RN: ESAI “MEMBACA” NOVEL MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN – Menempatkan Pagaruyung sebagai Kerajaan Simbolis

ESAI “MEMBACA” NOVEL MAHARAJA DIRAJA ADITYAWARMAN – Menempatkan Pagaruyung sebagai Kerajaan Simbolis

 

Oleh INDRA J PILIANG

Sejarawan, Peneliti dan Politisi tinggal di Jakarta

 

SEBUAH novel menemani hari Sabtu dan Minggu saya. Novel yang ditulis oleh Ridjaluddin Shar itu judulnya panjang: “Maharaja Diraja Adityawarman:

Matahari di Khatulistiwa”. Selain itu terdapat tambahan keterangan lain:

“Sebuah novel historiografi mengungkap tambo alam Minangkabau dan kekuatan penguasa belahan barat imperium Majapahit”.

 

Novel setebal 678 halaman ini terbilang istimewa, karena mengungkapkan perjalanan pasukan Pamalayu Singosari ke Sumatera, hingga singgah di Dharmasraya. Selain itu, novel ini memuat kisah kehancuran Singosari, digantikan dengan perjalanan Majapahit.

Beragam kerajaan muncul dalam novel yang menceritakan suasana Nusantara pada abad ke 13 sampai abad ke 15 ini. Sejumlah tokoh juga hadir silih berganti.

Begitupun, novel ini berisi kisah peperangan, baik yang dilakukan secara brutal, sampai takluknya kerajaan demi kerajaan ke tangan Majapahit tanpa ada peperangan. Diplomasi dan strategi peperangan juga masuk, dibaluri intrikintrik dan kisah asmara.

 

Saya tidak ingin mempertanyakan sumber-sumber dalam dan luar negeri yang digunakan dalam novel ini. Bagaimanapun, sejarah abad ke-13 sampai abad

ke-15 hanya mengandalkan sejumlah dokumen, seperti Negara Kartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Selain itu mengandalkan candi atau arca berdasarkan penelitian arkeologis.

Kisah perjalanan Marcopolo, misalnya, juga digunakan sebagai rujukan. Kalau diletakkan dalam bingkai itu, yakni ilmu sejarah dan arkeologi, maka cerita lengkap abad ke- 13 sampai ke-15 itu tentulah sulit ditulis.

 

Makanya, ketika novel ini hadir, seluruh cerita historis itu muncul lebih hidup. Yang kita jadikan sebagai alat ukur hanyalah ilmu-ilmu sastra dalam menilai sebuah novel, bukan lagi ilmu sejarah. Bagaimana, misalnya, menjelaskan dialog antara Aditywarman dengan Kala Gemet (Jayanegara) sepupunya bahwa Gajah Mada adalah putra Melayu (Dharmasraya)? Yang jelas, seluruh bangunan novel ini berisikan beragam kepribadian tokoh-tokohnya, baik yang antagonis maupun yang protagonis.

***

 

Sebagai novel dengan judul Adityawarman, tentunya pihak yang muncul sebagai protagonis adalah tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Dharmasraya, baik Dara Jingga, Dara Petak (istri Raden Wijaya yang melahirkan Kala Gemet atau Jayanegara), Adityawarman, sampai mahapatih Gajah Mada sendiri. Namun, novel ini berhasil menghindari penghujatan atas riwayat seseorang, kecuali Mahapati yang kemudian menjadi Mahapatih di zaman pemerintahan Jayanegara.

Di dalam novel ini, Mahapati adalah sosok antagonis yang menyebabkan banyak kerusakan di tubuh Majapahit.

 

Tokoh-tokoh lain juga muncul dalam novel ini, yakni Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Keduanya adalah penasehat Kerajaan Dharmasraya yang diperintah oleh kakek Adityawarman, lalu selanjutnya diserahkan kepada Dara Jingga.

Belakangan, Dara Jingga mengundurkan diri, sehingga raja diserahkan kepada paman Adityawarman. Di masa tuanya, Adityawarman bersedia menjadi raja, setelah nama Kerajaan Dharmasraya berubah menjadi Swarna Bhumi. Yang paling akhir, nama Swarna Bhumi juga berubah menjadi kerajaan Pagaruyung, setelah dipindahkan ke Saruaso.

 

Kedua datuk itu adalah peletak dasar sejumlah “peraturan kunci” dalam adat dan budaya Minangkabau. Perdebatan kedua datuk ini, yakni Datuk Katumanggungan (laras Koto-Piliang) mendukung bentuk kerajaan, sementara Datuk Perpatih Nan Sebatang (laras Bodi-Chaniago) menolak bentuk kerajaan, masuk dalam novel ini. Kompromi tercapai dengan hanya meletakkan Kerajaan Pagaruyung secara simbolis dengan kekuasaan yang berbeda dengan kerajaan di tempat-tempat lain. Kalau dikaitkan dengan konteks sekarang, perdebatan antara sistem monarki dengan demokrasi sudah berlangsung lama di ranah Minang.

 

Muncul juga nama Bujang Salamat dan Alang Babega. Keduanya adalah sosok muda yang menaklukkan dua kerajaan besar di Singapura dan Thailand Selatan sekarang. Anak didik Adityawarman ini kemudian muncul sebagai orang biasa, mengikuti jejak tokoh-tokoh penting lainnya di Kerajaan Swarna Bhumi dan Pagaruyung. Sekalipun berilmu tinggi dan berpengalaman di lautan, tetap saja keduanya adalah anak-anak adat yang hanya ditinggikan seranting dan dimajukan selangkah di daerah asalnya.

***

 

Tentu saya tidak ingin menukilkan keseluruhan isi novel tebal ini. Yang pasti, Minangkabau adalah wilayah yang berbeda dengan wilayah lainnya.

Wilayah ini sulit dicapai oleh kerajaan-kerajaan dari “atas angin”, sebutan untuk Mongol, India ataupun China.

Sebaliknya, Minangkabau juga tak terjangkau oleh kerajaankerajaan di Sumatera ataupun Pulau Jawa. Sekalipun Majapahit setelah Hayam Wuruk sempat menyerang Pagaruyung, lewat Kiliran Jao, sehingga menghasilkan Padang Sibusuk (tempat timbunan mayatmayat), tetap saja Pagaruyung tidak mampu ditaklukkan.

 

Yang patut juga diulas adalah hubungan tali darah antara Pagaruyung (sebelumnya bernama Dharmasraya dan Swarna Bhumi) dengan Majapahit (sebelumnya Singosari). Dara Petak adalah istri Raden Wijaya yang melahirkan Kala Gemet. Sekalipun Kala Gemet tidak memiliki keturunan, jelas sekali selaksa (10.000) pasukan Pamalayu yang datang ke Dharmasraya sebagian berasal dari keturunan Singosari dan Dharmasraya. Soalnya, setelah lama tinggal di Dharmasraya, pasukan itu menjadi tua dan digantikan dengan pasukan yang lebih muda, ketika kembali ke tanah Jawa. Gajah Mada adalah satu di antara selaksa pasukan muda Pamalayu yang kembali itu. Gajah Mada berayah Singosari dan beribu Dharmasraya.

 

Novel ini mengingatkan betapa sejarah “tumpas kelor” (pembunuhan habis-habisan), terutama terhadap Nambi dan keturunannya di Lumajang, telah menjadi bagian dari sejarah (politik) kerajaan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Yang paling disentuh novel ini adalah tumpas kelor secara budaya atas artefakartefak yang berkaitan dengan hubungan antara Singosari dan Majapahit dengan Dharmasraya dan Pagaruyung. Nama Dara Petak sama sekali tak tertulis dalam Negarakertagama karangan Mpu Prapanca. Begitupula dengan arcaarca menyangkut Dara Petak, Adityawarman dan Gajah Mada. Proses penghilangan itu digambarkan secara baik dalam dialog-dialog dalam bagian akhir novel ini.

 

Sejarah Nusantara abad ke-13 sampai ke-15 adalah sejarah yang layak digali lagi. Bahkan sebelum itu, ketika Kerajaan Sriwijaya¬† menjadi negara maritim yang disegani dengan keberadaan pusat pengembangan agama Budha. Bahwa “Indonesia” zaman dulu adalah Indonesia yang sudah bersentuhan dengan beragam suku bangsa besar lainnya di dunia, termasuk kerja sama di bidang militer dan ekonomi. Kegagalan Gajah Mada menaklukkan Samudera Pasai, misalnya, tidak terlepas dari kelalaian memantau kedatangan armada Turki Utsmaniyah yang sedang patroli di Selat Malaka bersama armada Samudera Pasai. Tidak dilibatkannya Adityawarman dalam serbuan itu adalah sumber utama dari kegagalan Gajah Mada.

 

Dan yang lebih penting lagi adalah panjangnya usia Dara Jingga dan Adityawarman, dibandingkan dengan Dara Petak (adik Dara Jingga) dan putranya Kala Gemet (sepupu Adityawarman). Alam Minangkabau membuat kehidupan menjadi terasa seimbang, terutama ketika hukum-hukum kehidupan mengambil keselarasan dengan alam. Adityawarman adalah tiang pancang kearifan kepemimpinan Ranah Minang di abad ke-14.

 

E-Paper Harian Haluan, MINGGU, 19 JUNI 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: