65 TNI AU : FASE 1948-1949, Tanpa PHB AURI, PDRI Bisa Lumpuh

AGRESI militer pertama yang digelar militer Belanda, sepanjang 21 Juli 1947 sampai dengan 5 Agustus 1947, dua tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, dinilai gagal. Operasi yang menggunakan kode Operatie Product tak berhasil menduduki RI.

Setahun setelah itu, pada 19 Desember 1948, Belanda kembali menyerang RI dari udara dan darat, dan berhasil menduduki Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibukota RI. Penyerangan Belanda ini disebut dengan Agresi Militer II, atau disebut Operasi Gagak.

Kondisi Republik Indonesia genting. Akhirnya dilakukan upaya penyelamatan dengan membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara yang berpusat di Sumatera Barat. Rombongan PDRI inilah yang bergerilya dari satu lokasi ke lokasi lainnya dengan membawa berbagai peralatan komunikasi.

Sehari sebelum dilakukan penyerangan militer Belanda terhadap basis-basis pertahanan dan perjuangan bangsa Indonesia, 18 Desember 1948, di tengah masyarakat Sumatera Barat, beredar isu-isu bahwa Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta akan singgah di Bukittinggi dan akan mendarat di Lapangan Udara Gadut untuk selanjutnya akan menuju India.

Mendengar kabar itu, masyarakat kota dan sekitarnya pun berkumpul. Semenjak siang, warga tumpah ruah dari pagi sampai sore.
Namun Presiden dan Wakil Presiden belum juga muncul. Menurut Abdul Samad Bagindo Kayo, Ketua Yayasan Peduli Perjuangan (PDRI), saat bincangbincang dengan Haluan Rabu (6/4), mendekati tengah malam, sebuah pesawat jenis capung (pengintai), berputar-putar di atas langit Bukittinggi. Sebentar, lalu pesawat itu menghilang.

Abdul Samad yang hadir malam itu untuk menunggu kehadiran Soekarno dan Hatta, sudah mulai mencurigai bahwa pesawat yang melayang-layang itu, pesawat intai Belanda.

Ternyata kecurigaan itu benar. Subuh, saat remang-remang tanah, Belanda menjatuhkan bom di Kota Bukittinggi, bersamaan dengan penyerangan ibukota RI, Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Sasarannya utamanya Lapangan Terbang Gadut dan lokasi strategis lainnya di Bukittinggi. Tak ayal, pengeboman itu membuat kocar-kacir kompi udara yang berada di lokasi itu, termasuk “memaksa” rombongan PDRI yang mengambil alih sementara pemerintahan RI, beralih secara mobil ke Piobang di Limopuluh Koto.

Jumlah personil udara di Lapangan Udara Gadut saat itu, 75 anggota dengan persediaan senjata yang terbatas: 3 buah Raaf (senjata penangkis serangan udara), 60 unit kareben, dan beberapa senjata jenis pistol.

Dikisahkan Abdul Samad, sehari sebelum penyerangan udara Belanda terhadap basis-basis perjuangan rakyat Indonesia di Kota Bukittinggi, pada 18 Desember 1948, Opsir Moeda Oedara Jakob, telah memindahkan seluruh peralatan perhubungan (PHB) AURI dari Lapangan Udara Gadut ke Lapangan Udara Piobang.

Peralatan PHB AURI yang diungsikan itu terdiri satu set radio transmitter type MK-III yang ringan yang dipasang pada jeep willys milik OMO III Muhamad Sidik Tamimi, ada juga satu set radio transmitter type BC-610, dan satu set satu set radio transmitter type TCS-10, yang bisa memancarkan dan menerima, serta sebuah generator jenis H-I-Z.
“Dua orang tentara kita, Nazaruddin dan Madjid tewas di Bukik Kaluang, Kamang setelah dengan gigih mempertahankan basisnya dari serbuan Belanda,”
kata Abdul Samad.
“Keduanya dikuburkan di dekat bukit itu, tapi kini kondisi kuburan prajurit yang gagah berani itu, tak terawat. Tak ada tanda khusus bahwa itu kuburan dua orang pemberani. Pemerintah tak peduli,” tambahnya.

Kontribusi AURI

Sementara rombongan PDRI terus bergerak karena Belanda juga bergerak. Untuk Lapangan Udara Piobang, saat itu yang bertanggung jawab adalah OMO III Legino. Dari Piobang, rombongan PDRI dengan Ketua Sjafruddin Prawiranegara, dan 35 anggota AURI, juga di dalam rombongan ikui berjuang Wakil Kasau Opsir Oedara (OO) I Soejono, yang dalam susunakan Kabinet PDRI sebagai Kasau.”Tanpa peralatan perhubungan AURI, PDRI bisa menjadi tak ada artinya,”
tambah Nizar Sutan Palindih, pengurus Yayasan Peduli Perjuangan (PDRI), yang juga hadir dalam bincang-bancang di Kantor Haluan Tabiang.

Nizar mengatakan, I Soejono, yang nama lengkapnya Habertus I Soejono, saat PDRI itu sangat akomodatif. Perannya sangat strategis. Pada 22 Desember 1948, pascapengumuman PDRI, rombongan Sjafruddin Prawiranegara yang telah berada di Piobang terus berpindah-pindah menghindari sergapan pasukan Belanda dengan call-sign stasiun radio AURI “UDO”.

Sementara itu, kata Abdul Samad, radio transmitter type BC-610 yang dibawa OMO III Luhukay mundur ke Halaban. Karena telah dikepung Belanda dari berbagai sudut, agar radio tak jatuh ke tangan musuh, maka radio itupun dihancurkan. Ternyata Belanda urung menyerang.

Kembali ke Tabiang

Rombongan ini membawa tiga buah meriam PSU (penangkis serangan udara) 12,7 mm dan sepuluh pucuk karabijn dan alat PHB (satu set generator, radio transmitter type TCS-10 dalam kondisi rusak). Namun karena kondisi medan yang berat, rombongan ini akhirnya bergabung dengan pasukan angkatan darat di Suliki.

Dua hari beristirahat di Suliki, rombongan melanjutkan perjalanan ke Koto Tinggi. Di sini, rombongan bergabung dengan Gubernur Militer Sumatera Tengah Mr Muhammad Rasyid. Namun, Gubernur meminta PPP AURI untuk kembali ke Suliki memperkuat AD. Tak berapa lama, pada 20 Januari 1949, PPP AURI ini diminta Kolonel Dahlan Jambek, Panglima Komando Gerilya Daerah Kamang, 6 km dari Gadut, untuk membantu pasukan karena kuatnya Belanda menyerang.

Sarana PHB AURI dan awaknya tetap tinggal di Koto Tinggi. Sandi komunikasi waktu call-sign radio AURI “ZZ”. Tak berapa lama, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bidar Alam, Solok Selatan. Dari Bidar Alam, komunikasi terjalin dengan dunia luar dengan baik. Di stasiun radio tersebut, OMU III Dick Tamimi, OMU III Umar Said Noor, Serma Oedara Kusnadi, Sersan Oedara R Udojo dan Kopral Oedara Zainal Abidin, terus melakukan komunikasi dengan pihak-pihak luar.

Pada 13 Juli 1949, Mr Sjafruddin Prawiranegara sebagai Ketua PDRI menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno.
Sementara itu, pada 11 November 1949, seluruh pasukan AURI, baik yang bertugas di Parak Lobang, Halaban, Koto Tinggi, mau pun mobil radio transmitter yang menyertai rombongan PDRI, ditarik ke Pangkalan Udara Piobang, selanjutnya, 7 Desember 1949 dipindah ke Pangkalan Gadut Bukittinggi, pada 5 Januari 1950 ditugaskan di Pangkalan Udara Tabing Padang. (h/naz)

e-paper Harian Haluan SABTU, 9 APRIL 2011
Rantaunet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: