RN: IDUL FITRI DAN TRADISI MINANG Mochtar Naim

IDUL FITRI DAN TRADISI MINANG

Mochtar Naim

1 Syawal 1432 H

M

ENGINGAT kembali tradisi Idul Fitri yang khas Minang untuk diceritakan secara hangat dan menarik di mimbar opini surat kabar “Haluan” ini, sekarang ini terasa tak lagi segampang seperti membalikkan telapak tangan. Mungkin keningnya harus dikerutkan dulu, dan telunjuknya harus dilekatkan ke kepala, mengingat-ingat masa lalu di mana tradisi itu masih kental Minangnya yang semua kita mengikuti dan menikmatinya, dan hanya kita.

Soalnya orang Minang yang hidup sekarang seperti saya juga dan semua kita bukan lagi hanya orang Minang saja lagi, tetapi dia dan kita adalah juga orang Indonesia dan bahkan orang moderen mancanegara yang sudah kejipratan oleh sekian banyak pengaruh-pengaruh luar lainnya dari manapun datangnya. Apalagi melalui bacaan dan media massa elektronik yang begitu beragam kita setiap hari disodorkan dan bahkan dicecar dengan bermacam informasi apapun yang sendirinya akan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap cara hidup dan cara bersikap kita. Cobalah kita tanya dan cek sendiri, apa yang khas Minang yang masih lekat di badan kita sekarang ini, walau kita secara sadar mengatakan bahwa kita adalah orang Minang? Kita barangkali akan heran sendiri bahwa apapun yang kita pakai dan lekatkan ke badan diri sendiri, baik berupa pakaian, perhiasan, dandanan, dsb, dari kepala sampai ke kaki, maupun dan apa lagi yang masuk ke kepala yang lalu membentuk kebiasaan dan tradisi dari cara hidup dan cara berfikir kita, kayaknya nyaris tak ada yang khas dan tipikal Minang lagi. Memang kita adalah orang Minang, tetapi kita adalah juga orang Indonesia dan orang dunia, yang kebetulan juga orang Islam.

Makanya di saat Hari Raya Idul Fithri seperti sekarang ini, kita keluar rumah dengan berpakaian bagus, dan baru, dengan harum-haruman, dan hiasan yang kentara, berbedakah kita dengan orang bukan Minang, baik di Minang di Sumatera Barat sendiri ataupun di rantau di manapun? Rasanya tidak. Kita adalah seperti kebanyakan yang lain-lainnya. Paling-paling, kalau sembahyang ke mesjid, kita pakai sarung dan kupiah, berjas atau berbaju koko, lalu berjilbab bermukena bagi yang perempuan, yang semua itu adalah barang jahitan bikinan perusahaan-perusahaan jahitan Sukabumi dan Cianjur, yang dijual di pasar Tanah Abang, yang pasarannya tersebar ke seluruh pasar di Indonesia ini. Hasilnya? Semua kita menjadi sama dan seragam atau beragam dalam keseragaman. Kalaupun akan makan dan menyantap apapun yang dimasak dan disediakan, semua sekarang telah menjadi sama, karena masakan khas Minang dengan rendangnya, dendeng baladonya, gulai tunjang, gulai paku kacang balimbiangnya, dsb, semua telah menjadi makanan dan masakan bersama orang Indonesia, bahkan mendunia. Dan makanan orang telah menjadi makanan kita pula.

Lalu sekali lagi, mana lagi yang khas tradisi Minang di hari suci bulan suci 1 Syawal 1432 H untuk kita kenang-kenang ini? Lagi-lagi kita mengangkatkan bahu, tanda tak tahu lagi mana yang khas Minang itu. Artinya, sejauh yang bisa dipandang mata, yang lekat di badan dan dibawa ke mana-mana.

Kita lambat-lambat, barangkali, baru bisa mulai merasakan kekhasan Minangnya itu kalau kita menyelinap masuk ke ruang dalam yang tak segera terlihat dari luar. Ruang dalam itulah yang masih berhubungan dengan ruang dalam masa lalu yang samar-samar memperlihatkan benang merah yang menyambung dan menghubungkan masa lalu dan masa sekarang yang merupakan satu jalinan keberlanjutan tradisi masa lalu dan masa sekarang.

Apa itu? Hal-hal yang lebih bersifat spiritual, filosofis dan kultural. Satu, sama dengan kita-kita yang dari Dunia Melayu lainnya, kita relatif masih kental Islamnya. Kalaupun ada satu-dua karena trisna, jatuh hati kepada lawan jenis dari suku lain yang beragama lain, lalu kawin atau dikawini dan pindah agama. Dan terjadinya di rantau tidak di kampung halaman sendiri di Sumatera Barat, di Minangkabau. Tapi berapa betul yang sudah kebacut atau kesengsem seperti itu, yang karena pujuk rayu, jatuh hati, atau apapun, lalu berpindah agama. Kalaupun ada, masih bisa dihitung dengan jari.  Keistimewaan orang Minang adalah ketaatan dan ketahanannya dalam bertahan pada agamanya, Islam. Dan ini terefleksi setiap kali kita berhari raya ber’idul fithri di hari seperti sekarang ini. Di kampung di ranah sendiri, dan pun di rantau sekalipun.

Dua, dalam ber’idul-fithri seperti sekarang ini, kita masih saja menginginkan, dan mendambakan, orang Minang akan bangkit kembali untuk memimpin negeri dan negara ini untuk menjadi negara baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, luar-dalam, lahir-batin, dan menyatu dalam kesatuan spiritual di bawah naungan Islam. Setiap muslim Minang memimpikan ini dan membersit setiap kali dalam mereka merayakan hari kemenangan ‘Idul Fihtri seperti sekarang ini. Yang terbayang oleh mereka adalah bangkitnya kembali Tamaddun Dunia Islam seperti di zaman keemasannya dulu, Makkah dan Madinah sebelumnya, Baghdad dan Kordoba, Kairo dan Istanbul sesudahnya. Dan sekarang mereka mulai melihat fajar kembalinya Tamaddun Dunia Islam Gelombang Ketiga yang bukan lagi fajar kadzib, tapi fajar shiddiq sudah. Mereka lihat itu.

Misalnya, siapa mengira dan menyana kalau sistem ekonomi dan perbankan syariah berbagi hasil secara adil tanpa riba dan bunga sekarang telah mulai memasyarakat dan muncul di seluruh dunia, menyaingi dan mengenyampingkan sistem ekonomi liberal-kapitalistik-pasar bebas yang menciptakan Dunia Ketiga yang tertindas dan diperas, dan Dunia Pertama mereka sendiri yang maju serba melimpah dan berkelebihan tetapi sekarang sudah mulai memudar dan menuju titik baliknya. Tak ada yang menduga bahwa sistem pendidikan Tarbiyah yang integral dan terpadu yang diangkatkan dari ajaran Al Qur’an juga mulai tersebar di Dunia Islam bahkan ke Amerika sekalipun di bawah arahan Da’i bule muallaf Dawud at Tauhidi dari Philadelphia (meninggal karena kanker tahun 2010 lalu). Sistem pendidikan integral terpadu ajaran Natsir yang dikembangkannya pertama kali di Bandung tahun 1930 dengan Sekolah Pendis (Pendidikan Islam) yang didirikannya, sekarang ingin kita kembangkan di tanah kelahirannya di ranah Minang Sumatera Barat dengan memulai membangun Universitas Mohammad Natsir yang berwawasan global secara terpadu bernafaskan ajaran tauhid sebagai think tanknya, untuk kemudian diterapkan dan disebar-luaskan ke seluruh Indonesia, Dunia Melayu dan Dunia Islam.

Tiga, generasi baru Minang mulai sadar dan menyadari bahwa masa sekarang dan ke depan, sedikitnya untuk tujuh abad ke depan dalam konteks Tamaddun Gelombang Ketiga Dunia Islam, adalah era mereka untuk kembali menjadikan Islam sebagai pegangan hidup dalam semua sisi kehidupan.  Dan mereka menginginkan dari masyarakat Minang di ranah dan di rantau akan muncul tokoh-tokoh pemimpin baru menggantikan yang korup yang menyalah-gunakan wewenang dan kekuasaannya sekarang ini.

Tradisi Minang dalam berhari raya Idul Fithri seperti sekarang ini kelihatannya telah berubah menjadi upaya kontemplasi memikirkan masa depan yang lebih baik bukan hanya untuk Minang dan Sumatera Baratnya tetapi untuk Indonesia dan Dunia Melayu serta Dunia Islamnya. Dan tradisi berfikir ke masa depan ini dimulai oleh generasi muda Minang yang menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin umat dan bangsa ke masa depan.

Dalam upaya berkontemplasi ke masa depan ini pada tempatnya kalau sayapun ikut menyampaikan “Selamat Hari Raya Idul Fithri, 1 Syawal 1432 H, serta mohon maaf lahir dan bathin.” Disertai dengan iringan do’a semoga generasi muda Minang siap menyiapkan diri untuk menjadi calon-calon pemimpin ummat dan bangsa ke masa depan dalam menuju Tamaddun Islam era Gelombang Ketiga sekurangnya untuk maasa tujuh abad ke depan. Amin! ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: