juga banyak yang tak me-ngenal siapa itu Sjafruddin Pra-wiranegara. Kondisi ini tampak kian memprihatinkan.

Tidak hanya pada Sjafruddin Prawiranegara, terhadap tokoh-tokoh lain, penghargaan dinilai juga kurang. Realitasnya terlihat jelas ketika nama Sjafruddin Prawiranegara ditanyakan kepada siswa sekolah menengah.

“Sjafruddin Prawiranegara, wah, tidak tahu, Bang,” kata David, siswa SMK 5 Padang. Menurutnya, di sekolah memang ada pelajaran sejarah, tapi ia tidak begitu mema-hami.

Bagi David, pelajaran sejarah tidak semenarik pelajaran mem-bongkar mesin motor. Di-ban-dingkan-nya, ia lebih mudah me-ngi-ngat piston, shockbreaker daripada menghafal nama-nama pejuang.

Senada dengan David, Lusi, siswi SMU 12 Padang menyebutkan, tokoh pejuang yang paling mudah ia ingat adalah Soekarno-Hatta. “Dua nama itu sering disebut dan banyak dibicarakan, jadi mudah diingat,” katanya.

Menurutnya, agar nama Sjafruddin dikenal, media harus lebih banyak menyosialisasikannya. Seperti Soe-karno-Hatta disebut-sebut dan dibahas.

“Kalau di sekolah, porsinya tidak terlalu besar, makanya saya lupa,”
tuturnya.

Lain lagi Teddi, siswa SMU 6 Padang menyebutkan ia tidak suka menghafal.
Pelajaran sejarah, menu-rutnya, dititikberatkan pada hafalan. “Makanya saya lebih suka pelajaran Matematika karena tidak ada ha-falan–nya,” kata Teddi.

Dari beberapa siswa yang di-wawancarai Haluan, nama Sja-fruddin Prawiranegara memang tak dikenal luas. Bila ada beberapa siswa yang mengangguk, ia hanya tahu sebatas nama saja, minim tentang per-juangannya.

Sari misalnya, siswa SMU 2 Padang menuturkan, nama Sjafruddin Prawiranegara memang dimasukkan dalam pelajaran sejarah. Tapi yang ia ingat, gurunya mengatakan, “Syafruddin itu salah satu tokoh penting dalam pergerakan ke-merdekaan Indonesia. Dan saya tahu hanya sebatas itu.”

Minimnya pengetahuan sejarah diakui juga Mestika Zed. Ia me-nyebutkan, anak bangsa ini sudah kehilangan panutan. Tidak ada contoh atau model yang baik.
Di zaman sekarang, pemimpin sulit dijadikan contoh. Orang tua kadang juga tak mampu memberikan contoh. Akibatnya, generasi muda lebih memilih asik dengan dunianya sendiri ketimbang mencari contoh-contoh yang bisa dijadikan panutan.

“Maka jangan heran, siswa-siswa melakukan tawuran,” ujar pengarang buku PDRI ini.

Ada contoh di masa lalu, per-juangan Sjafruddin Prawiranegara menyelamatkan bangsa, yang se-mestinya diisi oleh generasi sete-lahnya dengan kegiatan pe-mbangunan yang positif, tapi karena tak biasa mencari panutan, generasi muda menjadi abai. (h/naz/adk)

Epaper Harian Haluan, Minggu 03 April 2011
http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=319
7:sosok-sejarah-yang-nyaris-ditenggelamkan&catid=46:panggung&Itemid=160

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: